e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

Aneh, Sudah Meninggal Metipat Bantalan (Mejauman), Kenapa?

Suatu hari, pagi-pagi buta ada keluarga datang nunas tamba (berobat non medis). Yang sakit seorang gadis, sakitnya seperti ‘kerasukan’. Si sakit selalu bilang ‘Ratu bhatara, aku memohon kehidupan (nunas urip), jangan ambil nyawaku, aku masih ingin hidup’. Hal itu membuat keluarganya kawatir, takut bila anaknya benar-benar akan meninggal. Kemungkinan yang kerasukan melihat keluarganya yang sudah meninggal datang menjemput.

Setelah bapakku sembahyang, katanya ada sabda dari alam gaib bahwa si sakit seperti itu akibat neneknya yang sudah meninggal belum melaksanakan upacara metipat bantalan. Setelah diberitahu demikian, keluarganya berjanji akan melaksanakan apa yang diberitahukan itu. Setelah berjanji demikian, gadis itu langsung mulai baikan. Kemudian diobati oleh bapakku, lalu gadis itu sadar. Menurut keluarga si gadis, sudah pernah berencana membayar hutang neneknya untuk metipat bantalan, tetapi karena cuntaka desa, sehingga batal melaksanakan upacaranya.

Sebelum gadis itu sakit, katanya ada keluarganya yang mimpi membuat tipat. Dan juga pernah merasa takut seperti ada kehadiran mahkluk yang tidak terlihat. Ada juga yang mimpi didatangi laki-laki tua, tetapi tidak diketahui siapa lelaki itu. Menurut penglihatan bapakku yang datang itu kakeknya (istri dari nenek yang belum metipat bantalan).

Hal yang menarik dari kasus ini, kenapa orang yang sudah meninggal meminta upacara metipat bantalan? secara logika tentu hal ini tak masuk akal dan aneh. Sebagaimana umumnya upacara metipat bantalan dilaksanakan pada saat upacara pernikahan, pada saat hidup.

Dalam masyarakat seringkali terjadi hal-hal aneh seperti itu (ada banyak kasus yang serupa), apa yang seharusnya dilaksanakan semasih hidup tetapi tenyata dilaksanakan sesudah mati dan (meminta bantuan) dilakukan oleh anak cucunya.

Siang harinya saya ngobrol ngalor ngidul terkait dengan hal-hal aneh yang sering terjdi dalam masyarakat yang tak masuk akal tetapi sebenarnya itu sebuah kebenaran yang dapat dijelaskan secara logis. Seperti kasus di atas, orang sudah meninggal tetapi melaksanakan upacara metipat bantalan.

Sebagaimana diketahui, upacara metipat bantalan merupakan rangkaian terakhir dalam pernikahan hukum adat Bali. Disebut metipat bantalan karena pada proses ini keluarga pihak laki-laki mebawa tipat (ketupat) dan bantal (jajan Bali berbentuk bantal mini) diberikan pada keluarga pihak perempuan, disertai banten atau upakaranya. Istilah Metipat Bantalan ini umum dikenal di Bali tengah seperti Bangli dan Bali Timur, sedangkan di tempat lain seperti Bali Selatan disebut Mejauman (Mejauman Ngaba Tipat Bantal).

Kata mejauman berasal dari kata jaum yang memiliki arti jarum. Jadi diberi nama mejauman dengan makna untuk merajut atau menyatukan kembali. Sementara itu Mejauman Ngabe Tipat Bantal adalah acara penjamuan keluarga pengantin wanita terhadap kedua pengantin baru, yang juga dihadiri oleh keluarga dari pengantin pria. Mejauman ngabe tipat bantal biasanya dilakukan beberapa hari setelah pesta pernikahan digelar. Acara mejauman ngabe tipat bantal juga terdapat upacara mejauman yang dilakukan untuk memohon pamit kepada kedua orang tua, sanak saudara serta para leluhur dari keluarga pengantin wanita, mulai saat itu pengantin wanita telah resmi menjadi bagian keluarga besar pengantin pria. (Dikutip dari situs Manten House). Ketika pengantin baru ini melaksanakan mejauman tidak boleh menginap di rumah keluarga pengantin perempuan.

Tipat yang digunakan pada saat mejauman adalah tipat sirikan. Menurut blog Serba Serbi Hindu, Banten Tipat Sirikan ini umumnya dipergunakan untuk upacara "Mejauman", yaitu pada waktu upacara perkawinan. Yang mana mempelai wanita berpamitan kehadapan leluhurnya dan sanak saudaranya (lbu, Bapak, kakak, adik, misan, mindon, tetangga dan sebagainya). Dan terutama sekali kehadapan para leluhur yang telah tiada. Karena biasanya pihak keluarga mempelai wanita sudah mempersiapkan banten untuk mepamit di Sanggah Kemulan (Merajan) dan di Bale Peyadnyan, maka pihak mempelai pria cukup hanya membawa banten tipat sirikan ke rumah mempelai wanita. Banten tipat sirikan ini sering juga disebut banten 'Tipat Bantal’. Karena yang paling dominan pada banten ini adalah tipat sirikan dan bantalnya (maksudnya jajan bantal). Bahan-bahannya terdiri dari: keben (dipersiapkan 10-12 buah, tipat sirikan (untuk 1 keben 1 kelan, 6 biji), jajan bantal (untuk 1 keben 1 kelan, 6 biji) kue apem, pasung, jajan seserod, jajan kelepon, kue lapis dan sebagainya. Bisa juga ditambah lagi dengan jajan-jajan modern, dan wajib disertai canang raka atau canang sari.

Dalam prakteknya dalam masyarakat ada beberapa perbedaan, namun esensinya sama. Contoh misalnya di desa Batur, metipat bantal diwajibkan apabila menikah berbeda desa. Di desa Songan, tidak pandang beda desa, beda sanggah, upacara ini wajib dilakukan setiap pengantin.

Dulu dan sekarang juga ada sedikit perbedan. Jaman dulu waktu saya kecil, tipat dan bantal yang dibawa bisa sampai satu kwintal untuk menjamu seluruh keluarganya, bahkan ribetnya lagi mengunjungi setiap rumah keluarga pengantin perempuan. Sekarang telah disederhanakan dengan mengumpulkan keluarga, lalu dibagikan tipat bantal, cukup satu biji saja setiap orang yang hadir, terutama keluarga dekat.

Dari uraian tersebut jelaslah bahwa metipat bantalan tersebut dilaksanakan bagi mereka yang baru menikah dan masih hidup, akan tetapi fakta terjadi di lapangan adakalanya dilakukan oleh mereka yang sudah meninggal, kenapa bisa demikian?

Ada dua hal utama penyebabnya, pertama memang orang yang telah meninggal tersebut betul-betul belum pernah melaksanakan upacara metipat bantalan, sehingga bersangkutan memiliki HUTANG. Kedua, katanya dulu banyak pengantin melaksanakan tipat bantal hanya membagi-bagikan tipat bantal mentok tanpa disertai banten atau upakaranya, tidak matur piuning, tidak disertai pejati. Sehingga secara niskala statusnya belum melaksanakan upacara tipat bantal. Bila meninggal, maka statusnya memiliki HUTANG belum melaksanakan upacara tersebut.

Dalam kasus ini, esensi dari permasalahannya adalah memiliki hutang, bukan persoalan pelaksanaan upacara Metipat Bantalan. Jangankan hutang berupa upacara, hutang berupa uangpun wajib dibayar anak cucunya, dengan kata lain meninggalkan warisan berupa hutang yang harus dibayar. Kalau tidak dibayar, maka sengsaralah hidupnya di alam sana sehingga ngrebeda (mengganggu) anak cucunya.

Bersyukur masyarakat Bali masih banyak yang mampu berbicara dengan roh orang yang sudah meninggal, kalau tidak bisa-bisa seseorang menderita tanpa tahu darimana sebabnya, seperti sakit tak kunjung sembuh, mendapat musibah bertubi-tubi meski sudah taat sembahyang, melarat terus menerus meski rajin bekerja, dsb.

NB: Saya pernah baca pengalaman orang Islam yang bermimpi didatangi kakeknya yang sudah meninggal meminta sesuatu (sesajen), setelah dipersembahkan apa yang diminta, anaknya yang awalnya sakit tak kunjung sembuh menjadi cepat sembuh. Padahal, menurut kepercayaan mereka, tak dibenarkan adanya sesajen. Dan orang yang meninggal dipercaya berdiam di alam kubur hingga hari kiamat.

0 Komentar:

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts