e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

Kitab Suci dalam Diri

Beberapa waktu lalu, seorang wanita curhat di inbox facebookku. Ia berkeluh kesah tidak tahu menahu akan ajaran kitab suci Veda. Ia ingin sekali belajar agama. Tetapi pertanyaannya kemudian, Veda yang mana harus dipelajari. Lalu aku menjelaskannya sebagai berikut;

Banyak orang ingin belajar Veda, tetapi merasa tidak memiliki kitab suci Veda, atau tidak memiliki buku-buku agama. Sebenarnya Tuhan telah membekali kita kitab suci di dalam diri; Pikiran dan suara hati nurani. Pikiran untuk mengambil ilmu dari luar (pengalaman; menelaah pengalaman hidup) sedangkan suara hati sebagai sumber hukum (veda) dari dalam diri. Artinya, pengetahuan agama bisa dipelajari dari dalam diri; bertanya pada diri.

Setiap tindakan kita apakah salah atau benar bisa ditanyakan kepada suara hati; suara hati itu pada hakekatnya suara Tuhan. Ketika kita melakukan sesuatu yang bertentangan dengan agama, suara hati pasti akan menentangnya. Contoh misalnya; ketika akan berbohong, suara hati pasti menolaknya, tetapi suara hati sering dikalahkan oleh logika dan ego, sehingga kita sering berani berbohong. Pada akhirnya sehebat apapun kita berbohong, suara hati pasti tahu kebohongan kita.

Kesimpulannya; jika ingin tahu banyak tentang kebenaran, ajaran agama, coba sering-sering bertanya pada diri sendiri. Sebelum mengambil suatu keputusan, sebelum bertindak, dsb, coba tanyakan pada diri. Selain itu, jika ada suatu masalah sosial, masalah yang dihadapi masyarakat, coba kita renungkan.

Dengan cara itu, lama-lama kita akan tahu tentang kebenaran yang didapat dari dalam diri. Pengetahuan seperti itu sering sejalan dengan ajaran agama; semakin baik prilaku seseorang; baik dalam pikiran, kata-kata, dan perbuatannya, maka semakin mendekati dengan ajaran kitab suci.

Lalu ia bertanya, dengan cara itu saja kah? tetapi jika tidak ada panutan seorang guru, atau sumber buku atau kitab suci, pasti logika dan ego akan selalu menang akibat belum mampu mengendalikan pikiran. Pada tahap awal memang begitu; pertama belajar dari guru (gurutah), kedua berpedoman pada kitab suci (sastratah), dan terakhir mencari pengetahuan dari dalam diri (atah).

Permasalahan yang kita hadapi, kadang sulit menemukan guru yang bisa memberikan pemahaman yang benar. Demikian pula, kadang kita enggan membeli buku, kitab suci. Jangankan veda, kitab suci di bawah veda pun enggan membelinya. Lebih senang digunakan membeli pulsa, dsb. Huahaha.

0 Komentar:

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts