e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

Agar Mantra Guna-Guna Mujarab/Manjur

Akhir-akhir ini sering mimpi hal-hal yang lucu, dan cukup membuat saya tersenyum ketika terbangun dari mimpi. Dua hari yang lalu, mimpi mendapat anugerah mantra dari dua orang pengelana. Diajarkan mantra mencegah tanaman agar tidak diserang hama dan penyakit.

Dalam mimpi itu melihat tanaman cabai diserang penyakit membusuk pada buah. Datanglah dua orang pengelana separuh baya, salah satu dari mereka menasehati saya agar menggunakan mantra pencegah hama dan penyakit agar bisa panen raya. Cara penggunaannya; petik buah tanaman yang membusuk, kemudian diberi mantra sambil digenggam di telapak tangan. Setelah diberi mantra, tebar ke tegalan pada tanaman yang diserang hama dan penyakit.
Sudah siap untuk menerima mantra, saya duduk bersimpuh, salah satu pengelana itu mengajarkan mantra pada saya untuk dihafalkan. Pengelana itu berujar, ’ikuti apa yang saya katakan’. Mendengar kata-kata itu, saya pun mengikutinya.
“Iih, iih, ih… Apan ragaku sekadi kedep melelet, angilangang sakancan sarwa butani.. ”


Belum selesai diajarkan mantra itu, aku tersadar, gara-gara suara itu sampai tembus ke alam nyata. Antara sadar dan tidak sadar, saya mendengar mantra yang keluar dari mulut. Setelah betul-betul sadar, malah saya tersenyum sendiri, dan protes dalam hati. Adehhh… kenapa setengah-setengah diajarkan.


Ibu saya dulu pernah bermimpi mendapat mantra di alam mimpi, dan dicoba, ternyata ampuh. Mimpi mendapat mantra untuk menyembuhkan orang yang sakit ‘carub’, tetapi sekarang sudah dilupakan karena sudah tak pernah ada orang sakit carub.


Ngomong-ngomong
soal mantra, pernah ada teman saya yang katanya suka belajar mantra guna-guna, mantra pengasih-asih, mantra yang digunakan untuk mencari cewek. Tetapi lucunya, dia hanya belajar mantranya saja, tanpa memperhatikan aturan memantra. Dia protes, kenapa mantranya tidak manjur, tidak mujarab. Gue sih gak mau ngasih tahu caranya, takut kalau disalah gunakan, karena dia sudah hafal banyak mantra.

Sebenarnya, mantra guna-guna, mantra pengobatan, dan sejenisnya, memiliki tata cara menggunakannya,
tidak asal memantra. Jika asal memantra, sama seperti kata-kata biasa, tak bertuah. Agar mantra itu bertuah, ada berbagai aturan dalam pelaksanannya, misalnya;

Sebelum nyarik, mata tidak boleh berkedip, sebelum mantra satu paragraf, tidak boleh bernafas.
 

Hampir setiap mantra berisi pengater; seperti mobil harus ada sopirnya.

Mantra harus diberi ‘pengurip mantra’; seperti mobil harus dihidupkan dengan kuncinya. Pengurip mantra ini kadang berbeda dari masing-masing mantra.


Sarana yang digunakan harus diberi mantra pengurip sarana; seperti mobil harus berisi bensin. Kalau tak seperti itu, bisa mogok di jalan. Huahaha..


Itu saja sih intinya.. meski ada banyak etika memantra.


Kalau gue ditanya soal mantra, jawabannya selalu tidak tahu, karena memang tidak suka menghafal mantra, hanya tahu teorinya saja. Tapi dulu pernah coba-coba.. sekarang sudah lupa. Apa gunanya belajar mantra seperti itu, lagi pula wajah gue gak jelek-jelek banget, hanya standar.. Kalau dulua bapak saya terkenal sebagai ahli ilmu pelet. Hehehe,, sehingga kadang ada saja cewek yang takut sama gue, takut diguna-guna, padahal tak tahu apa-apa.


Ilmu bapak saya itu berevolusi; Konon, sebelum melahirkan saya senang sekali mendalami ilmu pelet, sehingga banyak yang meminta bantuan. Setelah memiliki anak, senang mendalami ilmu pengobatan dengan mantra, dan banyak orang bisa disembuhkan. Sekarang berbeda, tidak mau mengobati seseorang dengan mantra tetapi dengan melihat masa lalu pasiennya, artinya mencari tahu sebab-sebab pasien bisa sakit niskala. Kalau ada restu dari Yang di Atas, bisa melihat kejadian yang telah berlalu yang dilakukan orang yang sakit, walaupun orang yang sakit dari desa lain, atau bahkan dari kabupaten lain. Dengan cara melihat masa lalunya itu, tinggal memintanya untuk bertobat (guru piduka) atau membuat suatu ritual.


Contoh misalnya; ada orang yang sakit yang tak bisa disembuhkan dengan pengobatan modern, mencoba meminta bantuan. Ternyata setelah dilihat masa lalunya, ternyata keluarga yang sakit pernah menanam rerajahan di pekarangan rumahnya, dan rerejahan itu telah 'nadi' atau hidup dan berwujud sebagai kekuatan gaib. Seharusnya rerajahan itu sudah dicabut oleh si pembuat, tetapi dibiarkan karena lupa. Jika rerajahan itu mau dilebur, maka orang yang sakit biasanya bisa sembuh.

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts