e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

PENGETAHUAN TERTINGGI DAN MISTERI BESAR



BAB 9
PENGETAHUAN TERTINGGI DAN MISTERI BESAR

Jai: Jika Tuhan datang ke bumi, apakah Dia sama seperti kita, atau apakah Dia berbeda dari kita?

Nenek: Ini pertanyaan yang sangat bagus, Jai dan sudah dijawab dalam dua cara. Sebagai contoh, lihatlah rantai (kalung) dan cincin dan koin emas ini. Semua terbuat dari emas, sehingga engkau dapat melihatnya sebagai emas. Dan engkau dapat melihat hal-hal lain yang terbuat dari emas sebagai emas. Mereka emas dengan berbagai bentuk yang berbeda. Tapi engkau juga bisa menganggap mereka sebagai hal yang terpisah --- rantai, cincin, atau koin. Rantai, cincin, dan koin tidak lain hanyalah berbagai bentuk daripada emas. Dengan cara yang sama, kita bisa melihat Tuhan dan ciptaan-Nya sebagai perluasan dari Tuhan sendiri. Sudut pandang ini dikenal sebagai filsafat non-dualistik (atau Advaita). Sudut pandang lain untuk melihat Tuhan sebagai suatu kenyataan dan penciptaan sebagai suatu realitas yang berbeda, tetapi tergantung pada Tuhan. Filsafat Dualistik ini (atau Dvaita) menganggap benda-benda yang terbuat dari emas (seperti rantai, cincin dan koin) berbeda dari emas. (Gita 9.04-06)

Jai: Apakah itu yang dimaksud orang ketika mereka mengatakan bahwa Tuhan ada di mana-mana dan ada dalam segala hal?

Nenek: Ya, Jai, Tuhan adalah matahari, bulan, angin; api, pohon, bumi, dan batu-batu, sama seperti segala sesuatu yang terbuat dari emas adalah emas. Itulah sebabnya orang Hindu melihat dan menyembah Tuhan dalam batu dan pohon, seolah-olah Tuhan sendiri dalam bentuk-bentuk tersebut.  

Jai: Jika semuanya berasal dari Tuhan, apakah semuanya akan menjadi Tuhan lagi, seperti semua yang terbuat dari emas dapat melebur menjadi emas?

Nenek: Ya, Jai, siklus penciptaan dan penghancuran terus terjadi. Sama seperti mengembalikan rantai dan cincin dan koin menjadi emas lagi dan kemudian menggunakan emas yang sama untuk membuat perhiasan dan koin baru. (Gita 9.07-08). Seluruh ciptaan terus menerus muncul dan menghilang.

Jai: Jika kita adalah Tuhan, dan kita semua berasal dari Tuhan, lalu mengapa tidak semua orang cinta dan menyembah Tuhan?

Nenek: Mereka yang memahami kebenaran ini menyembah Tuhan. Mereka tahu Tuhan adalah Tuhan kita, dan kita berasal dari-Nya, bagi-Nya, dan kita bergantung pada-Nya, sehingga mereka mencintai dan menyembah-Nya. Tetapi orang yang bodoh tidak mengerti atau tidak percaya pada kebesaran Tuhan.

Jai: Jika aku berdoa kepada Tuhan setiap hari dan mencintai-Nya dan mempersembahkan bunga atau buah, apakah Dia akan senang dan membantuku dalam studi?

Nenek: Krishna mengatakan dalam Gita bahwa Dia memenuhi segala kebutuhan penyembah-Nya yang menyembah Nya dengan iman yang kuat dan pengabdian penuh kasih. (Gita 9,22)

Jai: Apakah itu berarti bahwa Tuhan hanya mencintai orang-orang yang berdoa dan menyembah Dia?

Nenek: Tuhan mengasihi kita semua sama, tetapi jika kita mengingat-Nya dan berdoa kepada-Nya, kita datang lebih dekat kepada Tuhan. Jadi kita semua harus berpikir tentang Tuhan, menyembah Dia, meditasi, dan sujud kepada-Nya dengan iman, cinta dan pengabdian.

Jai: Aku ingin dekat kepada Tuhan Krishna, nek. Bagaimana aku bisa lebih percaya pada-Nya dan lebih mencintai-Nya?

Nenek: Pikirkanlah semua hal yang menyenangkan yang telah dilakukan Tuhan bagi kita. Dia memberi kita begitu banyak makanan yang kita nikmati. Dia memberi kita matahari untuk pemanasan dan cahaya. Lihatlah langit yang indah dengan bulan, bintang-bintang dan awan di malam hari. Ini semua ciptaan-Nya yang indah, jadi pikirkan betapa indahnya sang pencipta! Menyembah Tuhan berarti mengucapkan terima kasih atas kebaikan-Nya. Berdoa berarti meminta apa yang kita butuhkan dari Tuhan. Meditasi berarti berhubungan dengan kekuatan Agung untuk mendapatkan bantuan dan bimbingan.

Jai: Jika hanya ada satu Tuhan yang memberikan kita segalanya, mengapa nenek punya begitu banyak Deva dalam ruang doa (ruang Poojā), nek? Kenapa nenek tidak menyembah hanya satu Tuhan Krishna?

Nenek: Tuhan Krishna berkata: "Mereka yang menyembah Deva-Deva lain, juga menyembah-Ku melalui para Deva." (Gita 9,23) Kita dapat menyembah Deva mana pun yang kita rasa dekat. Deva favorit itu disebut Ishta-Deva, Deva pribadi kita sendiri (atau malaikat pelindung) yang menjadi pemandu dan pelindung pribadi kita.

Jai: Mengapa kita mempersembahkan buah-buahan dan bunga kepada Tuhan?

Nenek: Tuhan Krishna mengatakan dalam Gita bahwa siapapun yang mempersembahkan kepada-Nya daun, bunga, buah, air, atau apa pun dengan cinta dan kesetiaan, Dia tidak hanya menerima, tetapi makan persembahan-persembahan itu! (Gita 9,26) Itulah sebabnya kita selalu mempersembahkan makanan kita kepada Tuhan dengan doa sebelum kita memakannya. Makanan yang dipersembahkan kepada Tuhan disebut Prasāda atau Prasādam. Siapapun dapat mencapai Tuhan dengan memuja-Nya dengan iman, cinta dan pengabdian. Jalan pengabdian ini terbuka bagi kita semua. Berikut adalah cerita tentang kekuatan iman.


10. Seorang Anak Lelaki yang memberi makan Tuhan.

Seorang laki-laki mulia selalu menyembah Deva keluarganya setiap hari dengan mempersembahkan makanan. Suatu hari ia harus pergi dari desa seharian. Dia berkata kepada anaknya, Raman: ”Haturkan persembahan kepada Deva hari ini. Tuhan harus diberi makan.”

Anak itu mempersembahkan makanan kepada Deva di altarnya, tapi patung Deva di sana tidak makan atau minum atau bicara. Raman menunggu lama, tapi tetap patung itu tidak bergerak. Ia benar-benar percaya bahwa Tuhan akan turun dari takhta-Nya di surga, duduk di lantai dan makan.

Ia terus berdoa kepada Deva, dengan berkata: "Ya Tuhan, silahkan datang dan makan makanan yang kupersembahkan. Hari sudah siang. Ayah akan marah jika aku tidak memberi-Mu makan." Patung Deva itu tidak mengatakan sepatah kata pun.
Anak itu menangis tersedu-sedu: "Ya Tuhan, ayahku memintaku untuk memberi-Mu makan. Mengapa Kau tidak turun? Mengapa Kau tidak mau makan dari tanganku?"

Anak itu menangis selama beberapa waktu dengan kerinduan jiva. Akhirnya Deva turun dari altar dalam bentuk manusia sambil tersenyum dan duduk di depan makanan dan mulai memakannya.

Setelah memberi makan Deva, anak itu keluar dari ruang doa.

Senja hari, ketika semua saudara serta ayahnya sudah tiba kembali ke rumah, ayahnya berkata: "Setelah dipersembahkan, sekarang bawalah Prasādam ke luar untuk kita."

Anak itu berkata: "Tuhan telah memakan semua persembahan. Dia tidak menyisakannya untuk kita hari ini." Mereka memasuki ruang doa dan sangat heran melihat bahwa Tuhan telah benar-benar makan semua persembahan.

Moral dari cerita ini adalah bahwa Tuhan akan makan kalau kita mempersembahkan makanan dengan penuh iman, cinta, dan pengabdian. Sebagian besar dari kita tidak memiliki iman sebesar Raman. Kita tidak tahu bagaimana memberi Beliau makan! Dikatakan bahwa kita harus memiliki kepercayaan kepada Tuhan seperti seorang anak. Kalau tidak kita tidak akan masuk ke alam tertinggi, yaitu rumah Tuhan.

Jai: Nek, bagaimana dengan seorang yang berdosa pencuri atau perampok. Bisakah orang seperti itu mengasihi Tuhan?

Nenek: Ya, Jai. Krishna telah mengatakan dalam Gita: Bahkan orang yang paling berdosapun, jika ia memutuskan untuk menyembah-Ku dengan pengabdian yang penuh kasih, orang semacam itu akan segera menjadi orang suci karena ia telah membuat keputusan yang tepat. (Gita 9,31) Berikut adalah cerita tentang seorang perampok seperti itu.


11. Perjalanan Besar Seorang Rsi Perampok.

Kita punya dua epik atau kisah-kisah sejarah yang sangat populer. Yang pertama adalah Rāmāyana. Yang kedua adalah Mahābhārata. Bhagavad-Gita merupakan bagian dari Mahābhārata. Epik ini ditulis sekitar 3.100 sebelum masehi. Awalnya, epik suci Rāmāyana mungkin telah ditulis sekitar 1,75 juta tahun yang lalu, menurut penemuan terbaru NASA. Penulis asli Rāmāyana adalah seorang Rsi bijak bernama Vālmiki. Setelah Vālmiki banyak Rsi lain menulis Rāmāyana, kisah tentang Tuhan Rāma yang mesti dibaca semua anak.

Menurut legenda, Vālmiki diberi kekuasaan oleh Rsi Nārada yang bijak untuk menulis seluruh episode sebelum kejadian ini benar-benar terjadi.

Pada awal hidupnya, Vālmiki adalah seorang perampok. Dia menghidupi keluarganya dengan cara merampok pelancong. Suatu hari, Rsi besar surgawi, Nārada, kebetulan lewat. Vālmiki menyerangnya dan mencoba merampoknya. Nārada bertanya kepada Vālmiki mengapa ia melakukan hal itu. Vālmiki mengatakan bahwa ini dilakukan untuk menghidupi keluarganya.

Orang bijak itu berkata kepada Vālmiki: "Ketika engkau merampok seseorang, kau melakukan dosa. Apakah anggota keluargamu mau berbagi menanggung dosa itu?"

Perampok itu menjawab: "Mengapa tidak? Aku yakin mereka mau."

Orang bijak itu berkata: "Baiklah, pulanglah ke rumah dan tanyakan kepada mereka apakah mereka mau ikut menanggung dosa-dosamu bersama dengan uang yang engkau bawa pulang."

Si perampok setuju. Dia mengikat orang bijak tersebut pada sebatang pohon dan pulang ke rumahnya. Dia bertanya pada setiap anggota keluarganya: "Aku membawa uang dan banyak makanan karena merampok orang. Seorang bijak mengatakan kepadaku bahwa itu adalah perbuatan dosa. Apakah kalian mau ikut menanggung dosa-dosa yang aku lakukan?"

Tidak seorangpun anggota keluarganya bersedia untuk ikut menanggung dosanya. Mereka semua berkata: "Tugasmulah untuk menanggung kehidupan kami. Kami tidak mau ikut menanggung dosamu."

Vālmiki menyadari kesalahannya dan meminta orang bijak untuk menunjukkan jalan yang harus dilakukannya untuk menebus dosa-dosanya. Orang bijak memberi Vālmiki mantra "Rāma" yang paling kuat dan paling sederhana untuk dichantingkan serta mengajarkan kepadanya cara memuja-Nya dan bermeditasi pada-Nya.

Perampok jalanan ini menghentikan kegiatan yang berdosa yang pernah dilakukannya dan tidak lama kemudian menjadi seorang Rsi yang sangat bijak. Atas anugerah guru Nārada, ia menjadi penulis dengan kekuatan mantra dan latihan spiritual yang tulus.

Ada juga cerita lain, Jai, yang engkau harus selalu ingat. Ini menggambarkan ayat-ayat Gita yang mengatakan Krishna mengurus kita semua. (Gita 9.17-18).
 
12. Tapak Kaki

Suatu malam, seorang laki-laki bermimpi. Dia bermimpi sedang berjalan sepanjang pantai dengan Tuhan. Di langit ia melihat adegan-adegan dari hidupnya. Pada setiap adegan, ia melihat dua pasang jejak kaki di pasir, satu milik dia, dan yang lain milik Tuhan.

Ketika tiba adegan terakhir dalam hidupnya, ia menoleh ke belakang pada jejak kaki di pasir. Dia melihat banyak kali, sepanjang jalan hidupnya hanya ada satu pasang jejak kaki. Dia juga menyadari bahwa hal itu terjadi saat tersulit dan saat paling menyedihkan dalam hidupnya.

Ini benar-benar mengganggunya, dan ia menanyakan hal itu kepada Tuhan.

"Tuhan, Engkau mengatakan bahwa tidak ada seorangpun yang Engkau lebih benci atau lebih sayangi, dan bahwa Engkau selalu bersama orang-orang yang menyembah-Mu dengan cinta dan kesetiaan. (Gita 9,29) Aku telah memperhatikan bahwa selama masa paling sulit dalam hidupku, hanya ada satu pasang jejak kaki. Aku tidak mengerti mengapa, ketika aku paling memerlukan-Mu, Engkau meninggalkan aku sendirian."

Tuhan menjawab,"Anakku, kau adalah jivaku sendiri. Aku mencintaimu, dan aku tidak akan pernah meninggalkanmu, bahkan jika kau kadang-kadang meninggalkan Aku. Selama waktu percobaan dan penderitaanmu, ketika kau hanya melihat satu pasang jejak kaki, itu karena aku menggendongmu. Jika engkau tertimpa masalah, hal itu disebabkan oleh Karmāmu sendiri. Itulah saat kau diuji agar dapat tumbuh lebih kuat."

Tuhan Krishna berkata di dalam Gita: "Aku secara pribadi mengurus kebutuhan penyembah-Ku yang selalu ingat dan mengasihi Aku." (Gita 9,22)

Bab 9 Ringkasan: filsafat dualistik melihat Tuhan sebagai satu kenyataan dan penciptaan sebagai suatu realitas yang berbeda, yang tergantung pada-Nya. Filsafat non-dual melihat Tuhan dan ciptaan-Nya sebagai satu. Tuhan mengasihi kita semua sama, tetapi Dia secara pribadi memperhatikan kepentingan bhakta-Nya karena orang semacam itu lebih dekat kepada-Nya. Sama seperti seseorang yang menjadi lebih panas jika seseorang duduk dekat api. Tidak ada dosa atau pendosa yang tidak terampuni. Api pertobatan yang tulus membakar semua dosa.


0 Komentar:

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts