e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

Sederet Musibah di Balik Mimpi Ditumpahi Nanah Jenazah

Entah kapan aku pulang kampoeng, aku sudah berada di rumah dan bangun dari tidur pagi hari, lalu berdiri di halaman rumah. Dari selatan terlihat orang ramai berjalan kaki, ternyata mereka mengusung mayat.
‘Teet.. ikut ke kuburan ya’ pinta ibuku.
‘Siapa yang meninggal, ma?’
‘Tantemu, meninggal beberapa hari yang lalu’

Aku bergegas masuk ke rumah ganti pakaian, menggunakan pakaian adat lalu ikut mengiringi jenazahnya. Hingga di di tengah perjalanan, aku tidak ikut melanjutkan mengiringi jenazah, merasa kelelahan berjalan kaki terlalu jauh. Aku balik ke rumah.

Terbangun dari mimpi, terasa aneh. Orang yang meninggal dalam mimpi, dalam kenyatannya dia sudah meninggal. Artinya memimpikan orang yang sudah meninggal dan dia meninggal lagi dalam mimpi. Konon, kalau mimpi melihat mayat ataupun mengusung jenazah, itu pertanda baik, akan mendapat keberuntungan. Memikirkan mimpi itu, aku tersenyum meski merasa aneh memimpikan orang yang sudah mati meninggal lagi. Karena masih jam lima, aku tarik selimut, dan segera tidur lagi. Dan mimpi lagi.

Sebagian warga yang mengantar jenazah tante itu sudah balik ke rumahnya masing-masing. Hari sudah sore, aku berangkat mau balik ke Denpasar. Di perjalanan aku melihat ayahku, kakakku, ayah dan ibu dari tante yang meninggal masih mengusung mayat itu, ternyata belum sampai ke kuburan. Yang mengusung mayat hanya berdua; kakakku dan ayahnya tante itu. Merasa gak enak terhadap ayahnya tante itu, aku turun dari motor membantunya mengusung jenazah.

Aku membantu menganggkat peti jenazah bagian depan, rasanya berat sekali. Aku paksa angkat, eh tiba-tiba peti jenazah terbalik karena terlalu keras mengangkatnya. Ternyata mayatnya sudah membusuk dan mengeluarkan nanah yang cair, lalu tumpah mengenai baju jaketku. Aku tak lagi memantu mengangkatnya tinggallah kakakku dan ayahnya memasuki kuburan. Begitu masuk ke pintu kuburan, tiba-tiba masuknya ke pintu rumah nenekku, mayat itu dimasukan ke kamar nenekku.

Aku membuka jaket yang basah dengan nanah mayat, dan aku mendengar keluhan ayahku. Beliau bilang bahwa mayat itu membusuk karena kesalahan menyuntikan formalin tidak secara merata. Kebetulan yang menyuntikan formalin bukan ayahku.

Terbangun dari mimpi, aku terkejut. Merasa ada yang aneh dengan mimpi bersambung ini, jenazah yang seharusnya dibawa ke kuburan tetapi kok masuk ke rumah nenekku (ibu ayahku). Aku jadi kawatir akan terjadi apa-apa terhadap keluargaku, terutama kakek dan nenek.

Yang membuat aku tambah kawatir, beberapa waktu lalu sering ditanyakan nenekku. Cerita dari adikku, katanya nenek kangen padaku. Beberapa minggu ini aku gak sempat ke rumah nenek meski pulang kampung. Biasanya kalau aku pulang kampung menyempatkan diri ke rumah nenek.

Dulu, nenekku yang satunya (ibunya ibu) yang sudah meninggal, menjelang kematiannya sering datang ke rumahku, katanya kangen dengan keluarga, termasuk juga kangen padaku. Kebanyakan orang yang akan meninggal biasanya sering merindukan keluarganya, bahkan rela mendatangi rumah keluarganya meski sudah tua renta.

Sehari menjelang hari akhir, saat itu sedang sakit, beliau memintaku untuk menyandarkan kepalanya di pangkuanku. Aku menurutinya, meski gak enak membiarkan kepala nenek berada di pangkuan cucunya. Sambil batuk-batuk beliau berujar, ‘Nenek ingin sekali melihat cucuku sudah memiliki istri, tapi sayang nenek sudah akan pergi. Nenek sedih melihat kamu belum menikah’.

Mendengar kata-kata beliau, lidahku terasa kelu, gak bisa berbicara apa, sekaligus merasa sedih. Besoknya beliau menghembuskan nafas terakhirnya. Kejadian ini sudah terjadi empat tahun yang lalu.


Biasanya kalau mimpi buruk aku berdoa agar mimpi buruk itu tidak menjadi kenyataan, kalaupun terjadi harapannya masalah atau musibah yang datang hal kecil. Mimpi mengangkat jenzah itu konon katanya pertanda akan datang keberuntungan, oleh karena itu aku tak begitu kawatir. Tetapi ternyata mimpi ditumpahi nanah jenazah itu pertanda buruk, sederet musibah pun aku alami.

Hari Sabtu, menjelang malam aku pulang kampung. Di Gianyar aku hampir diseruduk cewek, kejadiannya bermula ketika aku berhenti di tengah jalan untuk memberikan kesempatan orang yang mau menyeberang bawa motor. Tahu-tahu dari belakang ada cewek yang ngebut, dia berhasil menghindariku dengan membelok motornya ke sebelah kiriku. Sialnya, cewek itu nyenggol ibu-ibu bawa motor yang ada di belakangku. Sampai ibu itu terjatuh dan tertindih motor.

Merasa aku sebagai penyebab kecelakaan itu, aku menepi, dan mebantu membangunkan ibu itu, dan membelikan air minum. Tak ada yang tahu siapa yang salah dan tak ada yang berani menyalahkanku, tapi sepertinya yang salah itu si cewek, dan cewek itu bergegas juga menolong ibu itu. Tak lama kemudian datang polisi, ditanya apa yang terjadi. Aku bilang tak terjadi apa-apa, hanya ada ibu-ibu tersenggol oleh orang lain. Bersyukur polisi itu kenal denganku, sehingga pak polisi itu pergi. Dan kami pun pergi, setelah ibu itu melanjutkan perjlanannya bawa motor meski dalam keadaan terluka.

Sampai di Bangli, lagi-lagi aku mengalami musibah. Tiba-tiba motornya ngoleg di tikungan, ternyata ban motor bagian depan kempes. Sambil mencari bengkel, perjalanan di lanjutkan, di kubu baru ketemu bengkel yang masih buka. Merasa tenang, hingga sampai di rumah jam delapan. Dan aku bercerita tentang mimpi itu sama ayahku, katanya itu bisa jadi berarti buruk.

Bapakku juga bercerita kalau beliau mimpi membeli daging babi (be celeng), daging babi itu mau diberikan ke orang lain, akan tetapi tidak tahu siapa yang mau diberi. Menurut panfsiran bapakku, akan ada orang lain di sekitar kita yang akan kena musibah (ngleleng). Mimpi makan daging babi, diberi daging babi, dan sejenisnya dalam tradisi keluargaku diartikan sebagai pertanda buruk, akan ditimpa musibah.

Jam lima pagi aku dibangun kakakku, katanya mobil pickup yang dibawa iparku mogok. Dia sama ibuku mau ke pasar bawa dagangan. Untung masih dekat dari rumah, sekitar sekilo. Setelah dicarikan bengkel, katanya shockbakernya lepas dan rem tangan nyetut, sehinga mobil tak bisa bergerak. Tali rem tangan dilepas, bisa jalan 10 meter, mogok lagi. Jadinya batal ke pasar, lalu minjam pickup dipakai membawa pulang barang dagangan.

Ibuku jadi galau, takut rugi besar, karena barang dagagangan barang yang mudah rusak kalau dibiarkan dua hari saja. Tetapi ayahku menasehati apa yang terjadi memang sudah ditakdirkan seperti itu, karena alam gaib sudah memberitahu melalui mimpi. Untung tidak terjadi apa-apa pada orangnya.

Pagi hari sekira jam delapan, aku bantu kakak dan bapakku pasang pipa untuk mengairi ladang. Saat mau merapikan beberapa batang kayu, batang kayu cukup besar menghantam kaki bapakku, tulang betis bagian depan. Sampai bapakku menjerit kesakitan. Aku bantu untuk mengobati kakinya.

Setelah istirahat pasang pipa, aku ke rumah nenek. Bersyukur kakek dan nenek baik-baik saja. Padahal aku pulang kampung karena kawatir terhadap kakek dan nenek. Sempat juga pijat kakek, dan memberinya energi prana. Soalnya kakek sakit-sakitan, dan pernah terjatuh ke jurang hingga tak bisa bangun berbulan-bulan, dan baru bisa berjalan setelah setahun sakit.

Musibah tak berhenti sampai disitu, bahkan lebih parah. Malam hari aku balik ke Denpasar, jam delapan baru berangkat dari kampoeng. Jam 10 mengalami kecelakaan di Batubulan, menabrak orang dekat terminal.

Kejadian itu berwaal ketika ada orang yang mau menyeberang jalan bertiga dari arah kiri, hanya satu yang maju tiba-tiba tanpa menoleh ke arahku, malah dia menoleh ke arah yang lain. Berjarak 5 meter dari orang itu aku terkejut, mendadak mengerem tetapi motor tak mau langsung diam, aku menghindar ke kanan. Sialnya, orang itu juga berusaha menghindar ke kanan. Jadilah motorku menubruk orang itu, wajahku ditepis pakai tangannya, mungkin reflek. Dia terjungkal, aku terpental.

Aku terguling sekira 5 meter dari motorku, sedangkan bapak itu tak jauh dari motorku, jadilah sama-sama tergeletak. Entah darimana datangnya orang-orang, mereka mengangkatku dibawa ke tepi jalan, ditidurkan di atas rumput. Aku sempat gak bisa bangun, sekujur tubuhku menggigil. Mau diajak ke klinik, tapi aku gak mau, soalnya merasa masih bisa bertahan, meski kaki memar, dan bibir berdarah.

Bapak yang aku tabrak menyalahkanku, tapi aku gak mau ngaku salah, ‘Tak selamanya orang menabrak itu salah, bapak saja yang menyeberang sembarangan. Tadi bapak itu menyeberang tanpa menoleh ke arah saya’ ujarku dengan tubuh sakit dan menggigil.

Mau menghubungi keluarga gak ada bisa dihubungi, terus dikirim sms saja. Kemudian menelpon sepupu yang PKL di Denpasar, ternyata dia masih di kampung. Aku minta sama dia untuk bilang ke keluarga kalau aku kecelakaan.

Sesudah itu, aku sama orang yang menolongku; ditanya dari mana, mau kemana, apakah ada keluarga dekat dari situ. Begitu juga bapak itu ditanya. Dia ngaku anggota brimob, dari Tohpati. Dia kesini mengantar orang jawa mau balik ke kampungnya. Setelah diintrogasi sama orang yang menolongku, bapak itu mulai berbelit, dia ngaku sudah pensiun.

Bapak itu meminta SIMku, aku tunjukan ,dan aku minta KTP-nya, eh dia gak jadi minta Simku. Setelah aku diberi minum sama orang yang menolongku, aku ditanya apakah masalah ini akan dibawa ke polisi ataukah berdamai. Aku diminta ganti rugi untuk mengobati bapak itu yang sudah rempong gak bisa berdiri, tetapi aku ngotot tak mau ngaku bersalah, dan bapak itu juga ngotot gak mau mengakui kesalahannya.

Secara hukum, memang yang bersalah itu yang menabrak, dasar hukumnya ; dahulukan pejalan kaki atau penyeberang jalan. Aku mengotot tak mau mengakui bersalah dengan alasan, bapak itu nyebrang tanpa menoleh. Temannya saja yang lagi dua masih diam, sedangkan bapak ini berjalan sendirian ke tengah jalan. Kalau bertiga maju, aku gak berani ngotot. Satu alasan lagi tak aku sebutkan, untuk melawannya jika dibawa kemeja hijau; alasan yang aku sembunyikan adalah bapak itu menyeberang tidak pada tempatnya (zebra cross). Diluar negeri menyebrang tidak pada tempatnya, digilaspun tak apa-apa.

Setelah ngotot –ngototan, aku berujar, ‘Saya mau menelpon teman polisi dulu’ ujarku. Kedua teman polisi yang dihubungi gak aktif, aktif satu tapi gak diangkat, mungkin sudah tidur atau sedang bertugas. Tak lama kemudian, aku minta nomor HP bapak yang aku tabrak, aku dikasih nomor yang kurang, cuma 10 dikit. Terus aku protes, kalau itu nomornya kurang dan nomor salah, lalu bapak itu minta nomor Hpku, dan aku berikan dan menyuruhnya misscall, katanya sudah miscall tapi gak ada di hp-ku.

Orang jawa yang mau diantar sama bapakku itu minta kepadaku untuk berdamai. Setelah mendengar nasehatnya, aku teringat dengan kata bijak, ‘jangan mengabaikan nasehat baik’. Tak lama kemudian, aku bilang ‘Ya dah, pak. Kita damai saja. Motor saya sudah hancur, saya juga terluka, bapak juga terluka’.

Sesudah itu, bapak itu dijemput keluarganya dan pulang. Aku lihat motor sudah gak berbentuk. Aku diminta sama orang yang menolong untuk menitipkan motor itu saja dan naik bus saja ke kosku. Tapi aku bilang aku masih bisa bawa motor. Bersyukur motornya masih bisa dibawa meski sudah gak berbentuk. Dan akhirnya aku sampai jam 11 malam ke indekos. Lalu mencoba mengobati diri sendiri, kemudian ditelpon sama kakakku.

Demekianlah sederet musibah yang aku alami setelah mimpi ditumpahi nanah jenazah. Antara mimpi dan kenyataan ada kesuaian, orang yang terlhat dalam mimpi ikut terkena musibah, yaitu ibu, kakakku (meski iparku yang mengalami musibah bersama ibu), ayahku, dan aku. Situasi kejadian serupa dengan alam mimpi, dimana aku pulang kampung, lalu balik ke denpasar.

Memikirkan hal itu, aku jadi tersenyum. Semakin aku dewasa, mimpiku bukan sekedar mimpi. Waktu abg aku sering menolak keberadaan mimpi sebagai pertanda, meski mimpi bapakku sering dijelaskan dan sering sesuai dengan mimpinya. Tetapi aku gak begitu percaya, namun setelah dewasa bisa merasakan apa yang bapakku sering alami, dan bisa dijelaskan dengan logis.

Menurut pemahamanku begini sedikit pemahaman tentang mimpi. Bilamana seseorang rajin sembahyang tetapi dia tetap bermimpi, besar kemungkinannya mimpinya bukan sekedar mimpi, melainkan peringatan dari alam gaib untuk berhati-hati.

Siapa yang menasehati kita dari alam gaib yang memberitahu kejadian masa depan? beliau adalah dewa yang menjaga kita, malaikat penjaga. Saya berpendapat bahwa istilah malaikat penjaga dalam primbon di Bali sering disebut ‘Pengawak’, setiap wuku kelahiran seseorang ada pengawaknya. Contohnya aku kelahiran wuku merakih; pengawak Bhatara Surenggana.

Semakin dewasa seseorang (terutama dewasa secara spiritual)maka semakin mudah terhubung dengan dewa penjaga. Dewa penjaga inilah yang bekerja membantu seseorang dalam berbagai hal. Orang-orang yang memiliki kelebihan, seperti bisa melihat masa lalu, melihat masa depan, mengobati orang sakit dengan mantra, mengobati dengan pengobatan non-medis, dan lain sebagainya, malaikat penjaga inilah sebenarnya yang membantu dan mengasuh orang bersangkutan.

Oleh karena itu, seseorang tidak boleh sombong dan takabur dengan kemampuannya, dan juga tidak dibenarkan kemampuannya dijadikan bisnis, seperti mengobati orang sakit dilarang meminta bayaran. Hanya boleh menerima sedekah dalam bentuk sesari. Orang – orang yang benar-benar matang ecara spiritual, bahkan mampu memanggil dengan mudah malaikat penjaganya.

Tatenger yang kita alami, seperti kedutan, telinga berdenging nyaring, dan mimpi, dewa penjaga kitalah yang memberitahu. Beliau mendekati kita tetapi kita tak mampu melihatnya, beliau memberi tanda-tanda akan terjadi suatu hal yang akan datang melalui tubuh kita. Semakin percaya seseorang dengan malaikat ini, maka seseorang akan memiliki kemampuan gaib, kemampuan lebih dari orang biasa, seperti bisa mengetahui kejadian akan datang.

Awalnya aku kurang percaya dengan kedutan, telinga berdenging, mimpi, tapi sekarang terbalik 100 derajat setelah mulai bisa merasakannya, meski baru tahap awal. Hal menarik yang sering aku alami adalah ketika akan ada yang mengundang secara resmi, mengajak ketemuan, mau ditelpon urusan penting, dan sejenisnya, sebelum undangan itu sampai padaku, misalnya sehari sebelumnya, sering merasakan bulu kuduk berdiri tanpa sebab, merinding, bahkan telinga seakan ada yang menyentuh secara halus.

0 Komentar:

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts