e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

Intelektual Hindu Pelit Ilmu?

Pernah ada yang protes atau tepatnya berkeluh kesah, mengapa sangat sulit menemukan artikel tentang ajaran Hindu di internet, kalau pun ada malah yang aktif adalah mahasiswa, mahasiswa hindu, tokoh masyarakat, dengan memuat artikel di blog. Sedangkan ajaran agama tetangga begitu mudah ditemukan di internet, penulisnya dari kalangan agamawan hingga intelektualnya yang sudah bergelar doktor, profesor. Kemana intelektual Hindu?

Saya pun bingung akan kenyataan ini. Situs Parisada (lembaga tertinggi umat hindu) saja menghilang. Apa mungkin intelektual Hindu pelit ilmu? mungkin bisa dijawab Ya. Intelektual Hindu yang aktif menulis cenderung dikomersialkan atau diperdagangkan pengetahuannya.


Apa salah intelektual Hindu memperdagangkan ilmunya? karena ini tentang agama, maka menilainya pun dari sudut pandang agama. Menurut kitab suci, seseorang tidak dibenarkan untuk menjual-belikan ajaran suci, kitab suci, pengetahuan suci. Perbuatan ini dinyatakan sebagai perbuatan dosa. Akan tetapi orang-orang yang mau mengajarkan atau menyebarluaskan pengetahuan suci, diberikan jaminan bahwa ia akan mendapatkan kemasyuran, kebahagiaan, kemakmuran, dan surga, juga kebebasan (moksa), bahkan kekuasaan Ilahi, artinya orang yang mau menyebarkan pengetahuan suci secara iklas, ia diberikan kemampuan gaib yang dimiliki para dewa.

Saya melihat saat ini ajaran agama memang cenderung diperdagangkan, diperjualbelikan. Memang kita menghadapi dilema akan hal ini. Dimana untuk menyebarkan pengetahuan suci, misalnya dicetak dalam bentuk buku maka butuh dana, biaya, yang nilainya tidak sedikit.

Ada hal yang menarik yang dilakukan salah satu tokoh baru Hindu. Saya menyebutnya baru karena beliau dulunya beragama Islam, lalu masuk Hindu. beliau itu seorang wanita mulia, nama diksa beliau Shree Chandranaya Seekar Mayananda. Beliau menyebarkan pengetahuan suci secara gratis, dicetak sendiri, diterbitkan sendiri. Buku-buku yang diterbitkan bisa didapat secara gratis. Apakah Cuma-Cuma?

Seseorang yang mendapatkan buku dari beliau, diberikan keleluasan untuk menyumbangkan dana (infaq) seiklasnya atau semampunya. Apakah cara ini salah? Tidak. Cara inilah yang dianjurkan kitab suci. Seorang yang mengajarkan pengetahuan suci dibenarkan untuk mendapat daksina (sedekah) dari seseorang atau masyarakat. Bahkan sedekah seperti ini berpahala mulia bagi penyumbangnya atau pemberinya.

Yang menerima daksina tidak dibenarkan mematok harga. Sama halnya dengan seorang sulinggih, pemangku, dsb, ia berhak mendapatkan daksina, tetapi jika mematok harga maka akan mendapatkan dosa.

Kesalahan yang terjadi di masyarakat, kurangnya kesadaran masyarakat untuk mensejahterakan para sulinggih, pemangku, dsb. Padahal, seseorang yang sudah berumahtangga diwajibkan untuk bersedekah kepada brahmana (sulinggih), kepada pemangku, pendeta. Bersedekah kepada seseorang itu tidak membuat seseorang menjadi miskin, tentu syaratnya iklas. Bahkan bisa menjadikannya lebih sukses dan bahagia, bahkan kaya.

Kesalahannya juga terjadi pada sulinggih. Bahkan ada ajaran weda dianggap tidak relevan hanya gara-gara sulinggihnya gengsi. Ajaran yang dimaksud yaitu seorang sulinggih dianjurkan untuk meminta-minta. Pasti kita akan mengernyitkan dahi dengan ajaran ini. Tetapi daripada sulinggih mematok harga, jual beli banten, bekerja, masih mendingan meminta-minta. coba renungkan sejenak!

Seorang sulinggih itu orang suci, dimana ia menginjakan kaki maka tempat itu akan diberkahi. Semakin mulia seorang sulinggh, semakin terberkahi tempat yang dikunjunginya. Oleh karena itulah jaman dahulu jika datang seorang brahmana hendak datang ke rumah seseorang untuk bertamu, maka berlomba-lomba untuk menyambutnya; menjamu makan, menyediakan tempat istirahat yang terbaik, mencuci kakinya. Tentu juga memberikannya sedekah. Kalau sekarang bisa diberikan uang, pakaian, dsb.

Ajaran meminta-minta ini masih diterapkan dalam agama Budha, tetapi hanya dilakukan oleh calon biksu. Saya pernah melihat biksu muda minta-minta. Saya terharu melihatnya. Hal inilah seharusnya dilakukan calon-calon sulinggih di Bali, agar tempat-tempat yang diinjak dengan kakinya menjadi suci.

Sebenarnya di Bali masih ada tradisi minta-minta yang berasal dari ajaran Veda tetapi telah diselewengkan anak muda untuk penggalian dana, yaitu tradisi ngelawang. Menurut dugaanku, ngelawang ini sebenarnya dilakukan oleh murid-murid dari seorang sulinggih untuk kesejahteraan sulinggih dan murid-muridnya. Barong yang memang benar-benar metaksu, suci, diharapkan mensucikan rumah-rumah orang yang dikunjungi. Akan tetapi saat ini barong telah disalahgunakan anak muda. Miris!

0 Komentar:

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts