e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

Cara Sederhana Mengobati Anak Terbentur

Dalam kehidupan adakalanya kita berhadapan dengan kejadian yang mengagetkan, seperti misalnya anak terjatuh. Tentu hal ini membuat kita panik dan sedih. Tak jarang seseorang tak melakukan apa-apa, mungkin karena ketidaktahuan atau karena panik.

Beberapa waktu lalu di sebuah warung milik orang jawa, di depan mataku seorang anak kecil yang baru belajar berjalan terjatuh dari kursi. Waktu anak itu hendak jatuh, aku sudah melihatnya menggesar pantatnya tanggal dari kursinya, dalam sekejap aku melonjak hendak mengambilnya, tetapi sayang sekali aku hanya bisa menangkap bajunya, anak itu tetap terjatuh ke lantai; kepala dan punggungnya menyentuh lantai. Tak hayal anak kecil itu menjerit menangis histeris kesakitan, lalu diambil ibunya.

Aku perhatikan yang dilakukan ibunya, dia hanya menimang-nimang anaknya agar mau diam, bahkan tidak disusui, tentunya anaknya tetap menangis histeris. Melihat anak kecil menangis, hatiku jadi iba. Tak pandang dia anak orang jawa yang tak begitu aku kenal.

Aku mencoba melakukan apa yang sering dilakukan orang tua ketika anaknya terjatuh. Kebiasaan itu menjadi tradisi bagi orang tua ketika anaknya terbentur, terjatuh, atau kecelakaan ringan lainnya.

Pertama aku menepuk lantai 3 kali dengan telapak tangan dimana anak itu terjatuh, lalu kepalanya dihusap lembut (berputar) beberapa kali pada bagian yang terbentur.

Kedua, aku meminta kepada ibunya untuk menyusuinya, tujuannya agar pikiran anak tidak fokus pada bagian sakit. Jika dibiarkan memusatkan pikirannya pada bagian sakit maka akan semakin terasa sakitnya. Sambil menyusui, setelah telapak tanganku terasa hangat, aku coba berikan energi prana. Tak lama kemudian anak itu tak lagi menangis, malahan dia menyusui dengan semangat. Senang melihat anak itu mau berhenti menangis, meski air matanya masih membashi pipinya.

Apakah tindakan mengobati seperti itu sebuah tahayul? sebenarnya tidak. Menurut saya, ketika ada seseorang terjatuh, badan energi (sebut saja badan halus) beberapa bagian terikat pada tempat dimana orang itu jatuh sehingga tubuh energinya menjadi lemah pada bagian sakit. Untuk mengambil energi itu, orang tua dahulu mengembalikannya dengan menepuk 3 kali pada tempat dimana orang itu jatuh, doa yang digunakan sangat sederhana, ‘Bangun, bangun, bangun’, lalu menghusapkannya pada bagian yang terbentur.

Menepuk tanah atau lantai, barangkali dimaksudkan untuk mengambil energi prana untuk menyembuhkan anak yang sakit karena terbentur, seperti diketahui salah satu sumber energi prana adalah bumi, yang lainnya adalah air dan matahari. Untuk efektivitas cara di atas dapat dengan sengaja memberikan energi parana pada bagian yang terbentur dengan cara sederhana.

Sentuh atau tekan telapak tangan kanan dengan ibu jari tangan kiri sekira 5 detik, kemudian lepaskan sentuhan. Pusatkan pikiran ke telapak tangan, lalu rasakan ada energi mengalir (seperti energi listrik). Dalam waktu beberapa saat tangan akan terasa hangat dan agak berdenyut. Hal ini akan terjadi jika sudah terbiasa mengaktikan cakra tangan. Jika belum pernah mencoba mengaktifkan cakra tangan, coba lakukan hal ini agar cakra tangan mudah diaktifkan.

Setelah tangan terasa hangat, salurkan energi ini dengan mendekatkan pada bagian tubuh anak yang terbentur. Bayangkan energi itu mengalir ke tubuh anak, terutama ke bagian yang sakit, sambil lalu berdoa untuk kesembuhan sang anak, misalnya; ‘Dewa, sembuhkanlah anakku.. sembuhkanlah, dan sembuhlah, sembuhlah!’. Kalau kita berhasil, anak pasti akan merasa damai hatinya dan rasa sakitnya jauh berkurang.

Jika bagian yang terbentur sampai terluka atau benjol; pada bagian tubuh yang terluka olesi dengan kunyit tua (ibunya kunyit; bahasa bali; kunyit inana). Tetapi ada rahasianya, sebelum mengambil kunyit dan diparut, berdoa meminta ijin untuk menggunakannya sebagai obat. Ini bukan tahayul, tetapi kunyit memang telah teruji secara ilmiah memiliki berbagai kasiat sebagai obat. Hanya saja, bahan obat yang tanpa doa bekerjanya lebih lambat daripada diberi doa. Dengan doa, bahan obat bekerja lebih baik, tentu doanya tulus. Orang tua dulu dengan diberi mantra.

Soal orang jatuh, jika jatuhnya sampai parah, terutama orang dewasa, bahkan sampai dibuatkan upacara ‘nebusin’ untuk mengembalikan raga suksma seseorang ke dalam tubuhnya. Barangkali tubuh halus seseorang dianggap tertinggal dimana dia terjatuh. Tubuh halus ini bukan rohnya, kalau rohnya tertingal berarti orangnya sudah mati. Biasanya jika seseorang dibuatkan upacara nebusin, biasanya lebih cepat sembuh.

0 Komentar:

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts