e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

Mahabharata: 102 Anak Dhritarashtra

Masyarakat kebanyakan mengetahui bahwa anak Dhritarashtra berjumblah 100 orang, seratus Kaurawa. Menurut kitab Mahabharata bagian Adi Parwa, anak Dhritarashtra berjumblah 102 anak. 100 putra laki-laki dan seorang anak perempuan dari Gandhari, anugerah dari Bhagavan Vyasa (bukan anugerah dari Tuhan Shiwa seperti pada film). Dan seorang anak Dhritarashtra lainnya lahir dari seorang pelayan dari golongan Vaisya, diberi nama Yuyutsu, dipanggil Karna. Ketika perang besar terjadi, Yuyutsu membela Pandawa.
Kisah kelahiran 102 anak tersebut sebagai berikut:

Tidak sabar menunggu masa kehamilannya yang demikian lama, dan menghilangkan alasan kesedihannya, ia (Gandhari) memukul perutnya dengan sangat keras tanpa sepengetahuan suaminya. Kemudian keluar dari rahimnya, setelah tumbuh selama dua tahun, kumpulan daging yang keras seperti bola besi. Ketika ia hampir akan membuangnya, Dwaipayana, yang dengan kekuatan spiritualnya mengetahui segalanya, segera datang ke sana, dan pertapa yang utama itu melihat bola daging itu, menyapa putri Suvala itu demikian. “Apa yang engkau lakukan?” Gandhari, tanpa berusaha keras menyembunyikan perasaannya, menyapa sang Rishi dan berkata, “Setelah mendengar bahwa Kunti telah melahirkan seorang putra yang seperti Surya dalam kemegahannya, dengan sedih hamba memukul perutku dengan keras. Paduka telah, O Rishi, menganugerahi hamba hadiah bahwa hamba akan mempunyai 100 putra, tetapi di sini hanya ada sebuah bola daging untuk 100 orang putra!

Vyasa kemudian berkata, “Puteri Suvala, memang demikian. Tetapi kata-kataku tidak akan pernah sia-sia. Aku tidak pernah berkata tidak benar walaupun dalam seloroh. Aku tidak perlu membicarakan kejadian lain. Bawalah 100 buah periuk yang penuh dengan mentega murni ke sini segera, dan biarlah mereka ditempatkan di tempat yang sepi. Sementara itu, biarlah air yang dingin dicipratkan di atas bola daging ini.”

Kemudian bola daging itu, setelah diciprati dengan air, menjadi, pada waktu itu, pecah terbagi menjadi 101 bagian/potong, masing-masing berukuran sebesar jempol ibu jari. Kemudian semuanya ini ditaruh dalam periuk-periuk itu yang penuh dengan mentega murni yang di tempatkan di tempat sunyi dan dijaga dengan hati-hati. Vyasa yang termasyur kemudian berkata kepada putri Suvala bahwa ia harus membuka tutup periuk itu setelah dua tahun penuh.

Sementara proses sedang berlangsung, Gandhari yang cantik dan murni yang taat pada sumpahnya, mengerti akan kasih sayang yang seorang rasakan kepada seorang anak perempuan, memulai memikirkan dalam dirinya sendiri, “Tidak dapat diragukan lagi bahwa aku akan mempunyai 100 orang putra, sang muni telah berkata demikian. Tidak pernah terjadi sebaliknya. Tetapi aku akan bahagia jika seorang putri lahir dariku lebih dan di atas yang 100 putra ini dan lebih muda dari mereka semua.

Suamiku kemudian mungkin mencapai dunia-dunia itu di mana kepemilikan putra-putra dari anak perempuan yang dianugerahi. Kemudian lagi, kasih sayang seorang perempuan terhadap menantu lelakinya besar. Apabila, karena itu, aku mendapatkan seorang anak perempuan lebih dan di atas yang 100 orang putraku, kemudian, dikelilingi oleh putra-putra dan putra-putra dari puteriku, aku mungkin merasakan sangat diberkahi. Apabila aku telah pernah merasakan tapa hidup sederhana, apabila aku telah pernah memberikan sesuatu dengan kemurahan hati, apabila aku telah pernah melaksanakan homa (melalui para Brahmana), apabila aku telah pernah menyenangkan para tetuaku dengan penuh perhatian, kemudian (sebagai buah dari perbuatan itu) biarlah seorang anak perempuan lahir kepadaku.”

Semuanya ini terjadi sewaktu Rishi yang terbaik dan terkenal itu, Krishna-Dwaipay
ana sendiri sedang membagi bola daging tersebut dan menghitungnya 100 potongan penuh. Beliau berkata kepada puteri Suvala. “Inilah 100 orang putramu. Aku tidak pernah berbicara bohong kepadamu. Inilah, bagaimana pun, 1 potong lebihnya dari yang 100, dengan maksud untuk memberikan kepadamu seorang anak perempuan. Potongan ini akan tumbuh menjadi seorang anak perempuan yang ramah dan bernasib baik, seperti yang engkau telah inginkan.”

Kemudian pertapa yang hebat itu membawa sebuah periuk yang lain yang penuh dengan mentega murni, dan menaruh potongan itu di dalamnya yang dimaksudkan untuk menjadi seorang anak perempuan. Dan setelah mengatakan ini dan membuat pengaturan-pengaturan lainnya, Dwaipayana yang bijaksana pergi ke gunung Himawat untuk dirinya sendiri melakukan tapanya.

Kemudian pada waktunya, Duryodhana lahir diantara potongan-potongan bola daging itu yang telah ditaruh dalam periuk-periuk tersebut. Menurut urutan lahirnya, Prabu Yudhisthira adalah yang tertua.

Berita kelahiran Duryodhana disampaikan kepada Bhisma dan Vidura yang bijaksana. Hari ketika Duryodhana yang sombong lahir bertepatan juga dengan lahirnya Bhima yang berlengan perkasa dan dengan keberanian yang luar biasa.

Segera setelah Duryodhana lahir, dia mulai menangis dan meringkik seperti keledai. Mendengar suara itu, keledai-keledai, burung-burung nasar, anjing hutan dan burung – burung gagak mengumandangkan tangisan mereka masing-masing secara bersahut-sahutan. Angin keras mulai berhembus, dan api muncul di beberapa arah. Kemudian prabu Dhritarashtra dengan amat ketakutannya, mengundang Bhisma dan Vidura dan kerabat-kerabat dan semua anggota keluarga Kuru, dan para Brahmana yang tak terhitng jumblahnya, menyapa mereka dan berkata, “Yang paling tua di antara pangeran itu, Yudhisthira, adalah penerus dari garis keturunan kita. Dengan kebajikan dari kelahirannya dia telah mendapatkan kerajaan ini. Tetapi akankah putraku ini yang lahir sesudahnya menjadi raja? Katakanlah kepadaku sebenarnya apakah hukum dan kepatutannya untuk keadaan ini.”

Segera setelah kata-kata ini diucapkan, anjing-anjing hutan dan binatang-binatang pemakan daging lainnya mulai melolong tidak menyenangkan. Merupakan ciri-ciri atas pertanda-pertanda kengerian di segala penjuru, kumpulan para brahmana dan Vidura yang bijaksana menjawab, “Obaginda, ketika pertanda mengerikan itu kelihatan dengan jelas pada kelahiran putera tertua Paduka, itu membuktikan bahwa dia akan menjadi penghancur dari keluarga Paduka. Kemakmuran semuanya tergantung dari kepasrahannya. Malapetaka di sana selalu menemaninya. O Baginda, apabila Baginda merelakannya, disana masih ada 99 putra anda. Aapabila Paduka menginginkan kebaikan keluarga Paduka, relakan dia, O Bharata! O Baginda, melakukan hal yang penting buat dunia dan keluarga Paduka sendiri dengan melenyapkan satu putra Paduka ini. Telah dikatakan bahwa seseorang perlu dikorbankan untuk kepentingan keluarga; dan 1 keluarga harus dikorbankan untuk kepentingan satu kampung; satu kampung itu perlu dikorbankan untuk kepentingan seluruh negeri; dan bumi itu perlu dikorbankan untuk kepeningan jiwa.”

Ketika para Brahmana dan Vidura menyatakan demikain, Prabu Dhritarashtra yang sangat sayang kepada putranya tidak mempunyai hati untuk menuruti nasehat itu. Kemudian, dalam satu bulan, 100 orang putra lengkap lahir kepada Dhristarashtra dan seorang putri juga lebihnya dari yang 100 itu.

Selama waktu ketika Gandhari hamil tua, ada seorang gadis pelayan dari golongan Vaisya yang selalu menunggu Dhritarashtra. Selama setahun itu, O Baginda, diturunkan melalui ia oleh Dhritarashtra yang terkenal seorang putra yang dilengkapi dengan kecerdasan tinggi yang kemudian bernama Yuyutsu. Karena dia diturunkan oleh seorang Kshatrya melalui seorang wanita Vaisya, dia kemudian dipanggil dengan nama Karna. Demikianlah telah lahir kepada Dhritarashtra yang bijaksana 100 orang putra yang semuanya pahlawan dan ksatria kereta perang yang kuat, dan seorang putri di atas yang 100 itu, dan seorang putra lain, Yuyutsu, yang energi dan keberaniannya luar biasa diturunkan melalui seorang wanita Vaisya.

Demikianlah cerita tentang kelahiran Duhsala, putri satu-satunya pasangan Dhritarashtra dan Gandhari. Berikut nama-nama para putra dan putri Dhritarashtra sesuai urutan kelahiran mereka:
1. Duryodhana, 2. Yuyutsu, 3. Duhsasana, 4. Duhsaha, 5. Duhsala, 6. Jalasandha, 7. Sama, 8. Saha, 9. Vinda, 10. Anuvinda, (dan seterusnya, gak usah semua ditulis), 101. Kundasi, 102. Virajas.

Di samping 101 orang putra-putra ini, ada seorang anak perempuan bernama Duhsala. Semuanya adalah pahlawan dan Atiratha, dan sangat terampil dalam pertempuran. Semuanya mempelajari Veda, dan semua jenis senjata. Istri-istri yang pantas pada waktunya dipilih untuk mereka semua oleh Dhritarashtra setelah pengujian yang pantas. Prabu Dhritarashtra, O Baginda, juga menyerahkan Duhsala, pada waktu yang  pantas dan dengan upacara yang sepatutnya, kepada Jayadratha (raja negeri Sindhu).


Nb; Entah kenapa keberadaan anak perempuannya mendapat penjelasan berulang-ulang. Mungkin biar tak terlupakan oleh pembaca.

0 Komentar:

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts