e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

Menabrak Mobil Kepala Dinas Disperindag

Beberapa hari minggu ini rada-rada sial, bikin kesal, marah, campur aduk. Tapi kadang bikin tertawa.
Minggu lalu, bonceng teman dari Denpasar-Pecatu
, waktu di pertigaan menuju jalan Tol laut Bali, dekat Bandara Ngurah Rai, hampir terjadi kecelakaan gara-gara teman yang dibonceng ternyata tidur di belakang, sehingga motor oleng kanan-kiri, untung bisa menghindari mobil yang hampir nyenggol dari kanan-kiri. Kalau teman itu terjatuh, bisa-bisa dilindas mobil. Kejadian itu cukup membuat jantungku berdebar-debar.
--
Kemarin lain lagi ceritanya. Dari Renon mau ke Manggis, Karangasem, ditilang polisi gara-gara gak bawa SIM C, gue bawanya SIM A. Padahal sudah lihat ada razia, terus gue gantian bawa motor sama temen yang bawa SIM C, tapi sialnya, dilihat sama polisi.

STNK diambil sama Polisi. Polisi itu minta uang pelicin 50ribu, tapi gue gak mau. Gue bilang, lebih baik sidang daripada bayar.

“Ya silakan sidang, tapi motornya saya sita”
‘Loh! apa-apaan ini, saya kan cuma melanggar gak bawa SIM C. Saya akan bawa motornya, dan saya minta surat tilangnya, saya akan hadiri sidangnya di pengadilan’
Mendengar kata-kata gue yang bernada tinggi, polisi itu merah wajahnya.
“Ini surat tilangnya, lihat disini ada tanda tangan saya..” bicaranya tinggi sambil menunjukan surat tilang, bibirnya bergetar. Tapi gue gak takut.
“Sini bawa surat tilangnya, saya akan tanda tangani’
“Kalau begitu, silakan ngadil beberapa hari lagi, dan motornya saya akan naikan ke mobil”
“Oke,, tapi nanti dulu..”

Entah kenapa, gue kadang kalau berurusan dengan polisi, pejabat dan sejenisnya, mudah terbawa emosi, gak mau ngalah, meski salah tapi tetap melawan, bahkan seolah-olah menantang. Tapi kalau menghadapi orang lembut, gak bisa keras meski pun berada pada posisi benar. Kayaknya perlu diseting pola pikirku dan berusaha mengendalikan emosi.

Lanjut..
Gue segera menghubungi temen yang kerja di polsek Sanur. Berulang kali dihubungi gak diangkat, terus gue hubungi temen polisi yang kerja di Dit Sabara Polda Bali, tapi gak diangkat juga. Mungkin lagi tugas. Sial puuk!

Polisi yang sempat marah-marah, sibuk menyetop motor yang lewat, dan mereka ditilang, tapi kebanyakan damai dengan uang pelicin.

Gue datangi polisi yang satunya, gue tanya polisi yang bertugas itu dari polsek mana, ternyata polsek Denpasar Timur. Terus gue datangi polisi yang marah-marah tadi, minta tolong untuk menghubungi temen saya yang kerja di polsek sanur, tapi polisinya gak mau. Terus gue tanya, apa bapak kenal dengan pak Nyoman B**** yang kerja di Dit Sabara Polda Bali. Polisi itu bilang gak kenal, dia bilang polisi itu ada ribuan.

‘Ya udah.. kalau kamu punya keluarga di kepolisian, ini kuncinya saya kembalikan. Tapi kasih kek saya uang dikit biar ada untuk minum’ ujarnya sambil memberikan kunci dan STNK. Gue pura-pura cari uang di kantong, dan bilang hanya bawa uang 5ribu, padahal bawa 70ribu. Terus nanya sama temenku, dia juga bilang gak bawa uang sama sekali. Dan akhirnya sama sekali gak bayar, dan gue dibiarkan pergi. Sebenarnya kalau hanya 10ribu, 15 ribu saya iklas ngasih ke polisi bukan untuk nyogok, tapi karena polisinya pengertian, atau baik hati.

Gue gak kasih uang sama sekali, karena uang di kantong 50ribuan. Sedangkan yang 20ribu ternyata di kantong jaket, waktu cari gak ketemu.

Gue jadi teringat pesan bijak dalam Panca Tantra, bahwa hanya dengan mendengar kebangsawanan (jabatan) seorang teman, orang lain akan berdamai dengan kita. Hal ini terjadi karena seseorang merasa senasib sepenanggungan,
satu rasa, seiman, sehingga merasa bahwa keluarga seseorang yang sederajat dalam jabatan, dianggap keluarganya, rasa persaudaraannya muncul.
Contoh lain, misalnya ketika seseorang pergi ke Kota, terus bertemu seseorang dari desa yang sama dengannya, maka orang bersangkutan dianggap keluarganya, padahal ketika di desa bahkan tak kenal, dan biasa-biasa saja, akan tetapi ketika berada di kota, menjadi berasa seperti nyama (saudara), rasa persaudaraan dan kedaerahan jadi datang. Aneh memang, tapi itulah yang terjadi.

Begitu juga ketika seseorang seiman dalam agama minoritas, tetapi berada di lingkungan mayoritas, maka rasa seiman itu membuat dia menjadi seperti keluarga. Misalnya ketika orang Hindu Bali ke Sulawesi dan bertemu temen dari Bali disana. Ketika ada disana, orang Bali itu pasti berasa bersaudara, padahal kalau mereka sama-sama di Bali, kenal saja gak, bahkan cuek meski dari desa tetangganya, apalagi berbeda Kabupaten.

Demikian pula dalam hal jabatan atau pekerjaan, ketika seseorang merasa satu jabatan, pasti rasa persaudaraannya
muncul. Oleh karena itu, ketika berurusan dengan seseorang yang memiliki jabatan, kita tinggal sebut saja nama teman atau keluarga yang memiliki jabatan serupa.
--
Waktu hari minggu, ceritanya lebih parah dan urusannya belum selesai.
Sepulang dari The Natural Hotel (Pecatu), tempat acara pernikahan artis Revalina S. Temat, habis kirim bunga papan ucapan selamat, pesanan dari Raam Punjabi. Bawa mobil, temannya yang nyopir, saya hanya menemani.

Di Jalan tukad Pakerisan, saya kaget dan berteriak, mobilnya oleng ke kanan, menyeruduk mobil hitam bagian badan mobil dan bagian belakang. Suara benturannya keras. Hampir juga menggilas pengendara motor, ada seorang yang terjatuh dan yang lainnya berhasil menghindari mobil yang dibawa temenku. Temenku bilang kalau tadi dia gak sadar bawa mobil, mengantuk berat. Kemarinnya habis nonton konser di GWK sampai jam 2 malam. Tak lama kemudian, saya langsung turun dari mobil. Jalanan sudah macet.

Saya mendekati sopir yang ditabrak mobilnya, bapak itu wajahnya sangar, berbadan tegap. Tapi entah kenapa, saya gak merasa takut. Saya malah tepuk bahunya meminta untuk tidak marah. Untung gak dijontos. Saat-saat seperti itu, kadang saya sok jagoan. Areehh!

Mobil yang dibawa temenku bagian depan sebelah kanan sudah bonyok, ban depan sampai berputar 90 derajat, apit udangnya lepas, shok bakernya juga lepas. Kalau gak seperti itu, mungkin sudah memakan korban. Untung ban depannya menjadi rem. Mobil sudah gak bisa digerakkan, jalanan jadi semakin macet.

Temanku sudah kebingungan dan agak ketakutan, apalagi melihat bapak itu marah-marah dan minta SIM dan KTP, tapi teman saya gak ngasih SIM malah ban mobilnya digeser-geser, padahal gak mungkin bisa digerakan pakai tangan.

Merasa diabaikan, sopir itu marah, dan ditemani seorang ibu-ibu, penampilannya parlente, dia agak membentak untuk minta SIM dan KTP. Dia memanggil temannku ke pinggiran jalan. Karena temenku ragu-ragu mau ngasih SIM, saya minta dia untuk memberikan bapak itu SIM. Setelah diberi SIM, bapak itu juga minta KTP. Wuaahh parah juga itu orang, seharusnya kan hanya minta SIM, atau hanya minta KTP.

Saya menghubungi bos, bilang kalau tabrakan, mobilnya rusak, tapi malah disuruh urus sendiri. Mendengar jawaban seperti itu, jadi emosi. Sialan, padahal seharusnya perusahaan bertanggungjawa
b sepenuhnya apabila terjadi kecelakaan. Saya minta temenku untuk mematikan HP-nya, biar sekalian tak bisa dihubungi, tapi gak mau. Sedangkan HP saya sudah mati.
Ibu-ibu yang terlihat parlente ngomel-ngomel ke temenku. Dan temenku minta maaf dan mengakui kesalahannya bahwa dia mengantuk bawa mobil. Ibu itu bilang untuk memberikan jawabannya di kepolisian. Tanpa memberi identitas, dia mau pergi. Tapi saya cegah ibu itu pergi, meminta ibu itu untuk menunjukan identitasnya, dan meminta bapak yang bawa mobil untuk menujukan SIMnya. Keduanya gak mau menunjukan identitasnya, tapi saya ngotot meminta untuk menunjukan KTP atau SIM. Bahkan kata-kata saya bernada tinggi. Saya bilang biar adil, harus sama-sama menunjukan kartu identitas. Ibu itu marah.

“Ngapain kamu minta sim dan KTP? yang salah itu kamu”
‘Loh.. kan biar sama-sama tahu. Mana KTP ibu?’
“Gak bisa.. kita urus saja di kepolisian, saya sekarang langsung mau ke polisi, biar polisi yang menentukan, karena ini mobil dinas”

‘Ya silakan! tapi tunjukan dulu SIM bapaknya, atau identitas ibu’ saya tetep ngotot, curiga kalau yang bawa mobil gak bawa SIM. Saya juga gak percaya begitu saja dibilang mobil dinas, soalnya plat mobilnya hitam.

‘Kalau kamu ngotot minta identitas saya, saya pakai tanda terima saja sebagai bukti kalau saya yang bawa SIM teman kamu’ ujar ibu itu, dan meminta nota di toko HP. Saya disuruh menandatangani.

“Kamu salah loh.. tapi kamu kok ngotot gitu?” tanya seorang bapak diantara kerumunan. Saya jelaskan biar sama-sama kenal, makanya saya minta identitasnya. Bapak itu nanya saya darimana, saya bilang dari Kintamani tapi bekerja di Renon.

“Kintamani apa?”
“Songan pak”
“Songan apa?”
“Songan B, bapak tahu Songan?”
“Tahu, saya punya teman dari Songan. Kenal dengan pak Jero Gde T***?”
“Beliau keluarga saya, yang bapak maksud yang pernah jadi calon DPR Provinsi kan pak?”
‘Ya pak jero itu daahh.. ’

Bapak itu jadi bersikap akrab sama saya, saya tanya bapak itu dari mana, dia ternyata asli sana, dinas di ***, mungkin bapak itu juga orang yang suka politik. Saya diminta menghubungi pak jero, saya bilang ya, padahal sudah gak punya nomornya. Bapak itu juga ngasih tahu bengkel mobil terdekat. Pokoknya, bapak itu jadi baik. Kasusnya sama seperti pada kasus di atas. Hanya karena merasa kenal dengan orang politik, bapak itu jadi merasa bersaudara dengan saya, padahal hubungan keluarga sudah lumayan jauh dengan bapak yang saya katakan sebagai keluarga sendiri.

Ibu-ibu dan sopirnya sudah pergi, setelah memberikan tanda terima dan memberikan nomor teleponnya.
Saya dan temanku jalan kaki cari bengkel, ternyata tutup, balik lagi. Biar lebih tenang otaknya, saya beli jus buah dulu, sampai sore baru bisa mindahan mobil ke bengkel. Meski sebelumnya sempat menghubungi mobil derek, tapi gak jadi karena bayarnya ternyata setengah juta lebih. Dan dijemput pakai mobil sama temen kerja yang lainnya.

Gak gue ceritaain lengkapnya.. capek ngetik.
Malam harinya dihubungi sama bapak yang mobilnya ditabrak, setelah nganter sepupu ketemuan dan ke pasar senggol nyenggol cewek, biar gak setres, huahaha.

Bapak itu nanya kapan bisa datang kesana, mau urusannya di kantor apa di rumah pribadi ibunya? saya bilang besok datang kesana, tapi di rumah ibunya mau diurus secara kekeluargaan. Tapi baru boleh kesana sore atau malamnya karena ibu itu paginya apel dan siangnya rapat di kejaksaan.

Esoknya siangnya, disuruh ke kantor karena setelah berkonsultasi kepada pihak kantor, harus diselesaiakn sesuai prosedur. Saya disuruh datang ke kantor disperindag sama temannya. Sampai disana, berurusan dengan orang yang mengurus bagian itu. Ternyata orang itu kenal dengan bos saya setelah ditanya saya kerja dimana. Dan yang membuat saya kaget, ibu yang saya lawan ngotot-ngototan
ternyata kepala dinas Disperindag provinsi Bali. Parah gue!
Urusannya belum selesai, tapi diberi kemudahan tidak akan dibawa ke kepolisian, dengan syarat ganti rugi sesuai kerusakan mobilnya, sekitar 2 juta. Belum lagi ganti rugi kerusakan mobil bosnya.

Bikin kepala pusing, meski sebenarnya bukan saya yang bertanggung jawab tapi temenku, akan tetapi secara moral saya juga merasa ikut bertanggungjawa
b. Makanya mau ribut-ribut sama pejabat. Temennya rada-rada takut berbicara sama orang-orang seperti itu. Kalau saya santai saja, anggap sama saja. Toh sama-sama makan nasi. Hahaha..

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts