e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

Ngeri! Gadis itu Berdarah

Waktu dalam perjalanan mau pulkam, sekira jam setengah enam sore di jalan raya celuk, di depan mata melihat seorang gadis terjatuh dari motor. Gadis itu menyenggol seorang ibu-ibu jalan kaki, hingga tangannya lecet, sedangkan gadis apes itu terjungkil dan terseret motor.

Warga pun berdatangan untuk menolongnya, termasuk gue. Pada punggung telapak kakinya sampai di atas pergelangan kakinya terluka sekira sejengkal lebih, digesek aspal. Ihh pasti perih tuh! Gue tinggal gadis itu meski dilihat dari pelat kendaraannya berasal dari daerah yang sama (Kintamani/
Bangli). Tapi gue ke apotik beli salep, kasihan lihat dia terluka.

Balik dari apotik, gue lihat dia tetap tegar, hebat! padahal sudah berdarah kakinya. Dia bersihkan lukanya pakai air. Setelah dikeringkan, gue suruh obatin lukanya, eh gak mau. Paksain dikit, dan dia pun mau. Gadis itu mulai merasakan perih. Jadi kasihan lihatnya. Hiks!

 

‘Bli dari mana?’
‘Dari Kintamani.. kamu dari Kintamani juga kan?’
‘Gak,, dari Bangli’

 

Melihat kedipan matanya, saya curiga kalau dia berbohong. Soalnya agak berbelit-belit juga. Melihat gestur tubuhnya saat berbicara, gue yakin dia berbohong soal asalnya. Seolah ada sesuatu yang dia sembunyikan. Tapi gak penting dia darimana, yang penting dia terobati.
Awalnya saya mengira gadis itu sudah kuliah, eh ternyata masih SMA. Pertanyaan saya sama dia cuma ingin tahu asalnya, tak lebih tak kurang, meski gadis itu lumayan cantik.

 

Tak lama berselang, datang ibu-ibu yang disenggol, datang bersama suaminya. Wajah suaminya agak garang, dia nanya bernada protes. Sepertinya dia ingin minta ganti rugi, mungkin mau minta uang pengobatan, karena tangan istrinya lecet. Warga yang hadir disana, yang sempat melihat kronolginya menjelaskan kalau gadis itu diserempet orang lain dan menyenggol ibu itu. Tapi suaminya ngotot bahwa istrinya ditabrak. Dari gaya bahasanya, sepertinya dia orang pendatang dari pulau seberang. Warga ramai-ramai menjelaskan kronologinya dengan nada keras juga, sempat memanas.
 

Gue sebagai orang yang belajar hukum, hanya diam, rencananya mau skak mat, sudah siapkan kata-kata. Saya mau bilang kalau yang bersalah justru istrinya karena berjalan tidak di trotoar, dia berjalan di medan jalan. Kalau dibawa ke ranah hukum, bisa jadi yang bersalah justru si ibu itu. Saya tak jadi berbicara, keburu bapak itu hilang keberaniannya gara-gara gadis itu dibela banyak orang.
 

Merasa dimintai pertanggungjawaban, gadis itu mau menyerahkan uang ganti rugi. Tapi bersyukur tak diterima. Kalau diterima, orang itu (yang menerima) bisa tertimpa musibah lagi. Menurut nasehat ortuku, ketika tertimpa musibah tidak dibolehkan minta ganti rugi, kecuali atas inisiatif orang lain untuk memberi. Secara niskala, tindakan meminta ganti rugi ketika terkena musibah, akan berakibat fatal, sama dengan menciptakan musibah baru, memindahkan penderitaan orang lain pada kita.
 

Perkiraan gue dari sikap gadis itu, sepertinya dia memang salah, mungkin dia bawa motor sambil melamun, memikirkan cowok. Soalnya jalanan agak sepi. Itu hati nurani gue yang berbicara.
 

Setelah dia merasa bisa jalan, gue antar dia ke rumah sakit Ganesha di celuk. Waktu berjalan dari parkiran mau masuk ke rumah sakit, sempat berpikir untuk mengangkat tubuhnya, biar seperti di film-film. Tapi melihat tubuhnya padat berisi, urungkan niat, apalagi fisik gue kurus kering kerontang bin ceking, Huahahaha. Mana bisa mengangkat cewek padat berisi!
 

Berjalan cuma berdua seperti orang sudah pada akrab. Mau menuntun dia berjalan canggung bangets, lama sekali berpikir untuk berani menggenggam tangannya. kasihan dia berjalan terpincang-pincang. Setelah masuk ruangan rumah sakit dan sudah nanya letak UGD, Berjalan mau menuju ruangan UGD di lantai 2, sudah berani mau memegang tangannya tapi gak kena. Sialan... Malah semakin membuat canggung, salah tingkah sendiri. Areeehhh.. kacau!
 

‘Kenalan dulu dong! aku A*** Tris**’
‘Merta Mupu.. pernah dengar nama saya?’ selorohku sambil berjabat tangan. Duuh lembut tangannya.
‘Gak.. makasih ya bli sudah mau nganterin’
‘Ya.. santai aja..’

 

Setelah sampai di lantai 2, langsung nyelonong ke ruangan UGD tanpa daftar, biar lebih cepat. Daftarnya belakangan. Dia langsung duduk di ranjang pasien, dan diperiksa dokter. Kemudian ditinggal dokter, menunggu perawat karena menurut dokter tidak sampai luka dalam (patah tulang), hanya terluka bagian luar.
 

Sambil menunggu perawat, melihat dia agak menjerit, ingin rasanya mengobati dia dengan pengobatan Prana. Sudah gosok-gosokan telapak tangan untuk mengaktifkan cakra tangan, melihat orang ramai dan melihat wajah manisnya, gue jadi malu. Takut dianggap sok-sokan, soalnya kalau mengaktifkan cakra tangan itu perlu konsentrasi dan harus memohon kekuatan kepada Yang Kuasa. Melihat situasi tak memungkinkan untuk memusatkan pikiran, batal deh.
 

Setelah datang perawatnya, lukanya dibersihkan digosok-gosok. Duuuhh dia menjerit kesakitan. Gue jadi ngeri lihatnya. Tega banget perawatnya main gosok kasar gitu, gue lagi disuruh pegang kakinya. Ikut merasakan sakitnya, seakan kaki gue yang terluka. Ih ngeri!
 

‘Pelan-pelan mbak.. tega banget keras-keras begitu’ aku protes sama perawatnya.
‘Kalau pelan-pelan mana mau bersih, gak bisa keluar pasirnya..’
‘Pelan-pelan dok.. pelan dok..’ gadis itu rewel.

 

Setelah dibersihkan, diobati dan diperban, gue diminta untuk daftarkan dia di tempat pendaftaran di luar ruangan UGD. Gadis itu ngasih gue KTP. Tapi anehnya gue kok gak kepikiran melihat identitas dia yang sebenarnya. Gue langsung serahkan KTP-nya ke pendaftaran.
 

‘Bapak siapanya pasien?’ lama tak jawab, garuk-garuk kepala, bingung mau bilang siapanya. Kalau bilang pacarnya nanti kalau dia tahu gue bilang gitu, bisa berabe, memalukan.
‘Apanya ya, bu. Saya sendiri gak tahu. Soalnya tadi ketemu di jalan’
‘Saya buat temannya saja ya.. soalnya harus ada penanggungjawab
’ penjaga itu menjelaskan.
‘Ya dah, bu. ’
‘Tinggal tunggu aja ya.. ’
‘Sudah dirawat kok pasiennya, bu’
‘Ohh gitu.. kalau begitu tunggu obatnya, nanti kalau dipanggil baru kesini’

 

Sudah lama menunggu, belum juga dipanggil. Hari sudah malam, kira-kira setengah delapan. Dia menyuruhku pergi duluan, karena sudah malam dan perjalanan cukup jauh; lintas 3 kabupaten. Gue bilang tak apa-apa kemalaman, sudah terbiasa pulang malam, dan lebih penting lagi tercantum sebagai penanggungjawab pasien. Sebenarnya takut sih pulang malam, selain dingin, juga takut kehujanan, apalagi di facebook ramai buat status di Bangli lagi hujan lebat dan angin ribut. Di ruang UGD juga ada ibu-ibu yang bocor kepalanya tertimpa atap rumah yang diterbangkan angin. Katanya, kejadiannya barusan.
 

Lama menunggu, gadis itu mendekati orang yang menjaga tempat pendaftaran, gue mengikutinya. ternyata obatnya sudah disediakan, tinggal ambil dan membayar biaya perawatan dan obat. Ingin rasanya gue yang bayarin. Yang ada dalam pikiran gue, kalau dia kekurangan uang, mau bayarin juga. Eh setelah mau bayar, ternyata dompetnya tebal, si merah berbaris rapi.
 

‘Wuiihh.. lumayan juga’ suara hatiku berdecak kagum.

Agak kaget juga melihat gadis Sma dompetnya tebal, padahal hari sabtu yang biasanya anak sekolahan terserang kanker, kantong kering. Dompet gue sendiri aja tinggal isi si merah selembar, 100ribu. Ngenes! Huahahaha. Itu pun sisa gaji, maklum mahasiswa kerja sampingan, gaji tak cukup sebulan meski gaji sesuai UMR provinsi Bali.

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts