e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

Perbedaan Patung dan Arca


Setiap Andi lewat di depan warung cewek ABG itu, cewek itu selalu buang muka, entah dia benci kepada Andi atau karena hal lain. Ingin tahu yang sebenarnya, pada suatu siang Andi berhenti di depan warung cewek ABG itu dan mebeli sesuatu yang dijual di toko ibunya, cewek itu sendirian, kebetulan tak ada ibunya. Saat Andi menanyakan harga barang yang dibeli, Andi menatap matanya, cewek itu tersenyum tetapi grogi. Ketika Andi membayar, cewek itu menerima uang Andi, tangannya gemetar, begitu juga saat memberikan uang kembalian, terlihat cewek itu grogi, bahkan nervous.

Tahukah kenapa cewek itu sampai seperti itu? hal itu terjadi karena Andi membawa kertas terlipat segi empat, bertulisan aksara suci dan ‘merajah’ atau bergambar dewa-dewi, berisi emas, dan sudah diupacarai. Barang itu buatan bapaknya yang tahu hal-hal magis. Awalnya Andi mengira itu hanya sebagai pelindung, tetapi ternyata lengkap berisi rerajahan yang dapat menarik hati orang yang melihatnya.

Meski sudah dewasa, Andi sering digodain cewek ABG, bahkan pernah diincar cewek SD, ternyata barang ‘sesikepan’ itulah yang menyebabkan Andi digemari banyak cewek. Selain itu, Andi juga lebih mudah mendapat simpati dari orang lain. Temannya sampai heran, kalau Andi jauh lebih mudah mendapat senyuman dari cewek-cewek daripada dia, padahal dia lebih muda daripada Andi.

Loh! apa hubungannya cerita itu dengan topik di atas? mungkin terasa tak nyambung, karena itu hanya sebuah analogi, atau sebuah contoh perbandingan.

Dalam diskusi agama, masyarakat Hindu sering disudutkan sebagai pemuja ‘berhala’, orang yang memuja patung, memuja hasil karya manusia sendiri. Hal ini terjadi karena mereka melihat dari kulit luarnya saja, tanpa mau memahami yang lebih dalam. Mereka menganggap orang Hindu memuja patung tok. Padahal sejatinya, media yang digunakan umat Hindu dalam memuja Tuhan adalah Arca, sebagai Linggan Ida Bhatara atau Tuhan yang Maha Pelindung.

“Arcanam pujanam- memuja-Mu dalam wujud Arca” begitulah salah satu bunyi doa atau mantra puja orang Hindu, merujuk pada Kramaning Sembah ke empat.

Arca dan patung meski seolah sama, akan tetapi sangat berbeda. Patung hanya hasil karya seni tanpa ada unsur kekuatan magis dari Yang Kuasa, sedangkan Arca merupakan patung yang telah disucikan, diupacarai, dan menjadi Singgasana Yang Kuasa, dewa-dewi, maupun leluhur. Bahan materialnya ditentukan berdasarkan aturan-aturan sastra atau kitab suci, demikian pula atribut-atribut
daripada dewa-dewi maupun Tuhan yang berpribadi (saguna brahman), penggambarannya dibuat berdasarkan uaraian-uraian sastra. Terdapat banyak uraian kitab suci mengenai tata cara pemujaan melalui media arca, demikian pula tata aturan membuat dan menyucikan patung menjadi Arca.

Patung bisa diletakan dimana saja, sedangkan Arca meligga di pura, di tempat suci. Ketika Arca hendak dikeluarkan, maka Arca dijunjung di atas kepala (disuun), sehingga leluhur, dewa-dewi, dan Tuhan dalam tradisi Hindu Bali sering disebut ‘Sesuunan’ atau junjungan.

Untuk memudahkan memahami perbedaan Arca dan Patung, kita bisa simak pada cerita di awal. Jika kertas yang telah dirajah, bergambar, tanpa diupacarai, tanpa adanya mantra puja, maka kertas itu hanya kertas biasa, sedangkan ketika kertas tersebut telah diupacarai dan dilakukan penyucian, maka kertas itu memiliki kekuatan gaib, kekuatan magis, karena telah diberikan energi kosmis, kekuatan dewa-dewi, dengan mantra suci. Demikian pula halnya dengan Arca, yang awalnya hanya Patung kemudian menjadi benda sakral yang dipuja dan disucikan.

Pemujaan menggunakan media Arca, lebih dianjurkan kitab suci Veda, meski memuja Tuhan tidak berwujud (Nirguna Brahman) juga dibenarkan, seperti dinyatakan dalam kitab Mahabharata, Bhisma parwa, bagian Bhagavad Gita.

Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda; Orang yang memusatkan pikirannya pada bentuk pribadi-Ku dan selalu tekun menyembah-Ku dengan keyakinan besar yang rohani dan melampaui hal-hal duniawi Aku anggap paling sempurna. Tetapi orang yang sepenuhnya menyembah yang tidak terwujud, di luar jangkauan indria-indria, yang berada di mana-mana, tidak dapat dipahami, tidak pernah berubah, mantap dan tidak dapat dipindahkan, paham tentang kebenaran Mutlak yang tidak mengakui bentuk pribadi Tuhan-dengan mengendalikan indria-indria, bersikap yang sama terhadap semua orang, dan sibuk demi kesejahteraan semua orang, akhirnya mencapai kepada-Ku. Orang yang pikirannya terikat pada aspek Yang Mahakuasa yang tidak berwujud dan tidak bersifat pribadi sulit sekali maju. Kemajuan dalam disiplin itu selalu sulit sekali bagi orang yang mempunyai badan. (Bhagavad Gita 12.2-5).

0 Komentar:

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts