e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

Kesalahan Mengungkapkan Perasaan dalam Hati

Dalam mengarungi lautan cinta ada berbagai cara untuk mengungkapkannya. Cara orang dewasa mencintai pasangannya lebih bersifat menunjukan cinta tanpa banyak kata, lebih mengutamakan tindakan. Mengungkapkan cinta dengan pengabdian, pengorbanan dan perhatian. Sedangkan remaja mengungkapkan perasaannya lebih cenderung pada ungkapan kata-kata.

Bersyukurlah apabila cinta kita berbalas, sayangnya, sebagian orang mengalami cinta berpandang sebelah mata, cinta bertepuk sebelah tangan. Mungkin orang yang sudah dewasa beberapa dari kita mampu mencintai tanpa dicintai, mencintai tanpa memiliki. Boleh saja kita menghibur diri dengan kata ‘Cita tak harus memiliki’. Sejujurnya untuk menjadikan cinta itu sempurna, cinta itu harus memiliki. Namun apa daya harapan tak sesuai kenyataan. Dalam bahasa hukum, terjadi kesenjangan antara Das Sein (kenyataan yang terjadi) dan Das Sollen (apa yang dicita-citakan).

Ketika seseorang yang sudah dewasa cintanya yang dalam dan tulus bertepuk sebelah tangan, disitulah akan mengalami kegetiran hati. Hati menjerit, sendu mendayu, rindu mengebu, menangis pilu. Ketika itu terjadi, maka seseorang membawa pujaan hatinya ke dalam doanya, seringkali teringat dengan perlakuan orang yang dicintainya, meski perlakuannya buruk sekalipun tetapi tetap dicintai; seolah mata tak mampu melihat kekurangannya, telinga tak mampu mendengar keburukannya, hati selalu menilai dia sebagai yang terbaik. Sesungguhnya orang yang disayangi itu dipilih bukan karena wajahnya, perilakunya, kekayannya, tetapi dia itu pilihan hati. Itu sebabnya membuat hati dan pikiran seakan selalu dipenuhi tetang dia, seperti sebuah lagu ‘Ingat Kamu’; aku mau makan kuingat kamu, aku mau tidur juga kuingat kamu, aku mau pergi kuingat kamu. Oh cinta, mengapa semua serba kamu.

Parahnya lagi, kita menjadi sering mengungkapkan perasaan hanya dalam hati dan menyebut namanya, “Wi.. aku sayang banget sama kamu,tetapi kenapa kamu selalu mengabaikan aku, kenapa kamu tak pedulikanku. Andaikan saja kamu bisa merasakan apa yang aku rasakan. Aku ingin memeluk kamu, aku ingin menumpahkan rasa sayangku. Kamu tahu, banyak orang yang mendekatiku tapi aku tak membiarkannya, karena aku ingin memberikan sayang ini hanya untukmu, bukan yang lain.“ Begitulah misalnya. Kadang ungkapan dalam hati itu disertai linangan air mata. Kita tak mengerti kenapa orang yang paling kita sayang adalah orang yang paling sering membuat sedih. Namun biasanya disertai rasa bahagia sesudah menitikan air mata apabila cinta kita tulus, karena cinta yang murni takan pernah tersakiti.

Ketika kita merindukan orang yang kita sayangi, pikiran tak bisa mengajak hati berkompromi. Meski pikiran berusaha melupakan orang yang kita cintai, namun hati tetap memanggil namanya, “Wi, aku kangen kamu! Aku ingin bertemu denganmu, walau itu hanya dalam mimpi.” Jeritan hati kita ketika rindu kelabu menggelayut dalam relung hati.

Seringkali ketika kasih tak sampai, cinta bertepuk sebelah tangan, kita terbawa perasaan pada apa yang kita saksikan, terbawa perasaan film yang kita tonton, lagu yang kita dengarkan, sehingga kita teringat dengan orang yang kita sayangi meski dia membawa luka dalam hati. Tentu hal yang demikian menambah kesedihan kita; ikut menitikan air mata ketika menonton film yang mirip dengan kisah cinta kita. Demikian pula ada perasaan nyesek ketika mendengarkan lagu sendu. Misalnya lagu ‘Ayah’, aku ganti menjadi ‘Kasih’.

“Dimana, akan kucari. Aku menangis seorang diri, hatiku selalu ingin bertemu. Untukmu aku bernyanyi. Untuk kasih tercinta, aku ingin bernyanyi, walau air mata di pipiku. Kasih dengarkanlah. Aku ingin berjumpa, walau hanya dalam mimpi.”

Mungkin kita akan merasa lemah, kenapa tak bisa berpaling mencintai yang lain, mengapa merindukannya, kenapa mesti menangisi orang yang menyakiti kita. Menangis sama sekali bukan wujud kelemahan kita, baik bagi laki-laki maupun perempuan. Dalam ilmu psikologi, justru orang yang tak bisa menangis adalah orang lemah. Jika seseorang mudah menangis bahkan dalam hal kecil, berarti dia tulus dan berhati lembut. Orang yang demikian biasanya penyayang terhadap sesamanya dan pada mahkluk lain.

Pengalaman-pengalaman menangis karena cinta, barangkali belum bisa dirasakan kalangan anak muda yang baru menapaki cinta, yang sebenarnya baru sebatas cinta monyet, belum sampai pada cinta sejati, cinta yang murni. Cinta sejati umumnya baru kita rasakan setelah dewasa. Cinta yang demikian jarang terjadi dalam hidup kita, bahkan langka. Hanya cinta yang dipilih hati yang mampu membuat kita merasakan cinta yang sesungguhnya.

Katanya, ketika kita mencintai seseorang dari dalam lubuk hati maka orang lain akan menerimanya dengan hati. Dengan kata lain, cinta kita akan dirasakan dalam hati orang yang kita sayangi. Mungkin benar, tetapi aku belum bisa membuktikannya.

Setelah aku pernah mengalami cinta begitu dalam terhadap seorang gadis, terpaut usia 10 tahun dan perbedaan lainnya. Aku menyadari ada beberapa kesalahan yang aku lakukan, terutama salah mengungkapkan perasaan dalam hati. Yang sering aku lakukan, aku hanya mengungkapkan perasaan sayang, perasaan rindu, tanpa disertai perintah.

Kalau kita cermati ilmu guna-guna, ternyata isinya sebagian besar adalah perintah. Dan perintah itu kata-kata yang biasa kita gunakan dalam sehari-hari. Hanya sedikit terkandung kata magis didalam sebuah mantra guna-guna. Oleh karena itulah bila mengungkapkan rasa sayang dan rindu dalam hati sertakan kata-kata yang bersifat perintah.

‘’Aku kangen banget sama kamu. Aku ingin kamu ada di sampingku.” Setelah mengungkapkan rasa rindu dalam hati dengan nada melow, sedih. Kemudian tambahkan kata-kata perintah, misalnya; Ih kamu, namamu.. (sebutkan), aku mengingat wajahmu (bayangkan wajahnya). Ketika aku mengingatmu, kamu akan rindu padaku, karena aku tampan seperti sang Arjuna. Ketika kamu mengingatku, kamu gelisah, kamu sedih, karena aku ada dalam pikiran dan hatimu. Atas karunia Tuhan semoga terjadilah demikian.

Demikian pula ketika kita mengatakan rasa sayang dalam hati, sertakan pula perintah agar dia sayang pada kita.”Aku sayang banget sama kamu, kamu sayang gak sama aku. Kenapa kamu tak pernah mempedulikanku.” Biarkan hati kita sedih sejenak, lalu sertakan sebuah perintah. “Ih kamu, namamu.. aku mencintaimu. Dan kamu harus mencintaku karena aku layak bagimu. Hatimu dan hatiku adalah satu. Dalam hatimu ada aku. Tumbuhlah benih-benih cinta dalam hatimu. Atas kehendak Tuhan, terjadilah demikian”

Barangkali kedengarannya lucu, tetapi bila kita memahami keuatan pikiran, hal demikian tak mustahil akan terjadi. Hal-hal seperti itu sebenarnya sesuatu yang masuk akal, dalam dunia modern disebut sugesti; perintah. Ketika kita hanya memerintah diri sendiri bahwa ‘kangen sama dia, sayang sama dia’, tentu kita akan mngalami keadaan itu; kangen sendiri, sayang sendiri. Ketika kita sertakan sebuah perintah, ada dua kemungkinan yang akan terjadi; perasaan kita hilang atau perasaan kita bertemu dengan perasan dia.

Kita juga sering mengutuk diri sendiri dalam hati, seperti; aku miskin, aku menderita, aku bodoh, aku jelek. Lalu apa yang terjadi? Hal itu berpeluang besar terjadi dalam hidup kita seperti apa yang kita ungkapkan dalam hati. Oleh karena itu kita perlu memandang hidup dari sisi positifnya. Misalnya katakan dalam hati; sejelek-jeleknya orang, pasti ada yang mengagumi. ‘Ternyata aku ganteng ya. Aku pasti layak untuk cewek cantik’. Menyanjung diri sendiri dalam hati itu penting, asalkan jangan diungkapkan di hadapan orang lain. Dan jangan pula sesekali meremehkan orang lain meski dalam hati. Kalau tanpa sadar meremehkan orang lain, sebaiknya memohon maaf dalam hati, disertai menyebut nama suci Tuhan.

*Renungan setelah galau bertahun-tahun karena cinta

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts