e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

Kerja dan swadharma menurut karma kanda

Bagian I
KARMA KANDA

Pada bagaian karma kanda disebutkan bahwa : keyakinan adalah landasan yang mewaranai pikiran, wacana, dan perilaku manusia .

Kepercayaan tiap-tiap individu o Arjuna.
tergantung kepada keyakinanya.
Manusia menjadi atas dasar kepercayaan.
Apapun keyakinanya demikian pulalah dia adanya.
( BG , XVII:3)
Ada tiga macam tipe keyakinan seseorang
1. keyakinan bersifat satwa; memancarkan kecerian dan kesucian,
2. keyakinan bersifat rajas ; mengobarkan nafsu atau ambisi,
3. keyakinan bersifat tamas ; menyebabkan kebodohan dan kealpaan
satwa , rajas, dan tamas adalah guna yang lahir dari prakrti.

Rahasia keberhasilan kerja ternyata ditentukan oleh cara kerja itu sendiri, kerja mesti dilakukan menurut dharma – bhakti masing-masing. Manusia hendaknya bekerja secara sukarela, melepaskan keterikatan untuk menikmati hasil dari kegiatan.

Bekerjalah seperti yang telah ditentukan
sebab berbuat lebih baik daripada tidak berbuat.
Bahkan tubuhpun tak akan terpelihara tanpa berkarya.
(BG,III:8)
Bila perbuatan itu bebas dari guna rajas dan guna tamas maka kesempurnaan dan kebebasan akan dapat dicapai. Sebaliknya, apabila perbuatan itu masih dikuasai oleh guna maka kesempurnan dan kebebasan tidak akan tercapai dan hukumanya adalah punarbhawa.
Dalam pandangan karma kanda, kerja adalah hakikat segala sesuatu. Kerja disebut karma, karma adalah segala perbuatan dan akibat-akiibatnya, karma memiliki arti yang lebih luas, yaitu peristiwa dan pengalaman yang terjadi sekarang disebabkan oleh perbuatan pada masa kelahiran masa lampau,

Setiap peristiwa dan pengalaman datang dari masa lalu, eksis pada masa kini, dan pergi menuju ke masa yang akan datang. Dulu-kini-nanti merupakan keterpisahan dari kesatuan waktu yang paling mungkin dipahami oleh akal budi. Karma merupakan prinsip tindakan universal yang bersumber pada rta, rta adalah prinsip etos kerja, yaitu hukum semesta yang berpusat pada kerja.

Tidak ada perubahan apapun tanpa tindakan karma, ajaran ini bersumber pada mimamsa yang menapsirkan weda sebagai tindakan karma, karena itu mimamsa disebut Karma Kanda, mimamsa melahirkan paham aktivisme, yaitu sistem filsafat yang mengajarkan bahwa aktivitas, proses, pergerakan, energi atau kekuatan, merupakan prinsip tertinggi.

Pada hakekatnya, karma kanda mengarahkan agar manusia melaksanakan perbuatan baik, (subha karma), dan menjauhkan diri dari perbuatan buruk (asubha karma)

Pusatkan ikiranmu pada kerja tanpa menghiraukan hasilnya, bekerja yang benar secara sempurna adalah bekerja dengan segenap pikiran sehingga tidak sedikitpun ada pikiran melekat pada hasilnya, sangat menyedihkan mereka yang semata-mata hanya berorientasi pada pahala kerja, kerja yang benar adalah bekeja tanpa pamerih, kerja sebagai yajna, kerja demikianlah kerja yang sempurna, dan oleh karena itu, fungsinya sama dengan yoga ; karma yoga
(BG, II:48-50)
Menurut pandangan mimamsa, bahwa karma tidak menghasilkan buahnya secara langsung, melainkan dengan perantara. Oleh karena itu hasil Yajna atau upacara keagamaan pada umunya tidak dapat dituai seketika setelah yajna atau upacara keagamaan itu di kerjakan. Yajna dan atau upacara keagamaan yang dilakukan disini-sekarang baru memberikan hasil setelah pelaku meninggal dunia.

Kewajiban, sebagaimana fakta mengungkapkan tidak mungkin dihindari, seperti tangan berkewajiban melayani badan. Seseorang tidak mungkin menghindar dari karma.
karma berakibat baik atau buruk, untuk mendapat pahala yang baik , seseorang mesti bekerja berdasarkan sepirit dharma, setiap orang memiliki dharma-nya masing-masing, Dharma inilah yang disebut swadharma. Dari keterikatan dharma dalam arti kewajiban dengan karma inilah dipahami munculnya konsep pembagian kerja hindu , seperti yg dijabarkan dalam tiga kitab adisastra hindu “sastra utama” antara lain : Bhagawadgita, Manawa Dharmasastra, dan Sarasamuscaya.

Argumentasi :

Watak atau karakter sesorang dibentuk dan ditentukan oleh tindakanya, jadi selalu di usahakan untuk bertindak yang positif , Berpikir positif memiliki dampak dan pengaruh besar dalam kehidupan seseorang. Saat kita mulai berpikir positif, kekuatan besar datang mengimbangi cara berpikir kita untuk tetap melakukan hal-hal baik dengan cara yang baik
Hendaknya seseorang dalam melakukan setiap aktivitas selalu berpedoman pada ajarn-ajaran moralitas ( dharma ) dan sesuai dengan swadharma masing-masing tanpa keteriktan. Ingatlah selalu hukum karmaphala “ apa yang anda tanam itulah yang akan anda Tuai” jagung yang anda tanam, jagung pulalah yang akan anda petik , meskipun dalam pertumbuhan jagung banyak rintangan dan ada hasil lain yang ditimbulkan, kita mesti selalu berjalan diatas dharma atau kebenara, Niscaya kebahagian selalu menemani hidup kita.
Isi buku pada bagian ini menekankan betapa pentingnya kerja tanpa keterikatan namun cara penyajianya kurang menarik, terjemahan-terjemahan sloka tidak ditulis secara terpisah, sehingga dalam satu paragraf terlalu panjang akibtnya tampilan menjadi kurang menarik dan menjelimet.

0 Komentar:

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts