e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

Sebabnya Buku Mahal


Saat ini harga buku semakin melambung, hingga mahasiswa semakin malas membeli buku. Ada teman yang pernah bertanya mengapa buku itu mahal? akan hal itu saya mencoba menjelaskan berdasarkan pengalaman saya yang ada kaitannya dengan pertanyaan itu.

Pengalaman 1
Beberapa minggu lalu, aku pernah membayar tukang tik untuk mengetik tugas. Meski hanya 11 halaman, tapi bayar 30ribu. Satu halaman 3ribu, diskon satu halaman. Bagaimana jika ngetik 300 halaman?

 Pengalaman 2
Sekitar satu setengah tahun yang lalu, pernah menyodorkan naskah novel 200 halaman ke editor. Ternyata edit 1 halaman biayanya 2.000. Jadi biaya Rp. 400.000. Jadi gak jadi deh. Sampai sekarang masih gak terurus itu draf novel.

Pengalaman 3
Beli buku secara online penulisnya dari pulau seberang, biaya kirim bayarnya 15ribu.

 Pengalaman 4
Pernah tanya-tanya ke seorang editor biaya cetak buku, ternyata biayanya cukup mahal. Penerbit bayar ini itu, seperti bayar royalti, biaya kirim ke toko buku. Dan di toko buku harganya dinaikkan (mencari untung). Belum lagi jika buku yang diterbitkan tidak laku sehingga return, penerbit jadi rugi.

 Pengalaman 5
Sering ingin menulis artikel, menguraikan isi kepala, juga didukung sumber-sumber terpercaya. Sering kali tidak jadi menulis karena keterbatasan waktu, begitu juga keterbatasan pemikiran.

Dari kenyataan tersebut, wajarlah buku itu mahal. Coba kita bayangkan, jika yang menulis itu kita sendiri. Berapa biaya yang kita habiskan. Coba saja menulis dua halaman; berapa waktu yang dibutuhkan, lalu dikalikan jika menulis 300 halaman.

Belum lagi untuk mampu memahami suatu permasalahan butuh kuliah berlama-lama. Lihat saja kita sudah sekolah bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun. Saya sudah 17 tahun sekolah (seumuran dengan gadis idolaku, huahaha), berapa biaya yang kita habiskan untuk sekolah? tetapi tidak menghasilkan apa-apa. Apalagi saat ini, banyak sekali sarjana pohon pisang, sekali berbuah langsung mati. Hehehe. Parahnya lagi, skripsinya hasil plagiat, buah pisangnya diambil dari pasar.

0 Komentar:

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts