e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

Berebut Adik Kecil

Waktu itu, upacara di pura Kawitan Kayuselem masih berlangsung. Malam harinya hampir setiap hari aku selalu nongkrong di rumah nenek dia. Hal itu terjadi karena dia membantu neneknya jaga warung. Kalau dipikir pakai logika sebenarnya aku malu, namun muka ini tebal berlapis-lapis karena cinta yang tak pernah terajut, yang selalu mekar dalam lubuk hati. Hati selalu menyuruhku untuk selalu hadir disana hanya untuk melihat wajah dia, dia yang selalu aku dambakan, yang selalu kuharapkan kehadirannya.

Hal lain yang kuharapkan kehadirannya selain dia adalah adiknya yang masih berumur 3 tahun. Anaknya lucu, ganteng, pokoknya ngegemesin. Aku memperlakukan adiknya seperti memperlakukan keponakanku, bahkan aku menganggapnya seperti adik sendiri. Anak ini pertama kali aku gendong waktu dia berumur beberapa bulan dan pertama kali aku mengendongnya aku bisikan gayatri mantra pada telinganya, dan mendoakannya agar bisa ‘akur’ bila bersamaku. Hal itu aku lakukan agar suatu saat aku tetap sayang padanya meski seandainya aku berhenti mencintai kakaknya. Hal itulah yang terjadi sampai saat ini, kadang aku kangen sama anak itu. Selalu ingin menggendong dia meski kini sudah besar, sudah bisa membedakan mana keluarganya mana bukan.

Psikologi lelaki yang telah melewati usia 25 tahun memang berbeda, dimana kadang rindu ingin memeluk anak kecil, merindukan kehadiran seorang anak. Seperti itulah yang aku rasakan. Setiap aku ada di rumah neneknya, aku selalu mengajak dia bermain, menggendongnya tanpa malu, padahal anak itu bukan keluargaku pula. Apa yang dia minta aku belikan. Bahkan sengaja aku membawa uang lebih untuk membelikan adik kecil mainan. Tidak ada maksud mencuri perhatian kakaknya, tapi aku memang sayang sama adik kecil, tulus menyayanginya, seperti tulusnya cintaku pada kakaknya meski diabaikan bahkan diremehkan bertahun-tahun.


Menjelang malam aku sembahyang di pura Kayuselem sendirian, tak seperti anak muda lainnya sembahyang membawa pasangan walau belum menikah. Sebenarnya itu hal yang kurang baik karena ada motif terselubung dibalik niat sembahyang. Bila seseorang belum menikah seharusnya sembahyang bersama keluarganya, bukan dengan pacar, dengan cara itu karunia dewa pasti diperoleh. Kalaupun tak bersama keluarga, sebaiknyalah bersama teman yang bukan pacar untuk mengurangi niat terselubung seperti pacaran yang dapat mengurangi pahala dari sembahyang itu.

Meski sembahyang sendiri tanpa kehadiran keluarga maupun teman, aku tetap membawa ‘banten’ seperti layaknya orang yang sudah berkeluarga. Banyak anak muda merasa malu dan gengsi bila masih muda sembahyang membawa banten. Hal ini terkadang menimbulkan pertanyaan, tujuan kita datang ke pura untuk apa sih? rindu pada teman ataukah rindu pada Tuhan? Bila niatnya sembahyang tentulah tidak merasa malu membawa banten ke pura karena itu memang kewajiban, sebagaimana amanat Bhagavad Gita.

Pura ini mengingatkanku pada doaku dulu. Di awal aku mencintai dia, aku pernah memperkenalkan dia kepada dewa, kepada leluhur, bhatara-bhatari, bahwa aku tulus mencintainya dan berharap suatu saat bisa bersatu dalam ikatan keluarga. ‘Ratu bhatara, leluhur titiang sareng sami. Kalaulah aku dengan dia berjodoh, biarlah cintaku selalu untuk dia dan agar aku tak mencari gadis lain. Bila dia bukan jodohku, jauhkanlah kami. ’ Suara sendu dalam lubuk hatiku itu hampir membuat air mata berlabuh. Tumben-tumbennya aku memperkenalkan wanita kepada dewa. Sebelumnya aku tak pernah sembahyang bawa-bawa nama seorang gadis meski sudah berkali-kali pacaran, baik serius maupun cinta monyet. Dia satu-satunya wanita yang benar-benar kuharapkan kehadirannya dalam hidupku.

Semenjak aku berdoa seperti itu sampai saat ini aku tak pernah bisa mencari gadis lain, tak bisa mencintai wanita lain meski sudah berusaha mengalihkan perasaan ini pada wanita yang lebih cantik, lebih berkelas, namun setiap aku berencana mendekati wanita lain hatiku terasa perih, seakan aku takut meninggalkan dia. Ada rasa sedih bila aku harus berhenti mencintai dia. Kesiab-kesiab bayune setiap ada teman mencarikan cewek, tak rela berpaling. Itulah perasaan teraneh yang aku miliki, kenapa mesti sedih mencarikan dia pengganti? Sudah sewajarnya aku mencari yang lain, sebab dia tak mencintaiku meski sudah aku perjuangkan selama 3 tahun lebih. Mungkinkah doa itu mengikatku?

Kembali ke cerita awal. Seusai sembahyang aku nongkrong di warung neneknya. Banyak orang belanja dan lalu lalang hendak sembahyang meski hari telah berganti malam. Aku bertemu adik kecil, lalu menggendongnya kesana kemari. Aku ajak dia lihat-lihat mainan di beberapa tenda orang yang jualan mainan anak-anak di area sekitar pura. Banyak yang dia minta tapi mainan yang diminta sudah dibelikan kemarinnya, baik yang aku belikan maupun yang dibelikan keluarganya. Adik kecil ngambul gara-gara bilang sudah ada mainan di rumahnya. Dia nangis, kemudian aku ambilkan mainan yang diminta tadi, tapi dia tak mau. Semua ditolak.. Akhirnya dia minta dibeliin bola balon. Mungkin karena gak mau dibelikan yang harganya mahal, dia jadi minta yang paling murah.

Setelah dibelikan dia senyum-senyum dan minta diajak ke kakaknya. ‘Nenang Wi wis, nenang Wi..’ ujarnya dengan suara menggemaskan, layaknya anak kecil yang baru belajar berbicara. Lalu aku mengiyakannya. Sampai di rumah neneknya adik kecil aku lepas dan berlari ke rumah neneknya.

“Hey.. ngapain lagi bawa mainan, mainan sudah banyak, lagi beli. Buang bolanya” Tiba-tiba ayahnya memarahinya. Adik kecil lalu bergegas lari masuk ruang tamu neneknya. Disana ia kena damprat, dimarahi kakaknya dan sepupunya, lalu dijewer sama tantenya. Bola yang dibawanya dilemparkan sama kakaknya. Kemudian datang neneknya, kirain mau diambil malah ikut-ikutan memarahinya hingga adik kecil menjerit menangis. Sedih aku melihatnya. Dalam hatiku tersinggung adik kecil diperlakukan seperi itu hanya karena aku membelikan mainan, meski aku menunjukan sikap biasa saja. Ada rasa marah. Lalu aku memanggil adik kecil.

“Tut, sini sama Bli’ ujarku. Dia langsung beranjak melompat ke dalam pelukanku. Lalu aku membelai lembut rambutnya, ‘’Dimarahi ya dek? Diam ya.’ ujarku sedih. Aku tak rela melihat adik kecil menangis dan diperlakukan kasar. Seperti orang tidak berpendidikan memarahi anak kecil dengan kasar. Anak kecil di bawah lima tahun itu tidak boleh dididik dengan kekerasan, karena hal itu akan membuatnya menjadi orang temperamental setelah dewasa, tidak memiliki rasa kasih sayang terhadap sesamanya, dan bahkan anak bisa menjadi bodoh. Anak balita sudah seharusnya diperlakukan layaknya seorang raja, disayangi, karena selama anak masih kecil dewa Kumara menjaganya. Bila ia diperlakukan kasar maka para malaikat pada menjauh, sehingga dikemudian hari anak mudah diganggu roh-roh jahat. “Asuhlah putra dengan cara memanjakannya sampai berumur lima tahun, memberikan hukuman-hukuman selama sepuluh tahun berikutnya. Kalau ia sudah menginjak umur enam belas tahun didiklah ia dengan cara berteman.“ (Canakya Niti Sastra III.18)

Setelah adik kecil diam, entah apa yang ada dalam pikiran kakaknya, tiba-tiba memandangku dengan tatapan tajam, si cantik seram juga kelihatannya. Lalu dia merampas adiknya driku dan mendapratku, “Ngapain kamu sayangi adik aku.. kamu sayangi aja adik kamu. Kita kan sama-sama punya adik” ujarnya beringas.

Terkejut dibuatnya, tumben dia berani bicara dihadapanku. ‘Ganas juga nih cewek’ kicau suara hatiku. Sesaat sempat membuat suasana menjadi tegang, keluarganya yang hadir terdiam semua melihat sikap si cantik berebut adik denganku . Meski dia beringas seperti itu aku tetap diam seribu bahasa. Pura-pura sibuk nonton TV. Biarkan dia ngomel-ngomel sendiri. Tak ada gunanya melawan cewek marah, pasti bakalan reda sendiri. Lagi pula aku sayang pada adiknya atas dasar ketulusan bukan karena mencintai kakaknya. Dewa itu maha tahu, perhatianku pada adik kecil murni karena sayang bukan mengharapkan perhatian kakaknya.

Tak lama kemudian adiknya diajak pergi ke rumahnya, dan aku tetap nonton TV di rumah neneknya hingga tengah malam, kemudian pulang setelah bosan nonton. Sampai di rumah jadi kepikiran dengan kejadian tadi, kata-katanya masih terngiang-ngiang di telinga. Dari apa yang dia katakan itu menunjukan kalau dia melarangku dekat dengan adiknya. “Apa aku harus berhenti menyayangi adik kecil?” pertanyaan itu muncul berulang kali. Dan mulai timbul benih-benih kebencian pada dia, tetapi setelah direnungkan untuk apa marah sama dia, mungkin benar apa yang dikatakannya, ‘Kenapa aku menyayangi anak kecil yang tak ada hubungan keluarga.’

Hari berganti, pagi-pagi aku bertemu dia di jalan, sama-sama bawa motor. Dia terlihat tegang melihatku, sedangkan aku biasa saja, setelah lewat aku malah tertawa sendiri ingat dengan kejadian kemarin. Kuanggap kejadian kemarin sesuatu yang menyenangkan dan seru, yang layak kukenang dalam hidupku. Malam harinya aku lagi muncul di rumah neneknya dan melihat dia sedang makan, dan sengaja aku berjalan di depannya, mungkin dia berpikir kalau akan kapok datang ke rumah neneknya, tapi sory lah ya. Malahan aku ingin membuat dia merasa kalah, barangkali dia berpikir, ‘Tengal sekali ni cowok’.

Setelah upacara Kayuselem selesai , datang tante-tante ke rumahku. Ibu itu marah-marah ke kepadaku, ‘Dik, kenapa kamu diam dibegitukan waktu ini sama cewek itu. Kalau tante jadi kamu, sudah kuguna-guna dia biar tergila-gila’ ujarnya dengan nada tinggi. Mendengar kata-katanya itu aku malah tertawa, ‘Huahaha.. biarkan saja ’

Percakapan itu didengar sama ibu, ’Siapa yang gituan anakku Mbok?” tanya ibuku, wajahnya terlihat memerah. “Cewek itu loh.. padahal tampangnya biasa-biasa saja tapi sok berlagak” jawabnya. Lalu tante itu menceritakan kronologi kejadian beberapa hari lalu. Ibu tak terima anaknya diperlakukan seperti itu, dan ibu memarahiku untuk berhenti mengejar dia. Ternyata bagi keluargaku kejadian itu cukup membuatnya merasa terhina, padahal aku sendiri merasa biasa saja.

Semenjak kejadian itu, keluargaku berusaha mencarikanku jodoh di keluarga besar. Sempat juga hampir mau dijodohkan, sudah ketemu beberapa cewek yang menurut keluargaku pantas bersanding denganku. Mungkin kalau aku sudah benar-benar bisa menghilangkan perasaanku pada dia yang selalu kuharapkan, aku tinggal memilih gadis yang diinginkan keluarga. Namun hatiku tak bisa dibohongi, cintaku selalu ada untuknya, entah sampai kapan. Bingung aku!

0 Komentar:

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts