e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

Vidura Inkarnasi Dewa Yama

Vidura adalah seorang perdana menteri yang bijaksana di kerajaan hastina pura. Ia lahir dari seorang dayang (sudra) melalui Putrot Sadhana. Ayah biologisnya adalah Bhagavan Vyasa, akan tetapi ia berstatus anak dari Wicitrawirya. Vidura lahir sebagai sosok lelaki yang sempurna. Hal ini terjadi akibat dari pelayanan yang tulus iklas dari dayang itu terhadap bhagavan Vyasa dan melakukan sanggama (hubungan seks) dengan senang hati.

Menurut lontar Adi Parwa, demikian juga dijelaskan dalam kitab Mahabharata Adi parwa, bahwa Vidura merupakan jelmaan dari dewa Yama; dewa pencabut nyawa, dewa yang memberikan penghakiman terhadap para roh. Dewa Yama pernah melakukan kesalahan dalam menjatuhkan hukuman. Kisahnya singkatnya sebagai berikut (aku ceritakan kembali, bukan mengutip teks sastra, kutip bagian akhir saja ya, soalnya repot ngetik):

Tersebutlah seorang Rsi yang sedang melakukan tapa mona brata, tidak berbicara. Bhagavan Animandawya nama beliau. Ketika itu datanglah seorang pencuri yang dikejar pasukan raja yang hendak menangkapnya. Pencuri itu bersembunyi di bawah pertapaan sang bhagavan.

Prajurit kerajaan tiba di pertapaan, lalu bertanyalah prajurit itu kepada sang bhagavan. Akan tetapi sang bhagavan tidak menjawab. Pencuri yang bersembunyi kemudian muncul, lalu ditangkap diikat dengan tali, dibawa ke hadapan sidang istana.

Raja menjatuhi hukuman mati terhadap sang pencuri, sedangkan sang bhagavan diperintahkan pantatnya untuk ditumbak karena berdosa melindungi pencuri, dianggap ikut mencuri. Akan tetapi sang bhagavan tidak wafat.

Peristiwa itu terdengarlah oleh seluruh Brahmarsi di surga. Lalu para rsi itu mempertanyakan sebab pantatnya ditombak. Kebetulan waktu itu sang bhagavan telah selesai bertapa tidak berbicara. Lalu beliau menyampaikan bahwa beliau tidak bersalah. Beliau tidak tahu menahu keberadaan pencuri itu. Para rsi kemudian menghadap raja bahwa rsi Animandawya tidak bersalah. Raja kemudian memerintahkan tombak itu dicabut, tetapi tidak bisa, kemudian dipotonglah ujung tombak itu.

Para Brahmarsi lalu mendatangi kahyangan dewa Yama, mepertanyakan apa salahnya bhagavan Animandawya hingga mendapat penderitaan seperti itu. “Dahulu waktu kecil, sang Animandawya menusuk pantat belalang, berulang-ulang dilukai. Itulah sebabnya penderitaan itu sekarang diperoleh, ditombak pantatnya.” demikian sabda dewa Yama.

“Sedikitlah dosa sang Animandawya, sedangkan hukumannya sangat berat yang diterima oleh kesalahan anak kecil. Belumlah pantas dijatuhi hukuman terhadap seorang anak yang belum tahu benar-salah. Sekarang Hyang Yama menjatuhkan hukuman kepada orang yang belum pantas dihukum. Hyang Yama akan menjelma menjadi manusia, ber-ibu sudra, dan akan menjadi orang yang perot.” demikianlah sabda Brahma rsi mengutuk dewa Yama.

Setelah itu, Brahma rsi semuanya kembali ke pertapaan bhagavan Animandwya, mengucapkan mantra Veda melenyapkan segala penderitaan. Tombak itu lalu keluar melalui ubun-ubun di kepala Bhagavan. Tidak terlukalah beliau, kembali seperti sedia kala. Lalu Brahma rsi kembali ke surga diiringi bhagavan Animandawya.

Kalinganing widhi sangkeng agama. catur warsesu doseca bhawisyad iti patakah. Yadi kang rare magawe dosa, ri padbelas tahun wayahnya, yogya tibana danda pare na kurwate papan. Yan kurang sangkeng padbelas tahun, tan tibana danda. Ya ta manemu papa, sang anibani danda. Nahan tang maryada, maneher tinut de bhatara Brahma. Mangastwaken sang hyang Yama janma manusya. Yama widura Janmana. Janma sanghyang Yama kasapa, sang widura sira mebwa sudrayoni, sang Animandawya mangjanma ri sang Sanjaya walkagana. Sira ta Sang Sanjaya ngaran ira.

Terjemahan bebasnya:

Menurut petunjuk widhi (hukum) berdasarkan agama, anak kecil yang berbuat dosa, kalau sudah berumur empat belas tahun. Jika kurang dari empat belas tahun, tidak dibenarkan dijatuhi hukuman, itu akan menyebabkan mendapatkan neraka bagi orang yang menjatuhi hukuman. Demikianlah yang sebenarnya, yang juga dibenarkan oleh dewa Brahma, lalu memerintahkan hyang Yama menjelma menjadi manusia. Menjelmalah hyang Yama kena kutukan. Beliau itu adalah sang Widura, ibunya seorang sudra. Beliau bhagavan Animandawya menjelma menjadi sang Sanjaya wal kagana. Sang Sanjaya namanya.

0 Komentar:

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts