e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

Menginap di Rumah Mantan Kekasih

Perjalan kemarin rada-rada lucu, gara-gara macet di tegalalang, kabupaten Gianyar, ada upacara ngaben. Kirim stand bunga ke Villa Puri Jati, berangkat jam 3 sore. Rencananya sudah balik jam 5 sore tetapi balik jam 7 malam, padahal mau kundangan ke Selemadeg, kabupaten Tabanan.

Setelah pulang langsung mandi hanya 5 menit, hahaha, biasanya mandi sampai 20 menit. Jam 8 baru berangkat dari Denpasar, sampai di Selemadeg jam setengah 10, maklum perjalanan lintas 3 kabupaten, dan lokasinya belum pernah saya kunjungi, dengan kata lain tempat upacaranya tidak tahu.

Janji adalah hutang, dan harus dibayar, itulah prinsipku, karena sudah janji akan datang atas undangan mantan kekasih (sebut saja begitu). Sampai di rumah dia, sudah sepi. Jadilah tamu undangan terakhir. Disambut sama orang tuanya, seorang pejabat di kabupaten Tabanan. Rada-rada malu juga, bersyukur beliau baik sekali. Dan juga sudah kenal dulu waktu SMK, karena beliau pernah menguji saya waktu SMK. Begitu juga pernah pacaran sama anaknya waktu anaknya kelas 3 SMP, saya sudah kelas 2 SMK.

Bapaknya asik juga diajak ngobrol, tak terasa sampai lebih dari setengah jam. Aku tak dikasih pulang, pokoknya harus nginap disana, begitu juga dia (anaknya) memintaku untuk nginap. Malu juga sih nginap di rumah orang.

Seusai ngobrol, gue ditinggal hanya berduaan sama anaknya, Asiiikk..! terus makan berdua, sambil ngobrol ngalor ngidul. Tak lupa kasih kado special bunga mawar import, padahal upacaranya potong gigi, mesangih. Aku kasih bunga, gara-gara dia minta boneka. Ada-ada saja, masak upacara mesangih minta boneka?

Terus aku juga kasih amplop, tapi isinya cuma 3 lembar uang kertas. Aku bilang, ‘Jangan lihat nilainya, yang penting aku datang’. Gemes juga lihat wajah dia saat tersenyum, langsung aku cubit pipinya, Haihai.. Sekarang dia imuts banget! padahal sudah semester 7 di UNUD.

Sempat juga ngobrolin tentang undangan yang datang, katanya tiga hari tiga malam ramai terus. Maklum saja sih, kegiatan dilaksanan seorang pejabat, biasa seperti itu. Undangan yang paling pertama datang bupati Tabanan, tapi undangan yang datang paling terakhir lelaki kampung seperti gue. Huahaha.. memalukan!

Jam setengah tujuh gue baru bangun, bangun kepupungan, padahal mau kerja. Dia gak mau bangunin, kasihan kecapekan, begitu katanya. Bangun kesiangan gara-gara nyamuknya galak banget, padahal sudah dikasih selimut. Terbangun jam 1 malam, dicium nyamuk centil, sampai merah-merah.

Hanya cuci muka di kamar mandi, langsung pamitan mau pulang karena mau kerja, sedangkan perjalanan lumayan jauh. Sempet juga ditawari makan pagi disana, tapi gak mau, malu! dan pulangnya dikasih jajan satu kantong plastik sama dia. Ehemm.. kenang-kenangan sang mantan. 

Sampai saat ini, aku tak pernah musuh-musuhan dengan mantan-mantan, semua baik denganku. Bersyukur aku tak pernah merubah cinta menjadi benci. Kalau benci menjadi cinta, itu pernah terjadi.

0 Komentar:

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts