e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

JALAN PENGINGKARAN DIRI DENGAN KESADARAN

BAB 4
JALAN PENGINGKARAN DIRI DENGAN KESADARAN

Jai: Dalam Gita dijelaskan tentang kejadian di medan perang. Siapa sesungguhnya penulisnya nek?

Nenek: Ajaran Gita berusia sangat tua. Pertama diturunkan kepada Deva Surya oleh Sri Krishna. Setelah beberapa warsa, pengetauan ini hilang. Gita yang kita pelajari sekarang merupakan pelajaran yang diberikan Krishna kepada Arjuna, 5,100 tahun yang lalu.

Jai: Jadi Sri Krishna penulisnya?

Nenek: Ya, Sri Krishna adalah pengarang Gita. Disusun oleh Rsi Vayāsa yang juga menyusun ke empat Veda. Rsi Vayāsa memiliki kekuatan untuk melihat kejadian di masa lalu dan masa datang, tapi dia tidak bisa melakukan kedua pekerjaan yaitu mengingat Gita yang diturunkan Krisna dalam medan perang sambil menuliskannya. Dia memerlukan seseorang untuk menulisnya. Deva Ganesha, sang Deva kebijaksaan, menawarkan diri untuk menuliskannya.
                                                                                                                           
Gita yang pertama kalinya diterjemahkan dari puisi Sanskerta yang asli ke dalam prosa beserta penjelasannya dilakukan oleh Maha Guru Adi Sankarāchārya sekitar 800 tahun sebelum masehi.

Jai: Kenapa Sri Krishna sangat penting?

Sri Krishna adalah inkarnasi Tuhan yang ke delapan. Tuhan turun ke dunia mengambil wujud yang berbeda dari waktu ke waktu bila kejahatan mulai mengganggu ketentraman dunia. Tuhan datang untuk meluruskannya. Beliau juga mengirim para nabi dan guru untuk membantu manusia. Kelahiran dan kegiatannya nyata dan setiap inkarnasi Avatāra datang dengan tujuan yang pasti. Dalam Shrimad Bhāgavatam (atau Bhāgavad Purāna) dijelaskan secara rinci kesepuluh Avatāra Utama Tuhan. Buddha, Moses, Jesus, Mohammad dan para nabi yang lain dari berbagai kepercayaan juga termasuk inkarnasi Tuhan dalam ruang lingkup yang lebih kecil. Pada akhir jaman yang dikenal dengan Kali Yuga, inkarnasi Kalki akan datang dari masa depan yang sangat jauh.

Jai: Apakah Sri Krishna akan memberikan apapun yang kita minta dalam doa atau pemujaan?

Nenek: Ya, Sri Kirshna akan memberikan engkau apa yang engkau inginkan (Gita 4.11), seperti keberhasilan dalam studi, jika engkau memujanya dengan penuh kepercayaan. Seseorang boleh saja berdoa dan memuja Tuhan dengan segala macam nama dan bentuk. Bentuk yang diambil Tuhan disebut diety. Seseorang juga bisa memuja Tuhan tanpa bantuan bentuk.
Jai: Apakah kita masih harus belajar kalau ingin mendapat nilai bagus dalam ujian?

Nenek: Ya, engkau harus melakukan tugasmu. Lakukan yang terbaik kemudian berdoa. Tuhan tidak akan melakukannya untukmu. Engkau harus melakukan tugasmu. Tugasmu haruslah bebas dari keinginan mementingkan diri dan tidak menyakiti siapapun. Dengan demikian engkau akan terbebas dari ikatan Karmā.

Jai: Apa itu Karmā, nek?

Nenek: Karmā berasal dari kata Sanskerta yang berarti perbuatan. Karmā juga berarti hasil perbuatan. Kata 'Karmā' sering diucapkan salah yaitu 'Karmā'. Setiap perbuatan ada hasilnya yang disebut Karmā, bisa baik dan bisa buruk. Jika kita melakukan perbuatan hanya untuk kenikmatan kita saja, kita bertanggung jawab terhadap hasilnya. Jika perbuatan kita menyakiti seseorang, kita akan mendapat Karmā buruk, yang disebut juga dosa, dan kita akan menderita di neraka karenanya. Jika kita berbuat baik kepada orang, kita mendapat Karmā baik dan akan memperoleh pahala dan mendapat surga.

Karmā kita bertanggung jawab atas kelahiran kita apakah kita akan bahagia atau menderita yang merupakan hasil dari perbuatan kita. Karmā bisa diumpamakan kita mendepositkan uang yang berupa perbuatan baik dan buruk di bank. Kita tidak akan terlahir kembali bila semua Karmā kita sudah dilaksanakan. Kebebasan dari lingkaran kelahiran dan kematian disebut kebebasan, Nirvāna, Moksha atau Mukti. Pada saat Mukti, seseorang akan menyatu dengan Tuhan.

Jai: Bagaimana kita bisa menghindari Karmā semasih hidup dan bekerja dalam masyarakat?

Nenek: Cara terbaik agar tidak mendapat Karmā adalah dengan tidak melakukan apapun untuk diri sendiri, tapi lakukan untuk kepentingan masyarakat. Ingatlah selalu bahwa alam melakukan semuanya, sesungguhnya bukan kita pelakunya. Jika kita sangat mempercayai hal ini dan bertindak sebagai abdi Tuhan, kita tidak akan mendapat Karmā, dan Karmā masa lalu kita akan terhapus dengan kesadaran diri sejati. Ketika semua Karmā habis, kita terbebas. Cara menyatu dengan Tuhan ini disebut tindakan tanpa mementingkan diri (KarmaYoga).

Jai: Bagaimana cara kita menghilangkan Karmā dari kelahiran sebelumnya?

Nenek: Ini pertanyaan yang sangat baik! Kesadaran diri sejati (atau Kesadaran Tuhan) sama seperti api yang menghanguskan semua Karmā masa lalu. (Gita 4.37). Tindakan tanpa mementingkan diri (KarmaYoga) mempersiapkan seseorang untuk menerima kesadaran diri sejati. Seorang KarmaYogi secara otomatis mendapatkan kesadaran diri sejati pada saatnya. (Gita 4.38). Seseorang dengan kesadaran diri sejati tentang dirinya dan Tuhan disebut orang dengan kesadaran diri atau berkesadaran Tuhan.

Jai: Adakah cara lain untuk mencapai kebebasan, nek?

Nenek: Ada Jai, ada beberapa cara untuk mencapai Tuhan. Cara ini disebut jalan spritual atau Sādhanā. Segala kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat disebut Yajna, Sevā atau pengorbanan. Jenis Yajna antara lain: (1) memberikan uang untuk tujuan yang baik, (2) bermeditasi, melakukan pemujaan dan yoga, (3) membaca kitab suci untuk mendapatkan kesadaran Tuhan, dan (4) mengontrol pikiran serta panca indera. (Gita 4.28)

Tuhan senang pada orang yang secara tulus melakukan salah satu dari Yajna ini dan berkenan memberikan hadiah yang berupa kesadaran diri untuk mencapai Tuhan. Orang yang demikian akan menjadi bahagia dan damai. (Gita 4.39).

Jai: Bagaimana dengan orang yang memuja lambang Tuhan setiap hari? Apakah mereka juga bisa menyatu dengan Tuhan?

Nenek: Ya, orang yang memuja lambang Tuhan dengan tulus akan menerima apapun yang dia inginkan. (Gita 4.11-12). Kebanyakan orang Hindu memuja Tuhan dengan bentuk yang disukainya untuk memenuhi keinginannya. Cara ini disebut jalan doa dan pemujaan. Ada sebuah cerita dalam kisah Mahābhārata tentang seorang KarmaYogi yang sangat berbakti dan merupakan murid ideal yang memuja gurunya untuk memperoleh yang diinginkannya.


4. Ekalavya, murid yang ideal

Guru Dronāchārya (atau Drona) adalah pengajar ilmu perang yang dipilih Kakek Bhishma untuk mengajar semua Kaurava dan Pāndava bersaudara. Beberapa pangeran lain juga belajar padanya. Drona sangat puas dengan pengabdian Arjuna dan dia berjanji pada Arjuna: "Aku akan mengajarmu agar menjadi pemanah terbaik di dunia".

Suatu hari seorang anak remaja bernama Ekalavya dari desa dekat Ashram datang kepada Guru Drona ingin belajar keahlian memanah. Dia mendengar dari ibunya tentang pemanah terbaik Dronāchārya, putra dari Rsi Bhāradvāja dan murid Rsi Parashurāma.

Ekalavya adalah seorang anak yang kesehariannya di hutan, berasal dari keluarga pemburu. Pada waktu itu, bahkan pada jaman ini, keluarga pemburu dianggap sebagai masyarakat rendah. Drona bingung bagaimana caranya mengajar pemuda dari keluarga pemburu dengan para putra mahkota. Jadi beliau memutuskan untuk tidak mengajarkan ilmu memanah pada anak ini, seraya berkata: "Nak, akan sangat sulit bagiku untuk mengajarmu. Engkau terlahir dengan keahlian pemanah. Kembalilah ke hutan dan berlatihlah dengan kemauan yang dalam. Engkau juga muridku. Semoga engkau menguasai ilmu memanah sesuai dengan keinginanmu."

Kata-kata Drona merupakan anugrah bagi Ekalavya. Dia mengerti keadaan dirinya dan yakin doa sang guru menyertainya. Dia membuat patung Dronāchārya dari tanah liat, menaruhnya di tempat terbaik di pondoknya, dan mulai memuja patung tersebut dengan hormat, dengan mempersembahkan bunga dan buah. Dia memuja patung gurunya setiap hari, berlatih memanah dan akhirnya menguasai ilmu memanah dengan sangat baik.

Ekalavya bangun pagi hari setiap hari, mandi dan melakukan pemujaan. Dia selalu mengenang kata-kata, tindakan dan ilmu Guru Drona yang dilihatnya di Ashram sang Guru. Dia dengan sangat yakin mengikuti perintah sang guru dan terus berlatih.

Sementara Arjuna secara langsung menguasai ilmu memanah dari Drona, Ekalavya mencapai tingkat keahlian yang sama dari jarak jauh. Kalau dia tidak mengerti salah satu tehnik memanah, dia akan segera mengahadap ke patung Drona, mengatakan masalahnya, dan menunggu dalam meditasinya sampai pertanyaannya terjawab. Kemudian dia melanjutkan latihannya.

Cerita Ekalavya membuktikan bahwa seseorang bisa mencapai apapun dalam hidup jika yakin dan bekerja keras mencapainya. Selanjutnya, diceritakan tentang pangeran Kaurava dan Pāndava pada suatu hari berburu di hutan. Ekalavya, seorang pemuda dengan kulit hitam, menggunakan baju dari kulit harimau dan kalung kulit kerang, sedang berlatih memanah dengan serius. Anjing pemburu yang menyertai para putra mahkota menggonggongnya. Mungkin dengan maksud memperlihatkan keahliannya, Ekalavya melepaskan tujuh anak panahnya ke rahang anjing yang sedang menggonggong dan semua anak panah tersebut menancap di mulut anjing itu. Anjing itu lari menuju tuannya.  Para putra mahkota sangat terkejut melihat keahlian orang yang memanah anjing itu. Mereka ingin tahu siapa pemanah tersebut.

Melihat hal ini, Arjuna, tidak hanya terkejut tapi juga khawatir. Dia ingin dikenal sebagai pemanah terbaik di seluruh dunia.

Para putra mahkota mulai mencari pemanah yang mampu memanah anjing mereka dalam waktu yang sangat singkat dan menemukan Ekalavya.

Arjuna berkata: "Keahlian memanahmu sangat luar biasa. Siapakah gurumu?"

"Guruku Dronāchārya," jawab Ekalavya dengan rendah hati.

Arjuna terkejut mendengar nama Drona. Benarkah? Dapatkah guru yang sangat dicintainya ini mengajarkan demikian banyak ilmu pada pemuda ini? Kalau benar, bagaimana dengan janji yang telah diucapkan gurunya kepadanya? Kapan Drona mengajar pemuda ini? Arjuna tidak pernah melihat Ekalavya di Ashram.

Ketika Drona mendengar cerita ini, dia ingat pada Ekalavya dan pergi menemuinya.

Drona berkata: "Engkau telah belajar dengan sangat baik nak. Aku sangat puas dengan hasilnya. Dengan pemujaan dan latihan, engkau telah mencapai hasil yang luar biasa baik. Semoga keberhasilanmu menjadi contoh bagi yang lainnya."

Ekalavya sangat bahagia dan berkata: "Terimakasih, oh Gurudeva! Aku juga muridmu. Kalau tidak, aku tidak yakin bisa mencapai keahlian seperti sekarang."

Drona berkata: "Jika engkau menerima aku sebagai gurumu, engkau harus membayar kewajiban setelah latihanmu selesai. Pikirkanlah."

Ekalavya dengan tersenyum berkata: "Apa yang perlu dipikirkan Guru? Aku muridmu dan gurulah guruku. Mohon katakan apa yang guru inginkan. Aku akan mempersembahkannya walaupun aku harus  mengorbankan nyawa untuk itu."

"Ekalavya, aku harus meminta pengorbanan yang sangat tinggi darimu untuk memenuhi janjiku kepada Bhishma dan Arjuna bahwa tidak seorangpun akan mampu menandingi Arjuna dalam hal memanah. Maafkan aku, nak! Bisakah engkau memberikan ibu jari tangan kananmu sebagai bayaranku?"

Ekalavya menatap Dronāchārya beberapa saat. Dia bisa memahami masalah Sang Guru. Dia kemudian berdiri, berjalan ke arah patung Drona dengan mantap, meletakkan jempol kanannya di atas sebuah batu, dan memotongnya dengan panah yang digenggam di tangan kirinya.

Drona merasa menyesal melihat luka yang diderita Ekalavya dan sangat tersentuh oleh pengabdiannya yang sangat besar. Drona memeluknya dan berkata: "Nak, kasihmu pada guru tak tertandingi. Aku sangat puas memiliki murid sepertimu. Tuhan selalu memberkatimu!"

Ekalavya mendapat kemenangan dalam kekalahan! Tanpa jempol kanan, ia tidak bisa lagi menggunakan busur dengan baik. Tapi dia melanjutkan berlatih menggunakan tangan kirinya. Dengan pengorbanan tertinggi, ia menerima kasih karunia Tuhan dan menjadi pemanah kidal terbaik. Ia membuktikan bahwa tidak ada yang bisa menghentikan upaya yang benar-benar tulus. Dengan tindakan dan perilaku, Ekalavya, menunjukkan bahwa tinggi rendahnya kedudukan tidak ditentukan oleh masyarakat, tetapi oleh visi, kualitas pikiran dan hati.

Drona seorang guru besar, Jai. Tetapi ada banyak guru palsu di dunia yang akan mencoba untuk menipumu.

Jai: Apakah kita perlu seorang guru untuk mencapai Tuhan?

Nenek: Kita pasti butuh guru untuk belajar semua subjek, spiritual atau material. Tetapi untuk menemukan guru yang nyata tidak begitu mudah. Ada empat jenis guru: pertama - yang mengetahui suatu subjek (guru), kedua - guru palsu, ketiga - seorang Sad Guru dan ke-empat - Parama-Guru. Ada banyak guru palsu yang hanya berperan sebagai seorang guru. SadGuru adalah guru yang mempunyai kesadaran Tuhan dan sangat sulit ditemukan. Krishna disebut JagadGuru atau ParamaGuru, guru alam semesta.

Ketika engkau lulus dari perguruan tinggi dan memasuki kehidupan berkeluarga, engkau perlu menemukan seorang guru atau pembimbing rohani. Sementara itu, ikutilah kitab suci dan budaya dan jangan pernah menerima kekalahan dalam hidup.

Bab 4 Ringkasan: Tuhan turun ke dunia dari waktu ke waktu dalam wujud kehidupan untuk memperbaiki keadaan di bumi. Tuhan memenuhi keinginan orang-orang yang menyembah Beliau. Ada empat jenis praktek-praktek spiritual atau Yajna. Baik pelayanan tanpa pamrih maupun kesadaran diri sejati membebaskan jiva dari belenggu Karmā. Tuhan memberikan kesadaran diri untuk mereka yang melakukan pelayanan tanpa pamrih. Kesadaran diri membakar semua Karmā masa lalu kita dan membebaskan kita dari roda atau siklus kelahiran dan kematian.

0 Komentar:

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts