e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

Adik Kecil yang Manis Senyumnya

Pulang kampung mau otonan diiringi rasa rindu terlipat rapi untuk dia. Sayangnya sampai rumah sudah malam langsung bobok, capek.Hari berikutnya minggu, lipatan rindu ingin ku buka. Pagi yang dingin melewati rumah dia, tapi dia gak ada.

Kemudian disuruh gotong royong di kelompok sama orang tua, sampai jam setengah dua. Usai itu lalu mandi. Mau beraksi lagi. Selesai mandi, adik angkatku bilang jam dua ada rapat muda-mudi. “Yess.. sekarang pasti aku puas bisa melihatmu’ hatiku berteriak girang. Aku yakin dia pasti ikut rapat muda-mudi, dan aku bisa sepuas hati bertemu dengan pujaan hati, meski aku tidak ikut sebagai anggota muda-mudi.

Aku meluncur ke TKP, kebetulan tempat itu dekat rumah nenek dia. Tujuan pertama rumah neneknya, sampai di sana aku melihat adikku (calon adikku, adik dia yang baru bisa berjalan; anak kecil yang pernah aku ceritakan yang pernah diberikan mantra pengasih padahal tidak ada hubungan keluarga tetapi bisa dekat denganku, karena aku sayang sama kakaknya ). Sebelum menggendong adiknya, aku melihat pujaan hati di pintu rumah neneknya. Empat mata bertemu, membuatku panas dingin. Aku langsung menggendong adiknya dan menciumnya sepuas hatiku untuk menghilangkan rasa grogi.

‘Lii.. Lii..’ rewel adik kecil. Aku kira memanggil kakaknya yang namanya Widi, ‘Wii.. wii’. Tetapi ternyata adik kecil mau main ‘Guli’ atau kelereng. Langsung deh diturunkan ke tanah diajak bermain kelereng. Dia senang bisa menembak kelereng. Sekira 15 menit diajak bermain-main, aku hentikan.

Adik kecil aku gendong masuk ke kamar tamu dimana kakaknya juga ada disana. Adik kecil mengambil kaca mata yang aku pakai, dipasang di matanya tetapi dipasang dengan terbalik. Terus aku bilang kalau memasangnya itu salah, mau dilepas tetapi dipasang terbalik di mataku. Aku ambil kacanya, eh adik kecil marah, hidungku yang agak mancung ditariknya. Pujaan hatiku malu-malu kucing tersenyum melihat tingkah adiknya yang mempermainkanku. Adik kecil bikin gemes.. aku cium berulang kali. [Mencium anak kecil sebenarnya ada mantranya, tapi menurutku hati yang tulus itu juga sebagai mantra yang ampuh agar kita selalu dekat dengan anak bersangkutan, saling mengasihi]

Entah kenapa setiap aku ingin dekat dengannya selalu saja dia menghindar, dia pun meninggalkan adiknya bersamaku. Sudah tiga tahun lamanya dia masih saja begitu. Tak mengapa, cintaku tak menuntut ini itu, yang terpenting aku masih bisa menyayangi dia dengan tulus semasih aku ada, itu sudah cukup. Dulu aku pernah bedoa agar Tuhan menumbuhkan cinta tulusku terhadap seseorang, dan ketika aku merasakan kasih yang tulus pada dia, aku tak menyia-nyiakannya meski dia selalu mengabaikanku, bahkan dia mencampakanku. Ibunya pun ikut campur, melarangku untuk tidak mendekati anaknya karena dia masih kecil, beda usia 10 tahun. Itu tak membuatku menyerah, meski sudah tiga tahun lamanya mengejar dia tanpa ada hasil.

Mungkin lelaki lain sudah dulu menyerah, tak tahan dalam kesendirian, tetapi aku berusaha untuk tetap mengejarnya. Aku tak mau kejadian dulu terulang lagi; dimana aku pernah dilarang seseorang untuk dekat dengan anaknya yang tulus aku sayangi, dengan alasan karena anaknya masih kecil, eh tahu-tahunya dia menikah dengan dijodohkan.

Sungguh hancur perasaanku, hingga akhirnya orang itu pisah ranjang, lalu aku dekat dengannya dan pacaran. Saat cinta bertemu, orang tuaku memisahkan cinta kami, kasusnya rumit sekali. Kejadian ini cukup membuat hatiku sedih banget, hingga aku pernah ingin bunuh diri. Lalu, lama tak ada niat mencari cewek, tetapi tahu-tahunya jatuh cinta sama dia yang masih kelas 2 SMP (kakak dari adik kecil), waktu itu adik kecil belum dikandung, sampai adik kecil sekarang sudah bisa jalan, dan pujaan hati sekarang sudah kelas 2 SMA. Cukup lama ya.. karena cinta waktu tak terasa berlalu.

Cinta tulus untuk dia, adikknya pun kena getahnya. Aku sayang banget sama adiknya, sama besarnya sayangku pada kakaknya. Aku anggap adik sendiri. Setiap bertemu adik kecil, aku selalu ingin menggendongnya, kecuali ada ibu dan bapaknya, soalnya lagi pura-pura benci sama mereka. Kalau dulu sebelum pura-pura benci, kalau ada bapaknya biasa aku gendong anaknya.

Kisah berlanjut.. setelah capek gendong adik ekcil, aku ajak makan kacang rebus. Adik kecil selalu makan kacang sama kulitnya, sampai aku selalu kerepotan membuka mulutnya agar tidak keselet, lalu mengeluarkannya. Kacang sudah habis, minuman sudah habis, aku ajak ke kakaknya yang rapat dengan muda-mudi lainnya. Adik kecil memanggil kakaknya dengan manja, ‘Wii.. wii..’, suara khas anak kecil lelaki yang baru bisa ngomong kadang membuatku ingin memiliki momongan.

Aku dekati pujaan hati, dia pasang muka cemberut. Tetapi aku tetap tersenyum, biar dia terbiasa denganku. ‘Dipanggil loh! Ambil nae adiknya..’ ujarku sambil memberikan adiknya, dia lalu menggendongnya. Ingin rasanya menyenggol dia tetapi takut. Begitulah cinta, selalu ada rasa takut. Rasa ini timbul dari rasa hormat, rasa hormat datang dari rasa sayang yang tulus.

Tak lama kemudian aku beli teh hangat. Habis minum cari adik kecil lagi, cari kesempatan untuk bisa dekat dengan tambatan hati, seperti pepatah sambil berenang minum air, sambil berdiang nasi masak. Tapi adik kecil malah diajak ke kamarnya sama kakaknya. Nangis deh adik kecil, menangis meronta-ronta mencari ibunya. Sedih liatnya seperti itu. Lalu aku yang menggendongnya, adik kecil mau diam setelah dibelai rambutnya dan dijanjikan mau diajak ke ibunya. Ternyata pujaan hatiku kalah sama aku untuk mendiamkan adik kecil, padahal aku bukan siapa-siapanya.

Tak mau membohonginya, aku ajak adik kecil naik motor, dibonceng di belakang mau ke rumahnya yang berjarak sekitar 500 meter. Sampai di halaman rumahnya, rumahnya sepi, gak ada siapa-siapa. Sebenarnya aku takut menginjakan kaki di rumahnya soalnya aku gak saling sapa dengan ibu dan bapaknya, tetapi demi adik kecil, aku lakukan ini.

Saat mau turunin, aku kaget bukan kepalang ternyata adik kecil sudah tidur, untung tidak terjatuh. Tapi kok dia sadar pegang pinggangku. Lalu aku letakan kepala adik kecil di atas bahu.

Sialnya, aku mau balik ke rumah neneknya gak bisa bawa motor, soalnya motornya pakai kopling. Gak mungkin aku bawa motor dengan satu tangan. Kasihan kalau bangunin adik kecil, aku rela jalan kaki setengah kilo balik ke rumah neneknya, panas lagi. Keringat pun bercucuran. Maklum sambil gendong adik kecil.

Aku tidurkan adik kecil di kamar tamu, aku jagain. Melihat adik kecil yang menggemaskan, aku pengen sekali memiliki momongan padahal pacar saja gak punya. Kalau mengharapkan pujaan hati untuk menjadi pendamping hidupku, masih terlalu lama, sedangkan dia masih muda. Ada pilu berkecamuk dalam diri. Kenapa aku sayang banget sama dia, aku tak rela mencari gadis yang lain, tak ada yang lain dalam hatiku selain dirinya.

Kadang aku berandai-andai jika suatu saat aku menemukan penggantinya, aku akan menikahi wanita itu, tetapi begitu memikirkan berhasil menikah, hatiku tak rela meninggalkan dia, aku takut kehilangan dia. Seharusnya aku bahagia tetapi aku merasa sedih, mungkinkah dia jodohku ataukah aku hanya terbawa-bawa perasaan? entahlah, tetapi aku sungguh menyayanginya meski dia tak mencintaiku saat ini, mungkin dia terlalu pandai menyembunyikn perasaannya. Rasanya mustahil dia tak berasa disayangi dengan tulus sejak tiga tahun, berulangkali dikirimi bunga, dikirimi kado ulang tahun via pos, sampai bikin teman sekolahnya gempar, terutama waktu SMP.

Lanjut becerita; Adik kecil disuruh ditinggal sama neneknya, lalu aku pergi tempat pamannya. Sekitar 20 menit, kembali lagi ke tempat adik kecil, ternyata sudah bangun, matanya lembab habis menangis. Aku gendong kesana kemari, sampai keliling sekolah. Aku gak dikasih ngajak adik kecil ke ibunya karena mau dipisahkan sementara waktu agar tidak lagi menyusui.

Sedih banget mendengar hal ini, aku takut adik kecil nanti menjadi anak yang bodoh. Aku menjelaskan kepada neneknya, dan juga kepada tantenya yang kebetulan juga baru datang. Aku meminta agar adik kecil tidak dihentikan menyusui demi masa depannya. Pujaan hatiku pun mendengar nasehatku, aku tak mau adiknya jadi anak yang kurang cerdas nanti. Menghentikan anak menyusui sebenarnya sebuah kebiasaan yang keliru, begitu juga memberi anak kecil makan nasi sebelum waktunya juga berakibat kurang baik terhadap masa depannya.

Adik kecil wawa-wewe memintaku untuk bermain-main, aku ajak ke jalan lomba lari, adik kecil seneng banget, dia tertawa cekikikan. Setelah lama, lalu ajak ke kakaknya, malahan gak mau sama kakaknya, maunya selalu denganku. Sampai sore aku bermain – main sama adik kecil, aku begitu puas bersama dengannya. Sudah jam lima, adik kecil aku berikan kakaknya, sempat juga menyenggolnya. Cari kesempatan dalam kesempitan.

0 Komentar:

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts