e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

Rahasia Doa



Menurut ajaran Hindu, lebih baik mengagungkan Tuhan dengan kata-kata sendiri daripada menggunakan mantra Veda tetapi tidak tahu artinya (kecuali mantra pengobatan). Berlandaskan pada ajaran itu, maka sangat penting kita menggunakan doa dalam kehidupan sehari-hari. Di Bali, doa disebut dengan saha (dibaca: see), yaitu mengagungkan yang dipuja menggunakan bahasa hati / bahasa sendiri.
Ada sebuah pesan bijak yang patut direnungkan, dikatakan bahwa doa yang disampaikan tulus dari hati maka alam pun akan bergerak mewujudkan doa itu. Terlebih lagi apabila doa itu hingga membuat air mata berlinang, sungguh doa itu memang sebuah panggilan hati dan kerinduan pada Tuhan untuk memohonkan kebahagiaan mahkluk lain.
Entah kebetulan atau tidak, doa saya mudah terkabul ketika berdoa dari lubuk hati yang terdalam, menyerahkan masalah pada Yang Kuasa. Mislanya;
Ketika jauh dari orang tua, rindu pada mereka, sedih belum mampu membahagiakan mereka. Bisanya hanya meminta pada orang tua. Di situlah ada rasa sedih yang mendalam. Dan pada saat itulah berdoa, ingin melihat orang tua bahagia. Kadang sampai menitikan air mata. Setelah pulang ke rumah dalam beberapa bulan, kadang saya bisa melihat kebahagiaan ortu; usahanya lancar, penjualan hasil panen harganya cukup tinggi.
Tapi kalau lama tak pernah berdoa untuk kebahagian orang tua. Saat pulang ke rumah mendapati mereka sakit. Kalau gak bapak sakit, ibu yang sakit, pokoknya selalu saja ada masalah. Apalagi kalau sudah ada di rumah dalam waktu lama, bisa-bisa sama sekali tak pernah mendoakan orang tua. Entah kenapa kalau di rumah saya malas sembahyang, hanya bapak yang rajin sembahyang.
---
Suatu ketika, adik angkat yang sudah mulai remaja sedang sakit kepala dan panas dingin. Keluarga yang lain menganggap adik angkatku ini mengada-ngada sakitnya, dikira mencari alasan tak bantu ortu bekerja.
Orang sakit diperlakukan seperti itu pasti sakit hati, sampai adikku menangis. Sedih melihat adikku sakit malah diledek keluarga sendiri. Di situlah rasa keterpanggilan untuk mengobati. Aku kompress kepalanya, lalu berikan energi prana melalui telapak tangan disertai doa. Tak lebih dari setengah jam, sudah sembuh. Dan langsung bisa membantu orang tua.
Begitu juga pernah melihat ipar terkapar sakit demam sudah dua hari, tapi tak ada yang peduli. Ada rasa sedih timbul jika melihat orang sakit tak dipedulikan. Saya coba kompres kepalanya dengan air hangat, dan berikan energi prana disertai mantra gayatri. Tak lama kemudian sudah bisa makan, dan besoknya sudah normal.
Keponakannya juga pernah begitu, sakit muntah-muntah dan demam, dibawa ke rumah sakit. Tak diijinkan untuk pulang. Ketika baru pulang dari Denpasar, mendengar kabar keponakan sakit, saya cari ke rumah sakit. Di ranjang pasien dia terkapar, tak bergerak, lemas terkulai. Ternyata penyebabnya keracunan minuman kadaluarsa.
Ingin sekali melihat dia tersenyum. Saya memberikan energi prana pada perutnya, dan pada cakra ajna (mata ketiga). Setelah 15 menit, matanya dibuka dan tersenyum, langsung memelukku. Ipar saya tak percaya kalau anaknya melihatku dalam keadaan sadar, dikiranya linglung. Padahal sadar sesadarnya, dan dia minta makan.
Setelah diberi bubur, muntah-muntah lagi. Padahal makannya dengan semangat. Mungkin perutnya masih belum mampu untuk menyimpan makanan. Tetapi hari itu juga diijinkan bisa pulang dari rumah sakit karena sudah terlihat membaik.
Keponakanku ini manja sama saya, kadang saya diperlakukan lebih dari bapaknya sendiri. Kalau sembahyang sekeluarga, pasti minta digendong sama saya. Hal ini terjadi karena waktu kecil, ketika pertama kalinya saya menggendongnya, saya bisikan gayatri mantra dan doa di telinganya. Akibatnya, ketika masih kecil kalau menangis jika saya yang mendiamkan cepat redam tangisannya. Kalau mau makan minta disuapin. Seneng kalau melihat anak manja, karena saya sendiri manja sama orang tua.
----
Sekitar dua tahun lalu, kakek saya terjatuh di jurang, hingga tak bisa jalan, tak bisa bangun, tak bisa duduk. Tulang punggungnya patah, tangannya, kakinya, semua patah. Tak bisa buang air besar dan buang air kecil dengan normal, sehingga BAB menggunakan alat bantu, buang air kencing menggunakan selang.
Sudah diobati secara medis tapi tak jua sembuh, kemudian diobati secara non-medis baru bisa baikan. Tapi belum juga bisa berdiri. Semua sedih melihat kakek seperti itu, berbulan-bulan, tak juga bisa berdiri. Apalagi jalan. Semua keluarga mendoakan kesembuhannya, termasuk saya.
Sedih sekali melihat kakek hidup sengsara seperti itu, padahal biasanya kekuatannya mengalahkan saya bila bekerja, mencakul, dsb. Tapi sejak terjatuh ke jurang, jangankan bekerja, berdiri pun tidak bisa. Bapak saya terus mencoba mengobati, begitu juga rutin diperiksakan secara medis, begitu pula dicarikan pengobatan non medis secara rutin. Dan saya pun ikut mengobatinya (sebelumnya gak berani, gak percaya diri, malu).
Saya coba berikan energi prana pada seluruh tubuhnya. Saya lakukan berulang-ulang, 3 kali dalam seminggu. Kemudian saya balik ke denpasar.  Kadang saat sembahyang mendoakannya agar kakek bisa normal. Dua minggunya pulang kampung mendapat kabar kalau kakek sudah bisa jalan meski masih membutuhkan tongkat. Dan sekarang sudah bisa bekerja seperti dulu.
Sedih melihat orang menderita, itu sudah biasa. Bahkan mungkin saya tergolong lelaki cengeng, mudah terketuk hatiku jika melihat orang menderita, padahal saya sendiri menderita. Bagaimana jika melihat hewan atau binatang yang menderita? saya pernah hampir menitikan air mata melihat anak anjing ganteng dipukul dengan sapu lidi yang cukup besar.
Waktu itu sedang duduk di warung, entah apa yang dimakan anak anjing itu, hingga membuat si empunya rumah marah sekali dan memukul anak anjing itu hingga sekarat. Orang yang memukul anak anjing itu meminta kepada anaknya untuk membuang anak anjing itu (dikiranya sudah mati). Tapi saya gak ngasih..
Tertegun melihat anak anjing itu sekarat, timbul rasa iba, mataku berkunang-kunang karena sedih, hampir menitikan air mata. Saya ambilkan air, husap-usap tubuhnya, berikan energi prana melalui telapak tangan sambil mengucapkan gayatri mantram berulangkali dan berdoa untuk kesembuhan anak anjing itu. dan anak anjing itu mulai bernafas dan menggerakan tubuhnya. Meski masih terkapar, saya berikan air ke mulutnya, lidahnya pun dikeluarkan dan mau menelan air. Tak lama kemudian, anak anjing itu bangun dan berjalan. Di situlah kadang saya menemukan kebahagiaan dan terharu melihatnya bisa hidup lagi.
----
Di suatu pura, aku sembahyang di pura, di antara keramaian. Entah kenapa ada rasa rindu yang sangat mendalam kepada seorang gadis yang telah menolak cintaku, mencampakan diriku. Meski begitu, aku tak pernah membencinya, cinta suciku tulus dari hati, dan mencintainya adalah bahagiaku. Aku ingin sekali sembahyang dengannya, hingga aku larut dalam doa dan bawa-bawa nama dia ke dalam doaku, memohon kepada leluhur, kepda dewa-dewi dan kepada Mahadewa untuk mengijinkan bisa bersembahyang dengannya meski hanya sekali, rasanya air mataku sudah berlinang, tapi karena ramai, aku paksakan  agar tidak sampai keluar air mata.
Selesai sembahyang, berjalan mau sembahyang ke Pura yang satunya. Karena ramai juga, menunggu antrian. tiba-tiba datang bapak sang pujaan hati dari belakang dan diikuti sang pujaan hati. Bapaknya mengajakku untuk sembahyang bersama, sambil lalu mengobrol ini itu, tak lupa melirik anaknya yang manis senyumnya yang telah membuatku merana sepanjang masa. Jantungku berdebar-debar ada dia di dekatku.
Usai menunggu antrian, langsung sembahyang bersama. Dia di sebalah kiri bapaknya, saya sebelah kanan. Senengnya, ternyata doaku terkabul.
Entah kenapa sampai saat ini, anak gadis itu belum mampu aku tundukan, padahal sudah dua tahun lebih aku mendedikasikan cintaku hanya untuknya. Dan saat ini berusaha untuk tidak lagi mengharapkan cinta darinya dan berusaha pura-pura membencinya. Ingin rasanya menyandarkan kesendirian ini pada gadis lain yang bisa mencintaiku.
Berkaca dari hal itu, ternyata benar sebuah doa yang tulus dari lubuk hati, alam pun akan bergerak untuk mewujudkan doa itu. Cerita ini bukan pamer tetapi sekedar berbagi pengalaman tentang kekuatan sebuah doa.





Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts