e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

Bersedekah Dalam Persefektif Hindu




 
BERSEDEKAH DALAM PERSEFEKTIF HINDU

 Om Aviganam ya Namah Sidhyam

Wahai para dermawan yang bijaksana, persembahkanlah dana puniyamu (bersedekahlah) kepada orang yang tepat dan pada waktu yang tepat, selain itu jangan. Air laut yang sampai pada permukaan awan menjadi manis, sesampai di bumi memberikan hidup kepada mahkluk-mahkluk yang bergerak (manusia,binatang, dll) dan kepada  mahkluk-mahkluk yamg tidak bergerak (rerumputan,tumbuhan,dll) dan akhirnya kembali lagi ke lautan dengan jumlah puluhan juta kali. (CNs.VIII.4)
Seloka diatas menjelaskan bahwa pahala dari persedekahan adalah berlipat-lipat, namun seseorang dalam bekerja, memberikan pertolongan, bersedekah dll. dilarang mengharapkan imbalan (pahala), kita laksanakan sebagai kewajiban. Silakan simak seloka Bhagawad  Gita dibawah ini:
Kedermawanan yang diberikan karena kewajiban, tanpa mengharapkan pamrih, pada waktu dan tempat yang tepat, kepada orang yang patut menerimanya dianggap bersifat kebaikan. (Bhagavad-gita 17.20)
Tetapi sumbangan yang diberikan dengan mengharapkan pamrih, atau dengan keinginan untuk memperoleh hasil atau pahala, atau dengan rasa kesal, dikatakan sebagai kedermawanan dalam sifat nafsu.( Bhagavad-gita 17.21)
Sumbangan-sumbangan yang diberikan di tempat yang tidak suci, pada waktu yang tidak suci, kepada orang yang tidak patut menerimanya, atau tanpa perhatian dan rasa hormat yang benar dikatakan sebagai sumbangan dalam sifat kebodohan. (Bhagavad-gita 17.22)
Membaca seloka atau ayat Veda diatas,  apa yang terbayang dalam pikiran anda? Takjubkah atau bagaimana? Silakan anda jawab didalam hati. Didalam kitab Undang-Undang Manawa Dharmasastra juga disebutkan  hal  yang serupa mengenai pahala sebagai berikut “bekerja hanya karena ingin mendapatkan pahala adalah perbuatan yang tidak terpuji, akan tetapi bekerja tanpa keinginan tidak dapat ditemukan di dunia ini. Veda serta pengamalanya sendiri didasari oleh keinginan akan pahala” (MDs.II.2)
Selanjutnya mari kita simak seloka Sarasassamucaya yang membahas perihal Dana Puniya (sedekah), namun yang tidak begitu penting selokanya  disini tidak di tulis.
Bila orang berbuat kebajikan dengan memberi  hadiah-hadiah, suka memberi pelajaran dan nasehat-nasehat walopun kepada orang miskin sehingga dapat menghibur hatinya, maka orang yang  demikian akan selamatlah anak cucu dan keturunanya serta akan terkenalah kebaikan budinya . (SS.172)
Lain daripada itu, jika ada orang yang memberi pertolongan walaupun pada  mereka yang terus menerus ingin mencelakakan dirinya tetapi suatu saat ditimpa duka cita dan datang meminta pertolongan padanya, maka orang  yang demikian perbuatanya adalah manusia utama namanya, benar-benar orang budiman yang paling mulia. (SS.173)
            Mampukah anda melakukan hal demikian, Walaupun seseorang selalu berniat jahat kepada kita? Jangan tanya mampu atau tidaknya , petunjuk veda sudah anda baca , tinggal melaksanakanya saja.
Pahala persedekahan (dana punia) bukan diterima oleh bapa ibu, akan tetapi orang yang bersedekah itu sendirilah yang mendapat pahalanya dana punia. (SS.175)
Adapun yang disebut persedekahan  (dana punia) oleh orang bijaksana ialah sifat tidak dengki dan teguh iman dalam berbuat kebajikan, sebab jika itu dipegang teguh,akan  selalu mendapat selamat yaitu sama pahalanya dengan melakukan upacara korban. (SS.176)
Adapun pahala dari upacara korban ialah kelak akan mengecap segala keindahan dan kenikmatan  di alam sana. Adapun pahala orang yang suka menolong orang tua adalah kebijaksanaan tinggi, pahala orang  ahimsa (tidak membunuh-bunuh,tidak menyakiti,kasih sayang terhadap semua makluk) ialah panjang usia, demikian kata orang bijaksana. (SS.177)
Bahwa di dunia ini tidak ada yang lebih sulit dilakukan daripada berdana punia (bersedekah), umumnya , orang sangat sayang akan harta kekayaan karena mendapatkanya dengan susah  payah.( SS.178)
            Jaman sekarang hal inilah yang sering terjadi, untuk memberikan sesuatu kepada peminta-minta , pengamen dll, kita berpikir panjang untuk memberikan uang kita karena kita ketahui cara mendapatkanya susah, sedangkan si pengamen tinggal meminta. buanglah pikiran-pikiran seperti itu,
Sekarang dengarkanlah perihal orang yang tinggi ilmu kebijaksanaanya, yaitu bahwa ia tidak  sayang untuk mengorbankan harta benda, kekayaanya, walau nyawa sekalipun, apabila untuk kepentingan umum.  Sebab ia sadar akan kekalan jiva dan ketidak kekakalan benda, keadaan lahiriah ini. Oleh karena itu ia rela mati demi untuk kepentingan umum.  (SS.181)
            Jiva yang ada didalam diri kita adalah kekal, jiva adalah percikan tuhan, “Brahman atman akyam” Tuhan dan atman (jiva) adalah kekal atau Tuhan dan jiva adalah hampir  sama, yang membedakan adalah Jiva terikat oleh Karma. Pada saat mati hanya badan kasar yang mati sedangkan atman (jiva) tetap kekal , orang yang mengetahui hal ini maka ia tidak takut untuk mati mebela kebenaran dan berbuat demi kepentingan umum dan bella Negara.
Oleh karena itu yang harus diperbuat ialah jangan kikir dalam memberi  dana puniya,  buatlah usaha untuk amal, pergunakanlah kekayaan  untuk meningkatkan kesejahteraan. Karena sesungguhnya, kewibawaan itu akan  tidak berhenti menyertai kita apabila karma phala Yang menyebabkanya itu belum habis. (SS.182)
Begini nasehatku : kegunaan mempelajari pustaka suci veda ialah agar dapat memuja HYang Widhi Wasa dalam manifestasi Sanghyang Sivaagni, juga agar tahu mantra-mantra, tatacara pelaksanaan upacara korban dan upakara –uapakara lain dalam kehidupan (Widhi Wudhana) gunanya mengumpulkan harta kekayaan ialah untuk dinikmati dan disedekahkan. Gunanya wanita untuk diperistri dan melanjutkan keturunan. Manfaatnya kepandaian ialah untuk kebaikanya Sila dan Acara. Sila Artinya kepribadian dan budi pekerti, Acara artinya tingkah laku sehari-hari, sesuai dengan ajaran-ajaran agama. (SS.183)

Apalah gunanya harta kekayaan jika tidak disedekahkan dan tidak dinikmati, demikian juga kesaktian tidak akan ada gunanya jika tidak dipakai mengalahkan musuh, begitu pula ilmu pengetahuan tidak akan berguna jika tidak dipakai suluh untuk kesempurnaan terlaksananya tugas kewajiban. Demikian pula pengetahuan kebatinan tidak ada faedahnya jika tidak dipakai mengalahkan panca indra dan untuk menguasai sifat rajah(kebodohan) dan tamah(kegelapan). (SS.184)
Orang yang harta kekayaanya mengalir keluar masuk pembendaharaanya tetapi tidak dipergunakan untuk berdana puniya, ia adalah tidak lain dari orang mati, bedanya dengan mayat hanyalah ia masih bernafas, ia tidak bedanya dengan pompa apinya tukang emas. (SS.185)
Ada yang dinamai abhaya-dana ( pemberian perlindungan)  yang nilainya lebih mulia dari segala pemberian , umpamanya  pemberian sebidang tanah  sekalipun, abhaya artinya tidak takut, dana artinya pemberian, ketidaktakutan itulah yang diberi pada setiap makhluk artinya ialah tidak menyebabkan takutnya mahkluk apapun juga , orang yang demikian perbuatanya tidak akan pernah mendapatkan bahaya di dunia ini semua mahluk menjadi cinta  kasih dan hormat serta bhakti kepadanya sampai dikelak kemudian hari. (SS.186)
            Didalam Lontar (kitab) slokantara disebutkan bahwa Ahimsa atau cinta kasih adalah kebenaran tertinggi

Bagaimana cara bersedekah?
Kapan waktu yang baik untuk bersedekah?
Apa saja yang patu disedkahkan?
Sekarang perhatikan dengan baik sloka yang selanjutnya.

Hal – hal yang tersebut dibawah ini memperbesar pahala dari suatu pemberian yaitu: Desa, Kala, Agama, Ksetra, Druwya, Datta, Manah.
Desa artinya pembagian tanah; Tanah yang subur dan sucilah yang patut di sedekahkan.
Kala artinya waktu yang baik berbuat sedekah  antara lain waktu utarayan yaitu saat-saat  matahari berkisar ke utara.
Agama yaitu pemberian ajaran pustaka suci yang menerangkan dengan mendalam perihal keagamaan.
Ksetra, yang dimaksud ksetra atau obyek ialah orang yang diberi sedekah itu antara lain orang yang berkelakuan baik dan orang yang memang tepat untuk diberi sedekah.
Druwya yakni barang yang disedekahkan haruslah baik.
Datta  ialah orang yang memberi sedekah atau yang melakukan upacara korban hendaknya  orang yang tepat untuk itu.
Manah artinya pikiran si pemberi sedekah itu haruslah tulus iklas.
Inilah yang menyebabkan pahala persedekahan yang lebih besar  yaitu mendapatkan keselamatan. (SS.187)
Mengenai Kala (waktu) persedekahan Pada seloka SS.189 disebutkan juga Daksinayana (saat matahari berkisar ke selatan), Sadhamukha  dan sitimukha(gerhana bulan dan gerhana matahari), serta ketika matahari berada di khatulistiwa. Bersedekah pada waktu – waktu tersebut amat besarlah pahalanya
Pemberian sedekah tidak tergantung dari jumlah sedekah melainkan bagaimana manfaat dan faedah sedekah itu terhadap si penerima dan juga dengan cara bagaimana sedekah itu diperoleh. Bukanlah jumlah yang banyak atau sedikit pemberian itu menghasilkan banyak sedikitnya pahala, tetapi tujuan utama  pemberian itu yang penting dan juga halal atau haramnya cara memperoleh. hal ini disebutkan pada seloka Sarasamuscaya 190

Dan lagi orang yang memberi nasi pada waktu orang kelaparan dibandingka dengan pemberian emas pada waktu orang makmur, adalah sama nilainya. Kedua dermawan itu akan sama-sama menikmati kebahagian sorga kelak. (SS.188)
Janganlah berdana-puniya pada orang jahat, jangan suka mengagul-ngagulkan kegunaan atau jasa diri sendir, jangan menerima dana puniya yang diperoleh dengan jalan yang tidak patut dan jangan pula meminta tolong kepada orang jahat. (SS.191)
Adapun yang harus diberikan dana puniya ialah orang yang berkelakuan baik, orang miskin, orang yang tak  dapat mencari makan, orang yang betul – betul memerlukan bantuan. Pemberian dana puniya (pertolongan) pada orang demikian akan besarlah pahalanya. (SS.193)
Yang harus diingat dan diperhatikan oleh para dermawan ialah jangan sekali-sekali mengharapkan pujian dan juga memberikan dana-puniya jangan berdasarkan karena takut, jangan mengharap supaya dapat balasan, dan jangan memberikan kepada orang yang ahklaqnya rendah. Itu yang  patut diingat oleh seorang dermawan. Memberi sedekah adalah sudah merupakan kewajiban, tetapi bukanlah sedekah namanya jika diberikan dengan mengharapkan balasan (pahala). (SS.194)
            Perhatikan juga seloka Bhagawad Gita sebagai berikut :
Tanpa menginginkan hasil atau pahala, hendaknya seseorang melakukan berbagai jenis korban suci, pertapaan dan kedermawanan dengan kata ‘tat’. Tujuan kegiatan rohani tersebut ialah untuk mencapai pembebasan dari ikatan material. (Bhagavad-gita 17.25)

Apa bila ayah bunda yang meminta, biar nyawa sekalipun yang diminta , berikanlah kepadanya, sebab merekalah yang mengadakan kamu. (SS.195)
            Baca berulang –ulang sloka diatas (SS.195), jaman sekarang terutama generasi muda banyak yang sudah berani menentang permintaan orang tua. Sadarilah bahwa kita sangat berhutang kepada orang tua. Renungkan pula sloka dibawah ini
Bahwa amat besarlah kesakitan yang dirasakan oleh seorang ibu ketika melahirkan kita. Sekarang kita berhutang  segala-galanya kepadanya yang tak akan terbalaskan sampai seratus tahun (seumur hidup). (SS.196)
Ya, anaku ri Janamejaya, orang yang miskinlah yang anaku hares beri dana puniya. Jangan bersedekah kepada orang kaya, memang seyogyanya kepada orang sakitlah obat itu hares diberikan , karena untuk orang yang sehat, obat itu tidak ada gunanya. (SS.197)
Apa bila ada orang melarat tetapi tidak meminta bantuan usahakan agar ia dapat pertolongan sebab memperhatikan kesejahetraan umum tanpa pamrih bagi diri sendiri adalah puncaknya kebaikan, itulah yang didapati dalam memberikan sedekah kepada orang yang memerlukan, tanpa menunggu untuk dimintai. (SS.198)
Dan lagi jangan sekali-sekali marah kepada orang yang meminta sedekah. Janganlah diusir, walaupun ia orang hina atau meski anjing sekalipun, karena sesungguhnya tidak akan sia-sialah pemberian dana-puniya terhadap mereka .(SS.199)
Dan lagi siapakah yang akan demikian gegabah mencela orang yang meminta sedekah, orang yang meminta-minta setiap hari dan orang meminta dengan sangat? Karena bukanlah mereka itu dapat diumpamakan sebagai guru yang mengajar kita untuk berbuat kebajikan? Atau sebagaia matahari yang setiap hari terbit menghilangkan gegelapan hati kita? Atau sebagai orang pembersih kaca yang tak hentinya menggosok menghilangkan kotor-kotoran dalam hati kita? Demikianlah orang yang meminta-minta itu sesungguhnya. (SS.200)
Sebenarnya tidak dosa yang lebih besar daripada hal-hal sebagai berikut yaitu orang yang menjawab dengan “ Nasti”  dan orang yang mengatakan “ Dehi” .
 “ Dehi” :  ‘Berikan padaku’ demikian kata orang yang ingin mendapatkan apa yang diminta,
“Nasti” : ‘tidak ada’ demikian sahut orang kikir yang dimintai itu. Kedua hal yang merupakan puncaknya dosa.baikpun yang berkata “Dehi” maupun yang menjawab dengan perkataan “Nasti” keduanya itu berdosa secara timbal balik. Tegasnya , kedua belah pihak sama-sama berbuat dosa (SS.201)
            Bagaimana cara sopan santun dalam meminta sedekah?
Untuk menghilangkan dosa dalam meminta-minta , si peminta-minta itu hendaknya meberi nasehat dengan berkata : “tidak baik orang bersifat kikir, usahakanlah memberikan sedekah, lihatlah akibatna orang tidak mau memberikan sedekah pada waktu hidup dahulu. Ia sekarang menjadi sebagai saya maukah tuan sebagai saya sekarang ini? Oleh karena itu buatlah persedekahan”. Demikian bayanganya yang diberikan sehingga sebenarnya tidak hanya meminta tetapi juga memberikan nasehat , itu menyebabkan perbuata menjadi suci (SS.202)
            Perlu digaris bawahi, Walaupun dikatakan cara demikian dapat menyebabkan si peminta-minta menjadi suci, hendaklah jangan mencoba meminta-minta, karena hal demikian menyebabkan kita menjadi malas-malasan.
Tambahan pula, biarpun ada ataupun tidak ada pahalanya, berikanlah dana-puniya sebagaimana mestinya dan seberapa dapatnya. Demikian pulalah halnya di hadapan Hyang Widhi Wasa. Pemberian dana-puniya atau persembahan itu pastilah berpahala. Itulah yang diperbuat pertama-tama. (SS.203)
Bahwa dana puniya berwujud emas, sapi dan sawah ladang itu amat suci. Suci maksudnya dapat menghilangkan malapetaka dan menghantarkan manusia ke sorga loka. (SS.204)
Singkatnya, adapun yang patut disedekahkan ialah emas, perak, nutiara, perhiasan, sawah, ladang dan segala yang berharga itulah berikan. (SS.205)
Apabila dupa harum, boreh wangi, kain-kain halus, karangan bunga, dan lain-lain yang disedekahkan, orang-orang yang mensedekahkan itu akan menjelma kelak akan menjadi orang cantik, sehat walafiat dan berbudi pekerti yang baik. (SS.207)
            Anda yang tidak meyakini adanya Kelahiran Berulang-ulang (reinkarnasi)mungkin akan mengatakan bahwa Tuhan itu tidak adil, jika anda merenungkan sloka diatas mungkin pola pikir anda akan berubah. Itulah atas jawaban mengapa seseorag bisa lahir kaya, cakep, berwibawa, disegani begitu sebaliknya lahir berwajah buruk , hidup miskin dll. Tuhan itu maha adil dengan aturan yang beliau buat bahwa apa yang kita lakukan akan menghasilkan akibat  yaitu dengan peraturan “hukum  karma pahala” atau sebab dan reaksi
Adapun memberikan sedekah yang gampang mendapatkanya sebagai umpama: minyak, air,obor, pahalanya ialah akan hidup senang dengan seluruh keluarganya di akhirat. (SS.208)
Orang yang menyedekahkan pelita, pahalanya kemudian ialah bahwa matanya bersinar nyalang, rupawan, lampai, halus, jernih, berseri mukanya. Jika obor (lampu) yang di sedekahkan akan menjelma menjadi orang rupawan, berwibawa dan bergemilang cahaya mukanya kelak. (SS.210)
Pahalanya menghaturkan dana puniya (sedekah) pada seorang pendeta, kelak sampai Indralokadipuja dan dihormati oleh bidadara-bidadari. (SS.211)
Kalau terompah atau sandal sepatu yang disedekahkan, ia akan selamat tak kurang apa-apa, berpahala sorga kelak, disayangi  oleh para dewa. (SS.212)
            Bagaimana semestinya sikap kita dalam bersedekah?
Biarpun sedekahnya banyak tak ada taranya walaupun semua kepunyaanya di sedekahkan, tetapi jika memberikanya itu denga pikiran keruh dan tidak dengan tulus ihklas, tidaklah berguna sedekah itu. Singkatnya, kerelaan hatilah yang menentukan pahalanya dari persedekahan itu. (SS.213)
Apa bila seseorang ingin tidak kekurangan suatu apa di akhirat kelak maka ia hendaknya memberikan sedekah kepada orang gunawan(miskin) segala sesuatu (apa-apa yg miliki) yang ia sendiri sangat cintai dan sukai. (SS.214)
            Apa yang tidak patut kita lakukan saat bersedekah?
Apa bila persedekahan itu diberikan dengan penghinaan dan kemarahan, dengan tidak tulus ikhlas serta tidak percaya akan adanya hukum karma phala, maka pemberian itu adalah sedekah yang hina dan amat rendah pulalah pahalanya kelak. Demikian kata orang pandai-pandai. (SS.216)
Segala perbuatan, baikpun memuja ataukah member sedekah, bertapa atau berbuat amal tetapi tidak disertai ketulusan hati, segala perbuatan itu dianggap hina dan tidak ada gunanya pada kehidupan ini ataupun pada penjelmaan yang akan datang. (SS.217)
            Dibawah ini petunjuk bagi para pemula terutama generasi muda, cara mudah untuk memulai belajar bersedekah:
Bagi orang yang baru mulai belajar melakukan dana puniya, mulailah dengan memeberikan barang-barang yang tidak berharga mahal semacam pucuk kayu, kecambah, umbi-umbian dan banyak lagi sebangsa ini yang gampang diperoleh. Kalau telah ikhlas memberikan yang tersebut diatas (dan sebangsanya) tanpa sedikitpun ada rasa saying memberikanya, itulah permulaan dari kebiasaan baik yang akhirnya akan rela memberikan apapun juga walau sampai darah dan daging sekalipun (SS.218)
Orang yang memerintahkan saja , menyuruh kepada orang lain bersedekah (sedangkan ia sendiri tidak) banyak atau sedikit, orang demikian perbuatanya tidak akan bisa mencapai maksudnya kelak, tidak berpahala segala tujuan dan angan-anganya,  sebagai halnya orang mandul yang tak berhasil segala yang dibuatnya. (SS.219)
            Menyimak sloka diatas penulis  jadi merasa malu…..
Ada yang berkata begini : “Ya Hyang Widhi , saya akan berbuat kebajikan , saya akan berbuat segala apa yang diaanggap baik” tetapi nyatanya ia tidak sungguh-sungguh melakukanya, maka hilang;ah “Ista” Dan “Purta”-nya. (SS.220)
Pemujaan kepada hyang Eka-agni, pada Hyang Tri-agni dan sedekah yang diberikan pada waktu upacara korban (pen-dana-an). Itulah “Ista” namanya. (SS.221)
Pemberian yang berbentuk waduk-waduk, sumur-sumur, telaga-telaga yang mengalir, kahyangan-kahyangan tempat memuja, penginapan-penginapan, tetamanan, balai peristirahatan, tempat berteduh di sepanjang jalan dan sebagainya termasuk dpur umum; inilah “Purta” namanya. (SS.222)
Adapun orang yang tanpa menghiraukan bahwa dirinya sendiri lapar, tetapi memberikan nasi bekalnya kepada kelana yang tidak dikenalnyayang dijumpai di perjalanan dan kepayahan, besarlah pahala kebaikan yang akan diterimanya kelak. (SS.225)
Apabila ada orang yang antara lain berbuat kebajikan dengan memberikan nafkah kepada orang yang kelaparan, miskin, rendah hati, dan yang tidak tahu dimana ia bisa mencari makan untuk menghilangkan laparnya maka orang yang berbuat kebajikan demikian tidak ada bandingnya di dunia ini dan pun di dunia sana. (SS.226)
Sebab sedekah yang berupa makanan pasti membuat senang baikpun bagi pemberi apa lagi yang diberi, demikianlah kenyataan akibat dari pemberian yang menyenangkan. (SS.227)
Yang harus diberikan kepada orang yang menderita, ditimpa kesusahan, ialah bantuan pertolongan. Kepada orang yang kepayahan dating padamu untuk beristirahat berikanlah tikar dan bale-bale, kepada orang yang haus airlah sedekahnya dan kepada orang yang lapar berikanlah makanan. (SS.228)
Dan lagi pandangan yang ramah , hati yang tulus ikhlas, kata-kata yang mengembirakan serta penyambutan yang sopan santun , semua ini hendaknya dilakukan untuk menyertai pemberian sedekah sebagai mana mestinya. (SS.229)
            Sebagai pembanding Kitab sarassamuscaya mari kita simak juga isi kitab Canakya Niti Sastra yang membahas perihal Dana-puniya (sedekah)sebagai berikut:
Kedermawanan menghapuskan kemiskinan, perbuatan yang baik menghilangkan kemalangan, kecerdasan rohani menghapuskan kegelapan/kebodohan, dan rasa takut bisa dihilangkan dengan merenungkanya baik-baik. (CNs.V.11)
Pelajaran veda tanpa korban suci agni hotra (atau yadjna yang lainya) adalah sia-sia belaka. Korban suci tanpa disertai dana puniya tidaklah sempurna, tanpa disertai rasa bhakti semua ini tidaklah berhasil, oleh karena itu, hal yang paling penting adalah bhakti yaitu penyebab  dari segala keberhasilan. (CNs. VII)
Sifat-sifat yang baik adalah hiasan dari wajah, keluarga diharumkan pleh tingkah laku yang baik dan benar, ilmu pengetahuan dicemerlangkan oleh keberhasilan, dan hiasan dari kekayaan adalah dengan mendana-puniyakan. (CNs.VIII.15)
Keindahan wajah, tanpa sifat-sifat yang baik  tidak ada artinya, tingkah laku yang jahat menyebabkan keluarga hancur, tanpa kesuksesan ilmu pengetahuan menjadi sia-sia, kekayaan tidak ada gunanya dan akan mengalami kemusnahan kalau tidak dinikmati dengan cara mendana-puniyakan. (CNs.VII.16)
Orang baik-baik hendaknya senantiasa menyumbangkan makanan dan hartanya (kekayaan), semua itu jangan dikumpulkan,. Lihatlah, bahwa kemasyuran raja Karna, Maharaja Bali, dan Vikramaditya masih tetap dipuji-pujki hingga sekarang. Bahkan san lebah berpikir “oh , sialan,madu kita, yang sejak begitu lama kita kumpulkan, menahan diri untuk tidak dinikmatinya, tetapi sekarang  dalam sekejap telah diambil pleh manusia”. Demikianlah keluh kesah sang lebah sambil menghentakan kakinya ke tanah. (CNs.XI.18)
            Untuk kitab Bhagawad Gita yang membahas bersedekah diambil Cuma sedikit, silakan untuk disimak
 Perbuatan (tindakan) pengorbanan, dana (amal) dan disiplin-spiritual tidak boleh diabaikan, tetapi wajib dikerjakan, karena pengorbanan, dana dan disiplin spiritual adalah unsur-unsur yang menyucikan bagi mereka yang bijaksana. (Bhagawad Gita. 18.5)
Yagna atau pemujaan atau pengorbanan/persembahan adalah kewajiban bagi setiap manusia terhadap Yang Maha Kuasa. Dana atau amal adalah kewajiban terhadap guru-guru spiritual dan terhadap masyarakat atau yang membutuhkannya. Tapa atau disiplin spiritual adalah kewajiban kita terhadap diri sendiri sebenarnya. Mengabaikan ketiga tindakan positif ini sama saja mengotori diri sendiri dengan unsur-unsur duniawi yang negatif. Lakukanlah semua tindakan ini secara sattvik dan bersihkanlah raga, hati dan jiwa kita dari noda-noda duniawi ini.

Korban suci apa pun yang dilakukan tanpa mempedulikan petunjuk kitab suci, tanpa membagikan prasadam [makanan rohani], tanpa mengucapkan mantra-mantra veda, tanpa memberi sumbangan kepada para pendeta dan tanpa kepercayaan dianggap korban suci dalam sifat kebodohan. (Bhagavad-gita 17.13)
Tanpa menginginkan hasil atau pahala, hendaknya seseorang melakukan berbagai jenis korban suci, pertapaan dan kedermawanan dengan kata ‘tat’. Tujuan kegiatan rohani tersebut ialah untuk mencapai pembebasan dari ikatan material.( Bhagavad-gita 17.25)
Apa pun yang dilakukan sebagai korban suci, kedermawanan maupun pertapaan tanpa keyakinan terhadap Yang Mahakuasa tidak bersifat kekal, wahai putera prtha. Kegiatan itu disebut ‘asat’ dan tidak berguna dalam hidup ini maupun dalam penjelmaan yang akan datang.( Bhagavad-gita 17.28)

Sumber :
·         Kitab Sarassamuscaya (terbitan upada sastra,1991) merupakan Veda Smerti  yang isinya dikumpulkan oleh Bhagavan Wararuci dari sari-sari wiracarita (epik) Mahabharata susunan ‘Bhagavan  Byasa’ yang di uraikan oleh Bhagavan Waisampayana di hadapan Maharaja Janamejaya (cucu Arjuna), Wararuci termasuk salah seorang dari sembilan pujangga mutiara di istana raja Wikramaditya. Pustaka suci Sarasasmuschaya (SS) ini tertulis dalam dua  bahasa  yaitu: bahasa  Sansekerta dan bahasa Kawi (Jawa kuno) , bahasa Kawinya adalah tafsiran dan perluasan seloka-seloka (ayat)  yang berbahasa Sansekerta dengan arti dan maksud yang tepat. Namun dalam pembahasan disini hanya terjemahan bahasa indonesianya saja yang  ditulis, begitu juga dengan Seloka Bhagawad Gita dan Canakya Niti Sastra
·         Canakya Niti Sastra( CNs), kitab ini tergolong Veda Smerti yang ditulis oleh Rsi Canakya, juga terkenal dengan nama lain yaitu “Visnu Gupta” dan “Kautilya”. Brahmana hebat ini adalah Penghancur Raja Nanda sedinasti.
·         Bhagawad Gita merupakan Wejangan Sri Kresna kepada Arjuna pada saat Perang Mahabharata, yang merupakan Inti sari Veda Sruti dan Smerti
untuk penggolongan  Veda silakan buka di pembahasan Guru, Veda Itu Apa?
Sebagai penutup, silakan renungkan seloka  Canakya Niti Sastra sebagai berikut:
Meremehkan kebijksanaan ajaran Veda, menghina tingkah laku / kegiatan yang sesuai dengan ajaran-ajaran sastra (veda), menjelekan orang yang  selalu berkata-kata lembut bijaksana, tidak lain lagi inilah yang menyebabkan kekalutan dunia. (CNs.V.10)

Om shanti, Shanti, Shanti Om
Semoga semua makluk berbahagia dan semoga pikiran yang baik datang dari segala penjuru

0 Komentar:

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts