e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

Mubazir, Ogoh-Ogoh Sebaiknya Dihapuskan

Setiap menjelang Nyepi, kaula muda selalu disibukkan dengan pembuatan ogoh-ogoh. Biaya dan waktu yang dihabiskan tak tanggung-tanggung. Waktu yang dihabiskan bisa sebulan, bahkan lebih, sedangkan pembiayan mencapai puluhan juta. Untuk membuatnya pun dengan meminta sumbangan sana-sini. Bahkan ada yang seperti pengemis.
 Kehadiran ogoh-ogoh dalam upacara pengrupukan sebenarnya tidak penting, bahkan tidak memiliki nilai religius. Hanya kaya kreatifitas, namun miskin dari segi ritual. Kehadiran ogoh-ogoh dalam ritual pengrupukan hampir tak memiliki dasar atau tak ada sumber sastra, baik secara tradisi maupun dalam sastra tertulis.  
 Ogoh-ogoh pada mulanya berbentuk ‘usungan jenazah’ untuk meramaikan ritual “Pradaksina Desa” yaitu membawa obor keliling desa. Atas kreativitas orang Bali, agar lebih seru saat keliling desa membawa obor, dibuatlah ogoh-ogoh yang menyeramkan sebagai symbol bhuta kala, diarak keliling desa.  
Keliling membawa obor ini tujuannya untuk ‘nyomia’ mahkluk-mahkluk halus, mahkluk pengganggu supaya kembali pada tempatnya, agar tidak mengganggu kehidupan manusia. Sebelum pradaksina desa, dilakukan keliling membawa obor mengelilingi rumah. Tradisi ini hampir punah, dengan disederhanakan menjadi membakar “sambuk” atau serabut kelapa di pekarangan rumah. Pada intinya, ogoh-ogoh itu tidak penting dalam acara pengrupukan, yang terpenting adalah ritual nyomia bhuta kala. Seharusnya ogoh-ogoh dihapuskan, terlalu mubazir.  
Coba kita hitung berapa uang yang hangus terbakar hanya karena ogoh-ogoh? silakan hitung berapa jumlah desa di Bali, lalu anggaplah satu desa ada 3 ogoh-ogoh dengan biaya 2 juta. Coba saja, uang seperti itu digunakan untuk membantu orang jompo, anak terlantar, orang cacat. Betapa mereka akan bahagia. Dengan demikian kita bisa ikut berpartisipasi membangun keadilan social sesuai amanat UUD; Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara Negara. 

Yang setuju, monggo dibagikan/
share ke teman-teman!
…………………
*Pradaksina Desa istilah buatan sendiri, dihubungkan dengan pradaksina mengelilingi pura 3 kali.

Untuk diskusi klik
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10200848779181664&id=1829696790&refid=17&_ft_&__tn__=*s

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts