e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

Bukan Aku atau Kamu yang Luar Biasa Tapi Cinta

Pernah gak kamu-kamu mencintai seseorang sangat dalam, rasa yang dimiliki sepenuh hati diberikan pada dia. Seolah-olah dia begitu luar biasa dalam hidup kita. Ungkapan itu seperti sebuah lirik lagu, 'Kau begitu sempurna, di mataku kau begitu indah.'

Sepintas kita berpikir bahwa orang yang kita cintai itu luar biasa, begitu sempurna. Akan tetapi setelah direnungkan dalam-dalam, mulailah merasa diri sendirilah yang luar biasa bisa mencintai seseorang dengan tulus, tidak marah dicaci maki, tetap sayang meski diabaikan, tak pernah berpaling ke lain hati meski begitu banyak orang yang lebih baik dari dia, selalu menginginkan kebahagiaan dia, padahal kita sendiri menderita karenanya.

Ketika kita menyelami sampai yang paling dalam, kita akan melihat bukan kita yang luar biasa, bukan aku atau kamu, tetapi ada kekuatan lain diluar pikiran sadar kita, yaitu cinta, cinta yang murni, cinta yang tulus.

Untuk memahami hal itu mungkin perlu sebuah contoh seperti yang pernah aku alami. Aku mencintai seorang gadis yang mampu membuatku berderai air mata, dia tak bisa membuatku benci meski dia sering menghinaku, belum mampu berpaling darinya meski sudah hampir 4 tahun lamanya. Gara-gara dia aku jadi jomblo selama 4 tahun, padahal sebelumnya paling lama jomblo 6 bulan, dan biasa mendua. Apakah dia luar biasa?

- Pendidikan, dia belum tamat smk. Aku pernah menjalin hubungan dengan mahasiswi, tapi tidak mampu membuatku tergila-gila.
- Wajah, jujur saja wajah memang oke, tapi aku pernah punya cewek lebih oke dari dia. Cewek itu tidak mampu juga membuatku cinta mati.
- Kasta, dia orang biasa sama seperti aku. Pernah juga punya cewek berkasta, tapi gak bisa membuatku berderai air mata, hanya saat berpisah saja ada perasaan sedih. Sedangkan dia sekarang, kangen saja bisa membuatku menitikan air mata.
- Harta, memang saat ini keluarganya lagi mujur, bisa dibilang berada. Tapi aku mencintai cewek tak pernah mengharapkan atau menginginkan kekayaan cewek. Malahan merasa terhina jika misalnya keluarga pihak cewek memberi kita uang. Oleh karena itu aku lebih suka cewek dari keluarga pas-pasan daripada cewek dari keluarga berada.

Dari kenyataan itu, tidak ada sesuatu yang luar biasa, tapi karena hadirnya cinta yang murni semuanya menjadi luar biasa. Bukan dia atau aku yang luar biasa, tapi cintalah yang luar biasa.
 ----

Salahkah Menuliskan Nama Orang yang Disayang pada Benda Milik Kita?

Ada perasaan terenyuh ketika membuka sebuah lembaran buku bagus; Dasar-Dasar Ilmu Hukum. Disana ternyata aku pernah menyelipkan sebuah memori cinta antara aku dengan seorang gadis yang kini telah menikah.

Cinta itu bisa mengubah segalanya
Dari benci menjadi cinta
Dari sayang menjadi benci
Sungguh aneh tapi nyata
Walau demikian
Aku tak berharap kita berpisah
Selalu ingin bersamamu
Untuk selamanya.
I Love You Full, Des*.
I Ketut Merta Mupu – Gusti Ayu Des* Liana Sar*.
Galungan, 14 -10-2009.

Itu kata-kata tertulis pada bagian depan buku itu dan juga bagian belakang tertulis sebuah untaian kata yang tak perlu aku tulis. Dalam buku bahasa Indonesia untuk perguruan tinggi juga terdapat untaian puisi tentang dia.

Selain Des*, cewek yang pernah kuperjuangkan dalam hidupku, namanya Dew*. Nama dia tak ada tetulis dalam benda-benda milikku, tetapi dia tertulis dalam sebuah cerpen yang sempat terpublish di media online, tapi akhirnya aku menghapusnya gara-gara sering cekcok dengan cewek itu setelah berpisah. Cerpenku ini dibaca banyak orang, puluhan ribu pembaca (klik).Banyak yang berkomentar bahwa dia ikut menangis baca kisahnya. Wong saya menuliskannya bersimbah air mata.

Cewek yang banyak kuabadikan namanya di buku, namanya Wid* An*. Mulai dari buku penting higga buku novelet, seperti buku Filsafat Hukum, Teori Hukum, dan lainnya. Hanya saja kata yang menyertai sedikit. Misalnya pada buku ‘Bila Anda Menghadapi Perkara Pidana’, aku menulis namanya pada buku itu, ‘Aku merindukanmu, Wid* An*. Denpasar , 1-12-2014’.

Kata – kata yang serupa untuk mengabadikan namanya, banyak kutulis pada novelet (novel mini). Terdapat 11 novelet tertulis nama dia. Misalnya pada novelet berjudul ‘Salahkah Aku Mencintaimu’. Di dalamnya aku mengabadikan namanya, ‘Kau yang terbaik peri kecilku, Wid* An*. Denpasar, November 2013.’ Pada novelet ‘Manisnya Cinta Pertama’ aku menuliskan namanya ‘Tetesan air mata cinta untukmu, Wid* An*. Akasia, November 2014.’

Mungkin karena kita terlalu berharap memiliki orang yang kita sayangi agar bisa bersama selamanya,kita mengabadikan namanya seakan tak akan berhenti mencintainya. Namun kenyataannya cinta pasti akan berakhir. Lebih-lebih berakhir dengan cara tak elok, besar kemungkinannya kita akan menyesal di kemudian hari. Oleh karena itulah, sebaiknya kita tak perlu mengabadikan nama orang yang disayang pada benda milik kita, kecuali kita benar-benar sayang sehingga suatu saat tak akan menyesalinya. Itu pun jangan sampai menuliskan namanya pada tatto yang permanen.

*Terlintas dalam benakku, apa yang akan terjadi jika suatu saat untaian kata itu ditemukan istriku kelak (Kalau menikah sih!). Pengen menghilangkan namanya tetapi kasihan bukunya bila dirobek.

0 Komentar:

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts