e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

Bhatara Satiman

Dalam ajaran Veda Tuhan dinyatakan tak berwujud (Nirguna Brahman) sekaligus berwujud (Saguna Brahman). Tuhan tak berwujud dikatakan berada di mana-mana, meresepi semua yang ada, tidak berubah, tak terpikirkan. Meski demikian, ia juga berwujud sebagai yang tertinggi. “Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, yang lebih agung daripada semua kepribadian lainnya, dapat dicapai oleh bhakti yang murni. Walaupun Beliau berada di tempat tinggal-Nya, Beliau berada di mana-mana, dan segala sesuatu berada di dalam Diri-Nya. (Bhagavad Gita VIII.22)

Tuhan berwujud dalam konsep Siwaistik di nusantara beliau disebut sebagai Sadha Shiwa yang adalah Mahadewa, Dia adalah dewanya dewa, yang dipuja oleh para rsi di surga, para dewa, dipuja jin setan, iblis, dan dipuja para leluhur beserta mahkluk surga dan neraka lainnya. Di alam rohani terdapat pemerintahan alam semesta; ada dewa sebagai yang tertinggi yaitu Tuhan, ada raja, pejabat, hakim, prajurit, penari, tentu rakyat (roh). [Keto kone ,menurut para rsi yang mampu jalan-jalan ke dunia lain]

Konsep pemerintah di alam semesta itu juga ada dalam konsep berketuhanan masyarakat Bali, dimana keberadaan Tuhan di Bali layaknya sebuah pemerintahan. Ada rajanya, ada dewa-dewi, ada prajurit, ada rakyatnya, yaitu para leluhur. Di Bali Tuhan biasanya disebut Sanghyang, misalnya Sanghyang Tunggal (Yang Esa), Sanghyang Parama Kawi (pencipta tertinggi), Sanghyang Parama Wisesa (penguasa tertinggi), dan yang paling lumbrah Sanghyang Widhi (Yang Gaib). Sedangkan dewa-dewi lebih umum disebut Bhatara-Bhatari atau Ratu, dan leluhur biasanya disebut sesuunan (junjungan). Akan tetapi kadang di masyarakat dicampur adukan, dianggap sama saja.

Dalam masyarakat Songan, terdapat konsep ketuhanan yang mulai dilupakan generasi sekarang akibat telah dijejali dengan konsep ketuhanan yang ada dalam Veda, meski esensinya sebenarnya sama. Konsep tersebut adalah Bhatara Satiman. Ternyata kata Satiman ini merupakan singkatan, bukan setiman (empat ppuluh lima). Singkatan tersebut berasal dari ‘Sa’ Sanunggal, Ti’ Tiga, dan ‘Man’ Manca.

Sanunggal yaitu Ratu Sakti Nunggal = Ratu Sakti Duuring Akasa. Kemungkinan yang dimaksud Ratu Sakti Nunggal adalah Sanghyang Tunggal, hal ini bisa dilihat dari kedudukan-Nya sebagai yang tertinggi. Dapat dikatakan beliaulah sebenarnya dianggap sebagai Tuhan di Songan.

Tiga yaitu Bhatara/Ratu Tiga : Ratu Sakti Pura Kangin (Pr Ulundanu), Ratu Sakti Maduwe (Pr Njung Songan/Gowa Song), Ratu Sakti Makulem (Pr Yeh Panes).  Bhatara Tiga ini dalam konsep Veda disebut Tri Murti, akan tetapi puranya tidak di Kahyangan Tiga, ketiga bhatara ini memiliki pura masing-masing. Kenapa demikian? hal ini kemungkinan akibat datangnya konsep desa pakraman dengan kahyangan tiga yang datangnya belakangan pada abad ke X, ketika penyatuan antar sekte oleh Mpu Kuturan. Atau kemungkinannya pembuatan Kahyangan Tiga baru ada setelah keberadaan desa Pakraman Songan, dimana untuk mendapat pengakuan sebagai desa Pakraman, wajib memiliki Kahyangan Tiga. Sehingga keberadaan pura untuk pemujaan Bhatara Tiga ini tidak diakomodir atau tidak dimasukan sebagai Tri Murti, sehingga munculah pemujaan Bhatara Tiga dan Tri Murti, meski sebenarnya adalah sama.

Manca. Bhatara lima atau Manca. Ini sama dengan Panca Dewata dalam konsep ketuhanan Hindu Bali secara keseluruhan, dan puranya pun sesuai dengan arah mata angin, yaitu Ratu Kangin (Pr Jro Kemulan), Ratu Wy Penyarikan (Pr Yeh Panes), Ratu Kauh (Pr Tringan), Ratu Wy Madya (Pr Kayuselem), Ratu Ngurah (Pr Rt Pasek/Pr. Banjar Lusu).

Selain bhatara Satiman, masih ada banyak ratu. Katanya, menurut raja pini ada banyak ratu, sekitar 30an lebih (jumblah persisnya baca Raja Pini). Dan masing-masing dadya atau merajan agung memiliki sesuunan yang merupakan leluhurnya.

Praktek pemujaan dalam masyarakat Bali secara umum lebih cendrung pemujaan kepada dewa-dewi, bhatara-bhatari, dan kepada leluhur. Demikian pula yang terjadi di Songan, pemujaan kepada leluhur dan ida bhatara lebih diutamakan. Meski demikian, menurut aturan Dharmasastra menyatakan bahwa, dalam melakukan pemujaan kepada leluhur maupun dewa-dewi wajib didahului dan diakhiri pemujaan kepada Tuhan. Hal ini oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia dikonsepkan dengan Kramaning sembah.

Dalam kramaning sembah, sembah pertama merupakan penyucian rohani dan jasmani atau jiwa dan raga. Barulah pemujaan kepada Tuhan (sembah kedua), yaitu pemujaan kepada Sang Hyang Shiwa Raditya sebagai saksi pemujaan dan persembahan. Lalu sembah ketiga pemujaan kepada yang akan dipuja, baik leluhur maupun dewa-dewi, dan sembah keempat merupakan sembah permohonan. Sedangkan sembah terakhir merupakaan pemujaan kepada Tuhan yaitu sebagai dewa Suksma (dewa yang paling berkuasa, yaitu nama lain dari Tuhan Shiwa dalam konsep Siwaistik). Banyak orang yang beranggapan bahwa sembah terakhir ini sebagai ucapan terima kasih ‘Suksema’, padahal Suksma yang dimaksud dalam sembah itu bukan terima kasih melainkan pemujaan kepada Tuhan sekali lagi.

Kembali ke topik, dari bhatara-bhatari atau Ratu yang ada dalam Raja Pini tersebut, masing-masing ida bhatara memiliki Tapakan (Pedasaran). Dengan kata lain, masing-masing Ida Bhatara harus ada yang ‘ngiringang’ atau ada yang menjunjungnya. Orang yang ngiring pekayunan Ida Bhatara ini disebut jero dasaran.

Yang menjadi pertanyaan, kenapa jero dasaran atau yang ngiringang itu masing-masing ratu itu banyak? kenapa tidak cuma satu saja masing-masing Ida Bhatara, misalnya Ratu Nengah satu orang, ratu wayan satu orang, demikian juga Ratu lainnya.

Ada dua kemungkinan, pertama karena memang kebutuhan. Artinya, di seputaran masing – masing wilayah di Songan ada orang yang ngiringang ‘Ratu’ agar kalau Ida katuur (mendapat persembahan Yadnya) tidak satu orang saja yang ditunjuk, apalagi wilayah desa Songan itu cukup luas, bisa dibayangkan betapa repotnya orang yang ngiringang bila hanya ada satu orang saja yang menjadi jero dasaran ratu Wayan, ratu Nengah, dsb.

Alasan kedua, jero dasaran cabul. Hal ini bisa kemungkinannya terjadi, dimana seseorang yang ngiringang pekayunan sudah leteh karena melanggar tata-titi sebagai jero dasaran, misalnya bagi yang belum menikah jadi jero dasaran melakukan hubungan seks di luar perkawinan, yang sudah menikah suka berselingkuh, makan makanan sembarangan, tidur sembarangan, dan pelanggaran lainnya, seperti suka mencuri, suka mefitnah, bahkan melakukan kejahatan kejam seperti aborsi. Perbuatan-perbuatan demikian mengakibatkan ida bhatara tidak berkenan sehingga mencari tapakan yang lain, mencari yang masih suci. Mungkin ini juga sebabnya kenapa sekarang banyak anak kecil menjadi jero dasaran, akibat banyak jero dasaran cabul. Ini hanya pemikiran nakal saya.

 Mencegah Anak Jadi Jero Dasaran

Beberapa masyarakat Songan mulai mempertanyakan keberadaan Jero Dasaran yang usianya semakin muda dan jumblahnya semakin banyak. Ada apa gerangan?

Kalau kita hitung-hitung secara serampangan kira-kira yang jadi Jero Dasaran 50 % lebih, yang lainnya Jero Mangku sekira 10%, Dewa Kembar 5 %, Jero Balian 4%, Jero Peduluan 1 %, sisanya masyarakat biasa yang tidak jadi jero.

Dari jero-jero yang ada, Jero dasaran paling mendominasi, diikuti Jero Mangku, lalu Dewa Kembar, terakhir Jero Balian. Sedangkan Jero-Jero yang duduk dalam sistem pemerintahan adat (peduluan) itu memang keharusan, seperti Jero Kraman, Jero Nyarikan, Kubayan, dan lain sebagainya. Demikian pula halnya dengan Jero Mangku. Hal tersebut karena setiap ada pura, dewa hyang, dewa kembar, wajib ada pemangkunya. Sehingga kenyataan ini tak perlu dipertanyakan. Yang sering tak masuk akal adalah keberadaan Jero Dasaran dan Dewa Kembar. Sedangkan Jero Balian masih wajar-wajar saja, karena yang menjadi Jero Balian sedikit, masih menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.

Kenyataan ini saya pernah saya tanyakan ke bapakku, ada apa di balik fenomena orang jadi Jero Dasaran semakin banyak dan semakin muda? Memang tidak bisa dipungkiri bahwa jadi jero dasaran itu memang sebuah kebutuhan, dan memang sebagian orang benar-benar ‘Kajumput’ oleh Ida Bhatara untuk ngiring pekayunan Ida Bhatara. Tetapi kemungkinannya, banyak juga yang hanya ikut-ikutan; misalnya takut anaknya tak sembuh-sembuh atau bahkan takut anaknya meninggal pada usia muda sehingga lebih baik dijadikan Jero Dasaran ketimbang anaknya hidupnya sengsara bahkan meninggal. Sebagaimana kita ketahui seseorang yang akan menjadi Jero dasaran pasti didahului sakit, sakit-sakitan, bahkan buduh alias gila.

Untuk mencegah menjadi orang yang hanya ikut-ikutan menjadikan anak sebagai Jero dasaran atau takut anaknya kenapa-kenapa bila tidak dijadikan Jero dasaran, kira-kira hal di bawah ini perlu direnungkan atau setidaknya dipertimbangkan;

Pertama, anak yang lahir eteh-etehnya dilengkapi, termasuk pada saat sang istri hamil (klik di google Tapa Brata Wanita Hamil), demikian ketika anak sudah lahir; ari-arinya diberikan upakara sebagaimana yang tertuang dalam Kanda Pat Rare dan Lontar Usadha Wong Beling. Demikian pula upacara lainnya sebagaimana mestinya seperti; adanya pelangkiran, kepus pungsed, 3 hari, 42 hari, 3 bulanan, otonan, dst. Dalam masyarakat Songan,kalau kita perhatikan pada umumnya yang kurang mendapat perhatian pada saat istri hamil dan penanaman ari-ari.

Kedua, Mandeg Semaya. Mandeg semaya ini berpedoman pada ilmu perbintangan yang tertuang dalam Lontar Wraspati Kalpa. Dalam lontar ini menyebutkan ciri-ciri sakitnya seseorang, waktu sakitnya dan upacaranya berdasarkan hari kelahiran anak.

Kalau kita cermati waktu sakitnya seseorang berdasarkan hari kelaharian, seperti; lumangkang; awal digendong, ajejalan; baru belajar berjalan, acacawet; pertama bisa memakai pakaian sendiri, menek kelih; rikala uning nyledet anak len, masomahan, maduwe putra, maduwe cucu. Hal tersebut tersebut tergantung hari apa lahirnya seseorang.

Oleh karena itu, bila anak kita sakit tak kunjung sembuh padahal sudah berobat ke dokter, lihat dulu sakitnya apa, cocok apa tidak dengan mandeg semaya-nya. Jika ternyata mandeg semaya, buatkan upacaranya. Bila ternyata tidak, barulah lari ke solusi akhir, jadi Jero Dasaran. Ini pun bila memiliki ciri-ciri melik untuk memastikannya atau biar yakin sepenuhnya.

Ketiga, anak dibersihkan dengan upacara pawintenan Saraswati, terutama ketika anak mulai sekolah. Sehingga secara spiritual anak disiapkan menerima pengetahuan, lebih-lebih pengetahuan suci.

0 Komentar:

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts