e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

Sebabnya Aku Cengeng

Bagi yang sering membaca curhatku tentang cinta, pasti sebagian besar menganggap aku lelaki cengeng, bahkan ada yang terang-terangan mengatakan kalau aku lelaki cengeng. Aku sendiri gak tahu, tapi memang merasa seperti itu. Mungkin aku berkepribadian ganda, di satu sisi cengeng, di sisi lain aku tipe lelaki yang keras, galak.

Sering jika merasa dihina ingin membunuh orang, adakalanya menantang orang untuk bertemu di kuburan. Selain itu, jika melihat ketidakadilan mendadak marah tak pandang siapa orangnya. Kayak kemarin, menghalangi mobil yang lewat pakai motor renteg gara-gara orang-orang tidak diberikan kesempatan untuk lewat menyeberang.

Pernah juga meremehkan tukang obat yang di kreneng yang ngaku sebagai mantan pemimpin preman di pulau seberang, dan dia menantang orang-orang sakti di Bali, menantang leak. Orang lain tua muda menurut dengan perintah orang itu; disuruh duduk nurut, disuruh berdiri nurut, disuruh memberikan uang nurut, aku gak mau tuh. Ternyata mereka ngajak pengawal, pengawalnya menggiringku ke tempat sepi. Diangkat kerah bajuku. Tapi gak takut, walau pun sendiri. Aku mau pergi dari sana karena dia bilang mencari sesuap nasi.

Back to topic, konon lelaki itu jarang menangis, tetapi aku sering menangis. Kadang memikirkn hal sepele bisa menangis, seperti waktu eksekusi hukuman mati terhadap nara pidana pengedar narkoba, memikirkan mereka dieksekusi air mataku meleleh. Adakalanya membaca penderitaan seorang wanita dihukum karena kriminal, membuat berlinang air mata.

Tak hanya manusia; kalau melihat hewan sakit, seperti kucing aku merasa sedih. Walaupun aku hanya coba-coba belajar pengobatan prana, aku berikan energi melalui tangan, ada rasa bahagia melihat hewan menderita bisa sembuh.

Tak hanya itu, ada saatnya ketika berjapa (sembahyang) air mataku meleleh. Bahkan aku juga bisa menitikan air mata ketika memikirkan nasi yang aku makan. Aku membayangkan bagaimana nasi itu bisa sampai ke aku, mulai dari benih padi ditanam, lalu dipanen, dijual ke pasar, lalu bertemu denganku hingga membuatku kenyang. Memikirkan hal itu, aku meneteskan air mata karena terharu betapa agungnya alam ini.

Yang tak habis pikir, aku sulit bisa menangis jika ada keluarga yang meninggal. Tapi saat ada di sana aku menangis, menangis karena melihat orang lain menangis, bukan karena orang yang meninggal. Meski begitu, kadang aku takut kehilangan orang-orang yang aku sayang. Semasih aku ada, semasih aku hidup, aku ingin membahagiakan mereka. Pertanyaan yang sering muncul dalam hati; untuk apa menangisi orang mati, bukankah lebih baik menangisi orang hidup? maksudnya lebih baik sayangi orang yang kita sayang semasih mereka ada, daripada menangis setelah mereka tidak ada.

Renunganku begitu berawal ketika kakakku pernah menceburkan diri ke sumur. Waktu itu kakakku dimarahi bapakku dan bertengkar dengan pacarnya. Hilang sampai siang hari, ternyata mengambang di sumur. Aku yang mengangkatnya dari sumur bersama sepupuku. Saat itu masih bernafas, lalu dilarikan ke rumah sakit dibonceng menggunakan motor. Sepupuku yang bawa, aku di belakang, kakakku di tengah. Waktu di pertengahhan jalan, kakakku sempat kehilangan nafas, saat itulah aku mengira kakakku sudah meninggal, meninggal di hadapanku. Aku berdoa pada Tuhan bila kakakku bisa bernafas lagi, aku takan pernah memarahinya lagi. Bersyukur nyawa kakakku bisa diselamatkan. Mulai saat itulah aku tak pernah lagi marah dengannya. Bahkan setelah kakakku menikah aku memanggilnya ‘Bli’ (kakak). Tak terpikirkan aku bisa memanggilnya bli, padahal sebelumnya biasa memanggilnya sesuai namanya.

Sejak itu, jika aku sayang sama cewek, sering takut kehilangan, dan bisa menyayangi seorang wanita dengan tulus, terutama ketika hatiku yang memilih gadis itu, bukan cinta dari mata.

Bakatku menjadi lelaki cengeng mungkin menggelikan, tetapi aku memang besar dalam linangan air mata lelaki, air mata ayahku. Air mata ayahku kehilangan istri tersayangnya, ketika aku baru berumur setahun. Aku dibesarkan tanpa ibu kandung, aku berpindah menyusui pada ibu kedua. Entah bagaimana keadaanku saat itu, anak yang baru berumur setahun sudah kehilangan ibunya ; mungkinkah aku mau makan, mungkinkah aku langsung bisa menyusui pada ibu keduaku? Memikirkan hal itu air mataku berlinang..

By the way, ternyata ada loh seorang filsuf yang suka menangis. Ia menangis saat mempelajari ilmu alam, tata surya yang maha luas ini. Mungkin terharu akan keagungan Tuhan. Jadi kalau anda sebagai lelaki pernah menangis memikirkan hal-hal sepele, biarlah air mata itu mengalir alami, tak usah malu.

0 Komentar:

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts