e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

Bagian III
MANAWA DHARMASASTRA

Manawa Dharmasastra tergolong Weda Smrti, merupakan kitab Dharma, yaitu ajaran kebajikan menurut MahaRsi Manu. Buku ini disususn secara sistematik dalam 12 adhyaya atau oleh muridnya Bhagawan Bhrigu. Dharma dimaksudkan disini diberi arti lebih spesifik, yaitu ajaran hukum hindu yg disebut Vyahara. Fungsinya untuk mengatur tentang kewajiban dan hak umat hindu, baik sebagai individu maupun maupun kelompok sosial.
Kitab sumber hukum hindu ini menjadi inspirasi terutama negarawan hindu yang lahir blakangan dalam rangka menciptaklan tertib sosial di wilayahnyua masing-masing. Isinya diadaptasi, disesuaikan kebutuhan daerah dan menurut perkembangan jaman. Diantara teks lontar hukum yang diaanggap bersumber dari kitab manawa dharmasastra adalah kelompok lontar agama : Adigama, siwa sesana, Raja sasana, Kutyara manwa, dan puerwadigama.

Landasan kerja menurut Manawa Dharmasastra :

Setiap perbuatan membuahkan hasil dan konsep ini juga disebut hukum karamaphala, karma yang lahir dari pikiran , perkataan, dan badan menimbulkan akibat baik atau buurk (MDs, XII:3).

Ada sepuluh karma buruk yang harus dihindari :
a. Tiga perbuatan buruk pikiran ; menginginkan milik orang lain, berkeinginkan mencelakai orang lain, dan mengikuti jaran sesat.
b. Empat perbuatan buruk dari perbuatan ; mencemooh, berbohong, memfitnah, dan berkata kasar.
c. Tiga perbuatan buruk badan ; mencuri, melakukan kekerasaan, dan berzina. (MDs, XII:5-7)
Yang berhasil mengendalikan dirinya, tidak melakukan sepuluh perbuatan terlarang tersebut dipastikan mencapai keberhasilan yangh sempurna.

Ada dua jenis pekerjaan yang baik:
1. prawerti karma yaitu kerja yang dilakukan untuk mencapai harapan atau hasil tertentu, akan tetapi karma jenis ini tetap bersifat mengikat, oleh karena itu prawerti karma menyebabkan seseorang mengalami tumimbal lahir.
2. nirwrti karma yaitu kerja yang dilakukan atas dasar pengetahuan yang benar, yaitu kerja tanpa menharapkan hasil, dan dengan demikian menyebabkan seseorang mencapai kebebasan akhir.
Akan tetapi nirwrti karma sungguh sulit dilaksanakan oleh masyarakat umum. Maharsi Manu lebih memihak prawrti karma, dasar argumentasinya adalah bahwa secara riil tidak ada suatu perbuatan apapun yanfg dilakukan oleh manusia tanpa didasari oleh keinginan, walau memang secara idealis berbuat karena keinginan untuk mendapat pahala kurang terpuji. Teks weda toh tetap membenarkan umatnya untuk melaksanakan upacara agama dengan didasari oleh keinginan, tetapi keinginan yang berdasarkan dharma untuk mendapat pahala yang baik.
Atas dasar konsep hukum kerja dan karaktwer manusia, maka Maharsi Manu menentukan klasifikasi kerja menjadi empat bagian yang disebut catur warna atau warna dharma :
a. Brahmana warna, b. Ksatria warna, c. Waisya warna, d. Sudra warna.

Untuk mendapatkan kemampuan agar dapat melaksanakan kewajiban secara profesional, Maharsi Manu mengukuhkan sistem pendidikan sesuai dengan tahapan hidup manusia sejak dari dalam kandungan sampai meniggal dunia, tahapan hidup ini disebut catur asrama :
1. Brahmacari asrama, 2. Grehasta asrama, 3. wanaprasta asrama, 4. Sanyasin

Kesetaraan gender dan kerja perempuan dalam Manawa Dharmasastra;

Maharsi Manu mengetengahkan konsep Ardanareswari : dalam rangka penciptaan alam ini tuhan Yang Maha Esa membagi diri-Nya menjadi dua bagian sebagia pasanagan yang beroposisi (ardanareswari), satu bagian sebagai mlaki-laki dan satu bagian lagi sebagai perempuan . dari pertemuan-Nya yang telah menjadi berpasangan ini lahirlah berbagai jenis makluk yang serba berpasangan. (maskulin dan feminim)

Secara teologis Hindu tidak ada alasan yang membenarkan diskriminasi dimana perempuan berkedudukan lebih rendah daripada laki-laki, karena laki-laki dan peremuan bersumber dari satu sumber , yaitu TYME , perbedaan yg terjadi hanyalah dalam peranan atau kerjanya, (purusa dan prakerti; asa roh dan asa materi)

Atas dasar kesetaraan gender tersebut , Manawa Dharmasastra dengan tegas memuliakan posisi perempuan sebagai berikut:

Perempuan harus disayangi oleh ayahnya, kakaknya, suaminya, dan iparnya yg menghendaki kesejahtraan diri. (MDs, II:55)

Dimana perempuan dihormati disana para dewa merasa senang, akan tetapi dimana perempuan tidak dihormati disana tidak ada upacara suci yang berpahala. (MDs, III:56)

Dimana perempuan hidup sedih, keluarga itu akan cepat mengalami kehancuran, sebaliknya, dimana perempuan tidak hidup menderita, keluarga itu akan hidup bahagia. (MDs, III: 57)

Oleh karena itu diamantakan bahwa bagi orang yang menginginkan hidup bahagia wajib menghormati perempuan antara lain dengan cara ; pada hari raya memberinya hadiah perhiasan, pakaian, dan makanan.(MDs, II:59) Dinyatakan pula, bahwa dimana perempuan selalu tampil dengan wajah berseri, maka seluruh keluarga tiu akan kelihatan bercahaya, demikian sebaliknya. ( MDs, II:61-62)

Atas dasar pandangan teologis tersebut maka untuk merealisasikan konsep ideal tersebut dan untuk memelihara keharmonisan keluarga, bhagawan Manu mengamanatkan:
Pada keluarga dimana suami hidup berahagia dengan istri, demikian pula sang istri hidup bahagia dengan suaminya, kebahagian mereka pasti kekal. (MDs, II:60)

Jadi, kebahagian suatu rumah tangga ditetntukan pertama-tama oleh hubungan yg harmonis, saling setia suami dan istri. Pasal tersebut secara implisit menyarankan sistem perkawinan Monogami, tuhan telah memberi contoh, bahwa ia hanya menjadikan dirinya dua azas yg abadi yaitu sebagai pasangan suami istri (Brahma-saraswati, Wisnu – Laksmi, Siwa-Uma).

Perempuan hendaknya berwajah cerah, pandai mngatur rumah tangga,cermat dalam kebersihan rumah tangga, hemat dan pandai mengatur biaya rumah tangga.( MDs, V:150 )

Pasal tersebut mengisyaratkan makna bahwa kewajiban perempuan juga ditentukan oleh guna dan karmanya, karakternya yg poitensial baik dan bakat kerjany ; gemar berhias, cermat dalam kebersihan, terampil mengatur urusan rumah tangga, dan hemat dalam persoalan keuangan.

Argumentasi ;

Konsep kerja di dalam MDs agak berlawanan dengan Bhagawadgita, pada bagian ini dibenarkan bekerja dengan didasari oleh keinginan dan keterikatan , menurut saya hal ini digunakan sebagai motivasi didalam bekerja agar lebih bersemangat dalam bekerja. , tetapi keinginan yang berdasarkan dharma untuk mendapat pahala yang baik.

Didalam Manawa Dharmasatra betapa mulianya seorang perempuan, maka dari itu hendaknya setiap laki-laki menghormati perempuan untuk mendapatkan kebahagian, apa lagi akhir-akhir ini sering terjadi kekerasan terhadap perempuan, seyogianya laki-laki menerapkan ajaran bhagawan Manu ini, saya sebagai lelaki sangat tersentuh mebaca sloka-sloka di dalam buku ini.

Pada bagian ini banyak dicantumkan sloka-sloka yg begitu indah dan menarik untuk disimak serta masih relevan untuk diterapkan pada masa kini,mulai dari sloka-sloka kerja dan swadharma, landasan kerja dan swadharma sang catur warna .namun tidak saya tulis.

Kekurangan pada bagian ini , didalam kesetaraan gender tidak dibahas kewajiban seorang suami, pekerjaan laki-laki, kedudukan laki-laki dll. padahal seorang istri juga ingin tahu seperti apa kedudukan,kewajiban seorang suami, dll,

Tetapi menurut saya mungkin karena pengarang buku ini dan pengarang Manawa dharmasastra adalah laki-laki, terkadang juga saya sering bertanya dalam hati, kenapa jaman dulu tidak ada perempuan yg mengarang suatu kitab suci padahal perempuan mempunyai rasa keindahan dan berilmu juga (sepengeatahuan saya).

0 Komentar:

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts