e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

Aku Perkenalkan Dia pada Tuhan

Tadi di tempat kerja aku dicekcoki pola pikir yang sempat membuatku goyah akan keyakinan tentang cintaku padanya. Teman-temanku begitu gencar mengolok-olok rasa sayang yang aku miliki untuk pujaan hatiku. Mereka menyarankan untuk membuang jauh harapan palsu atau ngarep terhadap cewek yang sering aku ceritakan. Katanya, aku lebih baik mencari cewek yang mencintaiku juga daripada mencintai seorang gadis yang tak mencintaiku, bertepuk sebelah tangan.

Memang aku terima pendapat mereka, dan memang demikian seharusnya. Namun entah kenapa hal itu membuatku sedih, membuat pipiku terasa merah, bahkan aku hampir menitikan air mata, tetapi aku malu. Aku tahan air mata itu, tak ku biarkan ia berlabuh memabasuh pipi. Aku berhenti membahas soal asmara, mereka tak mengerti apa yang aku rasakan, mereka tak tahu bagaimana keyakinanku tentang cintaku padanya.

Sudah tiga tahun lebih lamanya aku mencintai dia sedangkan dia tak mencintaiku, namun tak jua aku berhasil mengubur perasaan ini, padahal biasanya mudah bagiku melupakan orang yang disayang. Keadaan ini diluar logikaku.

Sudah sederet wanita aku rayu, telah banyak gadis digodai, bahkan sudah banyak wanita yang aku abaikan hanya karena rasa sayangku pada dia. Namun nyatanya mereka yang aku rayu, yang aku goda tak bisa menghiasi hidupku, hanya gadis pujaan hati yang selalu menghiasi pikiran. Sikapnya yang jutek, selalu cuek, tak pernah mau disapa, sikapnya itu selalu membayang-bayangi pikiranku. Mungkin benar, sebanyak apapun wanita yang dilirik lelaki tetapi hanya wanita yang bertahta dalam singgasana hatinya yang selalu diingat dalam pikirannya. Itulah yang aku alami.

Setiap wanita pasti ingin dicintai dengan tulus, mendapat cinta dari lelaki benar-benar dari hati. Namun kenyataan pahit harus aku alami, dimana gadis lain tak kunjung mendapat cinta yang tulus dari seorang lelaki, sedangkan dia yang aku sayang sudah aku berikan hatiku sutuhnya, hingga berkorban mengabaikan gadis lain yang mampir ke dalam hatiku, akan tetapi dia mengabaikanku, dia cuek, bahkan dia pernah memilih lelaki lain. Sungguh dia gadis yang tak tahu diuntung! Kadang hingga aku berpikir bahwa lelaki tak perlu tulus mencintai seorang wanita, lebih baik memiliki cinta lebih dari satu.

Setiap aku memikirkan untuk mencintai gadis lain, hati terasa pilu sendu mendayu, aku sedih. Seringkali air mata ini hendak menepi ke tepian membasuh pipi saat membayangkan tak lagi mencintainya, mencari penggantinya. Perasaan yang tak pernah aku mengerti, semua diluar logikaku.

Sudah beberapa kali aku berbohong pada dia, juga pada ibunya bahwa aku sudah memiliki pacar lain atau bahkan mengaku mau menikah. Semua itu aku lakukan supaya aku terlihat kuat, tetapi nyatanya selalu membuatku sedih.

Pernah suatu waktu sembahyang bersama sekaa truna truni (STT), dia juga ikut sembahyang bersama, sedangkan aku pura-pura dekat dengan cewek lain, bahkan duduk pun selalu mepet dengan cewek itu, ingin membuat dia cemburu. Waktu itu dia tepat duduk di depanku, kesempatan itu tak aku sia-siakan, aku ngobrol dengan cewek di sampingku bahwa ‘aku akan menikah enam bulan lagi dengan seorang gadis yang sudah kelas tiga SMA. Aku ingin menikahinya karena gadis yang aku sayang tak mencintaiku, lebih baik memilih gadis lain meski berat aku lakukan’. Entah dia dengar atau tidak, tapi sepertinya dia mendengarnya.

Hal itu seharusnya membuatku bahagia berhasil membohongi dia tetapi nyatanya tidak. Setelah pulang dari sembahyang, aku roboh di tempat tidur. Sungguh sedih aku membohongi dia, bahkan aku tak ingin bangun dari tempat tidur dari jam setengah lima sore hingga esok paginya.

Entah perasaan apa yang aku miliki untuknya, semenjak aku mencintai dia baru tahu arti cinta yang sebenarnya. Pada umurku yang sudah seperempat abad + 2, aku belum pernah memiliki keyakinan tentang cintaku seperti ini. Dimana dia menjadi harapan terbesarku untuk menjadi pendamping hidupku.

Boleh tidak percaya pada omonganku, tetapi buktinya sudah tiga tahun aku bisa bertahan mencintai dia tanpa dicintai. Bahkan sejak awal aku mencintainya, aku memperkenalkan dia pada leluhurku, pada dewa, bahkan pada Tuhan. Seringkali pada saat rindu kelabu yang membuatku sendu mendayu, aku membawa dia ke dalam doaku.

Haruskah aku mengubur semua perasaanku, haruskah keyakinanku diakhiri hanya karena diabaikan? sulit bagiku untuk menjawabnya. Mungkin suatu saat aku akan menikah dengan gadis yang tak aku cintai dan membiarkan cinta tumbuh belakangan, cinta berkemabng seiring perjalanan waktu. Hal itu membuatku bimbang.

4 Desember pukul 20:10

0 Komentar:

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts